Dalam Islam, perempuan merupakan salah satu ciptaan yang sangat dihormati. Banyak nash yang menceritakan tentang perempuan. Mulai dari penciptaannya, fungsi dan keutamaannya telah diterangkan dalam al-Quran dan Hadis. Setiap makhluk, Allah ciptakan dengan sifat dan fungsinya masing-masing. Antara perempuan dan laki-laki, tentu secara fisik tidak sama serta memiliki qadrat yang berbeda. Qadrat perempuan itu mengandung, melahirkan,  dan menyusui  sedangkan  laki-laki  tidak  ditakdirkan  untuk itu, namun dibebankan dengan hal lain, seperti kewajiban mencari nafkah untuk keluarganya.

Penyebutan al-mar’ah / an-nisa dalam al-Quran dan Hadis tidak sulit untuk kita jumpai, bahkan dalam beberapa perkara Rasul sering menyebut perempuan dalam sabdanya. Misalnya perempuan dalam agama, adab perempuan, hak waris anak perempuan, dan masih banyak lainnya. Hadis Rasulullah telah menjelaskan banyak hal terkait itu, para ulama pun mempermudah kita memahaminya melalui  fatwa-fatwa dan penjelasan hukum yang terdapat pada kitab-kitab turast. Beruntungnya lagi, kita hidup di zaman yang sudah instan, khususnya bidang ilmu. Para  ulama  telah  menyajikan penjelasan tentang hadis-hadis nabawi dengan baik sehingga kita tinggal membaca dan memahaminya dengan mudah.

Sudah banyak hadis-hadis masyhur yang terdengar di kalangan masyarakat, sehingga  masyarakat  mulai  mempelajari  dan  mengamalkannya. Namun, tidak  semua Hadis yang beredar dimasyarakat bisa dipahami dan diamalkan dengan benar. Pemahaman yang salah ini, akan menuai perilaku serta pengamalan yang  keliru,  bahkan dapat menyesatkan. Diantaranya ada Hadis tentang penciptaan perempuan dari  tulang rusuk laki-laki.

Berikut    hadis   yang  diriwayatkan   oleh   Abu Hurairah bahwa Nabi pernah bersabda:

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ

Artinya: “Saling pesan-memesanlah untuk berbuat baik kepada perempuan, sesungguhnya ia diciptakan dari tulang rusuk . Dan jika kamu ingin meluruskannya, maka berati kamu mematahkannya, dan mematahakannya berati menceraikannya”. (HR. Bukhori)

Berangkat dari Hadis diatas, banyak masyarakat awam yang mengartikannya secara tekstual atau harfiyah. Hadis yang beredar ini memang  shohih  statusnya,  akan tetapi banyak yang masih keliru dalam memahaminya, sehingga keliru pula dalam mengamalkannya. Sering kali pemahaman yang dituturkan mengenai Hadis  ini bahwasanya, “wanita harus tunduk patuh kepada kaum laki-laki, karena ia tercipta dari bagian miliknya (laki-laki)”. Kemudian para bujang berkata, “Aku ingin mencari tulang rusukku yang telah  hilang”. Hadis  ini  kadang  juga  dijadikan  hujjah  bagi  kaum  laki-laki yang seakan menganggap perempuan merupakan makhluk yang lemah, sehingga banyak sekali sekarang pelecehan dan ketidak-adilan yang menimpa kaum perempuan karena laki-laki dianggap sebagai makhluk yang sempurna. Padahal Allah maha adil atas makhluknya. Selain keliru dalam memahaminya, adapun  yang  bertanya-tanya tentang kebenaran penciptaan perempuan tersebut. Apakah perempuan benar-benar tercipta dari tulang rusuk laki-laki, jika memang berati tulang rusuk laki-laki akan berkurang.

Dalam memahami Hadis ini para ulama  terbagi  menjadi  dua,  yaitu memahami secara tekstual (harfiyah) dan metafora (tasybih). Bagi ulama yang memahaminya secara tasybih, menganggap bahwa Hadis diatas  merupakan  peringatan agar menanggapi perilaku perempuan lebih sabar dan bijaksana, karena kecenderungan.

Sifat mereka yang tidak sama dengan laki-laki. Karena, pada hakikatnya perempuan tidaklah serta merta sengaja memiliki perilaku seperti itu dengan tujuan untuk merepotkan atau menyusahkan laki-laki. Akan tetapi, hal tersebut sudah  merupakan takdir Allah kepada perempuan atas kekurangan dan kelebihan yang telah ditetapkan padanya.

Dalam menanggapi fenomena yang tersebar di masyarakat ini, Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Cara Benar Memahami Hadis menerangkan cara memahami persoalan ini dengan secara detil. Hadis mengenai penciptaan perempuan  dari tulang rusuk laki-laki ini, terdapat dua riwayat sohih yang menjadi pegangan. Kedua riwayat tersebut tertulis dalam kitab-litab induk,5 seperti Musnad Imam Ahmad, Musnah al- Humaidi, Shahih Bukhori dan Muslim, dan masih banyak lainya. Redaksi Hadis yang Perempuan seperti tulang rusuk menunjukan jika dipaksa untuk meluruskan (tulang rusuk) nya akan patah, sedangkan jika dibiarkan (tulang rusuk) bengkok, maka ia akan terus bengkok. Dengan adanya hadis dengan redaksi seperti di atas, menunjukan bahwa tulang rusuk disini merupakan penjelas (mubayyin) dari hadis yang secara dzohir menyatakan bahwa perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki Berdasarkan kaidah الواضح يبين غيرالواضح، maka maksud  hadis  perempuan tercipta dari tulang rusuk adalah bahwa perempuan tercipta seperti  halnya  sifat  tulang  rusuk.  Berikut  hadis  yang  dianggap sebagai mubayyin oleh Kiai Ali Mustafa Ya’qub:

Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ كَالضِّلَعِ، إِذَا ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنْ تَرَكْتَهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ

 Artinya:“Sesungguhnya perempuan itu seperti tulang rusuk Jika kamu hendak meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Jika kamu membiarkannya, kamu dapat memanfaatkannya dengan keadaan yang bengkok”(HR. Muslim)

Selain hadis-hadis Rasulullah, adapun ayat yang mengatakan bahwa penciptaan manusia dari jiwa yang satu. Sebagaimana Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan mu dari seorang diri (nafs wahidah)…” (QS. An-Nisa:1)

Selain itu, Allah juga berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا

Artinya: “Allah telah menjadikan bagi kamu istri-istri kamu dari jenis kamu sendiri…(QS. An-Nahl:72)

 Jumhur Ulama Tafsir, seperti Ibn Katsir, Imam Qurthuby dan Ibnu Ajibah menafsirkan maka nafsu wahidah dalam ayat-ayat di atas  sebagai  jiwa  yang  satu, yaitu bahwa perempuan diciptakan dari bagian tubuh Adam, adapun perempuan yang dimaksud adalah Hawa. Namun, Alquran tidak secara tegas menjelaskan tentang penciptaan perempuan tidak sama dengan penciptaan laki-laki. Beberapa  unsur  yang  menjadi  objek  tafsiran dan bahan pertentangan para ulama dari ayat atau Hadis tersebut adalah kepada  siapa  dhammir itu ditujukan dan apa makna dari nafs wahidah itu sendiri.

Menurut Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwasanya ada empat konsep penciptaan manusia yang dimana keempat penciptaan ini melalui  proses  yang berbeda satu sama lain, sesuai kehendak Allah Swt. yaitu:

  1. Penciptaan Adam dari tanah, tanpa ayah
  2. Penciptaan Hawa melalui laki-laki tanpa
  3. Penciptaan Isa as melalui proses kehamilan tanpa laki-laki.
  4. Penciptaan manusia selain Adam dan Hawa dan Isa as, diciptakan melalui kehamilan dari hubungan ayah dan ibu secara

Sedangkan bagaimana bagi  yang  memahami  bahwa  Hawa  diciptakan  dari tulang rusuk Adam? Penciptaan tentang Hawa tidak  ditemukan  keterangannya  secara pasti dalam al-Quran, kecuali yang  diriwayatkan  oleh  Abu  Hurairah  ra  bahwa Rasulullah bersabda “Perempuan tercipta dari tulang  rusuk”,   “Perempuan  itu seperti tulang rusuk”,  dan juga Hadis “Perempuan  itu  dijadikan dari  tulang rusuk”. Berdasarkan tiga Hadis sahih diatas, Dr. Hamka memandang ketiga Hadis  ini tidak dapat dijadikan pegangan bahwa Hawa diciptakan dari  tulang  rusuk. Beliau merasa tepat jika menafsirkan makna tulang rusuk diatas sebagai sebuah sifat atau karakter (kaum) Hawa, alias  sifat  mereka  yang  cenderung subjektif. Terlepas  dari  makna hakiki Hadis tersebut, yang pasti Hawa pun diciptakan oleh Allah.

Beberapa mufassir  lain,  seperi  Musthafa  al-Maraghi  dalam  karyanya  pun tidak mendukung pemahaman yang beranggapan bahwa Hawa diciptakan  dari tulang rusuk laki-laki. Begitupun juga Rasyid Ridha. Dalam tafsir Mizan,  Thabathaba’i  sama sekali tidak mendukung bahwa perempuan (Hawa) tercipta dari jenis  yang  berbeda dengan penciptaan Adam.Pendapat seperti itu antara lain tidak lepas dari tidak masuk akalnya konteks perempuan tercipta dari tulang rusuk laki-laki.

 

Dari perbedaan pendapat para ulama disini dapat disimpulkan, bahwa penciptaan Adam dan Hawa bukanlah sesuatu hal yang disepakati. Sebab, boleh jadi Hawa diciptakan dari unsur yang sejenis dari penciptaan  Adam,  yaitu  tanah,  karena  Adam tidak tercipta dari api ataupun cahaya, sehingga Adam dan Hawa dapat hidup berdampingan dengan  nyaman.  Adapun  hadis-hadis  yang  menyatakan  Hawa  diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, boleh jadi Hadis tersebut  dipahami atau dimaknai secara metafora (tasybih) sebagaimana terdapat riwayat yang mengatakan bahwa perempuan itu bagaikan tulang rusuk (bengkok).

Istifadah yang dapat kita petik dari permasalahan di atas adalah  tak lain adalah Allah dan Rasulnya ingin mengingatkan kaum  Adam  bahwa  perempuan  memiliki sifat dan karakternya sendiri, sehingga mereka diperintahkan untuk berperilaku lemah lembut terhadap kaum Hawa yang sifat dan karakternya dinisbatkan  pada  sebuah tulang rusuk yang bentuknya bengkok. Sedangkan secara biologis, pembentukan perempuan itu sama seperti pembentukan laki-laki, yaitu dari air mani dan berproses dalam rahim perempuan kemudian  lahir  sebagai bayi pada umumnya.  Sebagai muslim kita wajib mengimani apa yang ada dalam al-Quran dan Hadis Nabi, namun tak jadi masalah  bila  seseorang mengambil salah satu dari kedua pendapat yang ada.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Sumber      :

  • Ali Mustafa Yaqub, Cara Benar Memahami Hadis
  • Tafsir Alquran Tematik Kedudukan dan Peran Perempuan, Kementrian Agama RI
  • Zaitunnah Subhan, Alquran dan Perempuan Menuju Kesetaraan Gender dalam Penafsiran
  • Ibn Katsir, Tafsir Alquran alKarim al Adzim, Sulaiman Mar’I
  • Anwar Sutoyo, Manusia Dalam Perspektif Alquran
  • Musthafa al-Maghari, Tafsir al-Maraghi
  • M. Husain at-Thabathaba’I, Tafsir Mizan,