Artikel Utama, Sejarah, Sosial Politik

Pesantren dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Penulis: rifqi iman salafi · 2 min read

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus tidak terjadi secara instan. Proklamasi merupakan salah satu dari rangkaian peristiwa menuju hari-hari merdeka dewasa ini. Sebelumnya, banyak terjadi peristiwa yang menjadi susunan anak tangga menuju hari bersejarah tersebut. Kita ambil contoh: Perang Aceh, Perang Diponegoro, Pemberontakan Petani Banten, Sumpah Pemuda I & II, dll. Peristiwa-peristiwa tersebut tentu memiliki mastermind yang kuat.


Indonesianis asal Amerika Serikat, Benedict Anderson, dalam karyanya, Revoloesi Pemoeda, meyakini bahwa pemuda merupakan sosok kunci Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Buku ini membahas pendudukan dan perlawanan terhadap Jepang di Jawa pada masa Revolusi (lebih tepatnya 1944-1946). Karena ia fokus pada perlawanan terhadap Jepang di Jawa, Ben juga membahas mengenai fase kehidupan pemuda Jawa pada masa itu. Menurutnya, pesantren merupakan lembaga yang vital dalam pembentukan kepribadian pemuda pada masa-masa menjelang kemerdekaan (halaman 2-10).

Nyantri: Fase transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa

Anak laki-laki di Jawa yang telah melaksanakan proses khitan berarti telah masuk ke transisi menuju kedewasaan. Ia harus lepas dari kasih sayang orang tua dan pergi dari rumah untuk menepi dari masyarakat untuk sementara waktu. Kepergian anak yang beranjak dari masa kanak-kanak ke periode dewasa ini bertujuan untuk mencari guru yang bersedia mengajarkannya ilmu, baik lahir ataupun batin. Lembaga paling galib dalam menampung minat ini adalah pesantren.

Pensiunan profesor Universitas Cornell ini berpandangan bahwa ada beberapa faktor yang menjadikan pesantren sebagai lembaga yang vital bagi pengembangan kepribadian pemuda, di antaranya adalah letak, kebiasaan sehari-hari, semangat, dan bentuk lembaga pesantren. Letak pesantren yang kebanyakan terpencil atau setidaknya berada di pinggiran pemukiman warga bukanlah sesuatu yang tidak disengaja. Keterpencilan secara fisik menyimbolkan ‘uzlah pemuda dari masyarakat sekaligus memperkuat mereka ketika menjalani kehidupan bermasyarakat.

Baca Juga:   Fleksibilitas Fikih Dalam Menjawab Problematika Umat

Pesantren juga merupakan kawah candradimuka bagi pemuda dalam pembentukan otonomi ekonomi dan perwujudan etos kerja yang tangguh. Kiai selaku guru, akan melatih para santri untuk memelihara ternak, mengolah sawah, memproses hasil panen, dan memasak makanan mereka secara mandiri. Meski tidak mendapatkan upah berupa uang sama sekali, selain mendapat ilmu lahir dan batin, mereka juga akan mendapatkan keterampilan bertahan hidup primer.


Empat semangat pesantren

Mengutip Samuja Asy’ari, Benedict juga menguraikan empat semangat yang  mengakar pada pesantren: kesederhanaan, semangat kerja, solidaritas, dan keikhlasan. Kesederhanaan yang timbul dari masyarakat pesantren bukan hanya reaksi dari ketertutupan hidup sekumpulan lelaki bujangan, melainkan juga bentuk ‘uzlah dari hierarki kehidupan masyarakat serta pencarian makna hidup yang lebih dalam daripada apa yang mereka dapat dari hubungan sosial. Semangat kerja dan solidaritas menunjukkan luruhnya keakuan kepada campuran bernama kebersamaan yang senantiasa gerakannya berorientasi kepada hakikat hidup.

Dalam konsep keikhlasan, ikatan yang kuat muncul antara, bukan hanya sesama santri, melainkan juga santri dan gurunya, kiai. Sang santri tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat dan berkah jika ia tidak ikhlas mengabdi kepada kiainya. Dalam hal ini, keintiman santri dengan kyai, yang merupakan ayah ideologisnya, akan hadir, bahkan keintiman ini lebih hangat daripada keintiman santri dengan ayah biologisnya sendiri.

Kesadaran beragama dan pengabaian temporal adat masyarakat 

Ben juga secara jujur mengungkapkan bahwa pesantren juga memunculkan kesadaran beragama yang tinggi pada santri meski dibarengi dengan pengabaian pada adat masyarakat. Untungnya, perilaku ini hanya sementara dan akan hilang sekembalinya santri ke masyarakat. Masih mengenai ‘uzlah sebagai jalan hidup santri. Keadaan santri yang demikian membuat beberapa santri mempunyai ilmu supranatural (kalangan santri menyebutnya ilmu hikmah) dan dengan sendirinya menjadikan pesantren menjadi pusat ilmu yang tak bisa dinalar akal.

Baca Juga:   Keistimewaan Bulan Sya'ban yang Terlupakan



Santri keliling

Fase nyantri ini, bagi sebagian besar pemuda Jawa, hanya berlaku untuk sementara. Belajar dan tinggal di pesantren, dalam pandangan mereka, hanya sekadar memenuhi tuntutan norma yang ada pada masyarakat saat itu. Namun, bagi sebagian yang lain, fase ini mereka jalani dalam masa yang lebih lama lagi, bahkan dipilih menjadi jalan hidup permanen. Masyarakat Jawa menyebutnya santri keliling. Mereka akan berkelana mencari guru dengan ilmu yang mereka butuhkan sembari mempraktekkan ilmu yang mereka peroleh, termasuk ilmu supranatural dan kanuragan. Santri model ini berkelompok terdiri dari beberapa santri muda yang dimentori beberapa santri yang lebih senior. Ben juga menyebutkan bahwa sebagian mereka juga kadang membuat onar.

Mereka, menurut Benedict, adalah salah satu dalang di balik pemberontakan-pemberontakan kecil petani melawan pemerintah kolonial Belanda. Mereka juga turun ke medan laga saat kericuhan melawan penjajah Jepang yang berkedok “Saudara Tua” meletus di mana-mana. Pemerintah pendudukan mengalami kesulitan dalam memberantas mereka karena mereka memiliki sistem kerja seperti “sleeper cell.” Mereka akan menjadi masyarakat sipil biasa saat keadaan normal. Namun, mereka akan beraksi dengan brutal ketika revolusi berkobar. Santri-santri pengelana ini, meski tak banyak tercatat, mempunyai andil yang besar dalam huru-hara revolusi Indonesia yang mengantarkan kita pada kemerdekaan dewasa ini.

rifqi iman salafi
Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Santri Darus-Sunnah Ciputat dan Al Hikmah Brebes, Milanisti dan Hooligan. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.