Pesantren Go Internasional: Langkah Darus-Sunnah Menembus China

Majalahnabawi.com – Pondok Pesantren Darus-Sunnah Ciputat turut mengambil peran aktif dalam langkah strategis penguatan jejaring internasional pesantren melalui partisipasi dalam program kolaborasi global yang diinisiasi oleh Forum Percepatan Transformasi Pesantren bersama Yayasan Hezuo Adidharma Sutra Indonesia. Kegiatan ini diwujudkan melalui kunjungan resmi ke Chongqing, Tiongkok, yang berlangsung selama sepekan, 19–26 April 2026.
Kolaborasi pesantren menuju dunia internasional
Dalam agenda tersebut, Darus-Sunnah bersama sejumlah pesantren lain dari berbagai daerah di Indonesia menjajaki peluang kerja sama lintas negara. Khususnya dalam bidang pendidikan, teknologi, dan pengembangan budaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kolektif untuk mendorong transformasi pesantren agar semakin adaptif dan kompetitif di tingkat global.
Salah satu fokus utama kunjungan adalah membuka akses pendidikan internasional bagi para santri. Skema yang tengah dikembangkan mencakup peluang studi di Chongqing melalui jalur beasiswa maupun pembiayaan mandiri. Selain itu, program penguatan kapasitas sumber daya manusia pesantren juga menjadi perhatian. Salah satunya melalui penyelenggaraan kursus Bahasa Mandarin bagi pengelola dan pengasuh pesantren yang dilaksanakan secara daring.
Kerja sama ini turut melibatkan Dongxueji, sebuah institusi pendidikan yang menerapkan sistem boarding school yang memiliki kemiripan dengan konsep pesantren di Indonesia. Kesamaan ini membuka ruang kolaborasi yang potensial dalam pengembangan model pendidikan berbasis asrama lintas negara.
Berkunjung ke Sektor-sektor Strategis di Chongqing
Selama berada di Chongqing, delegasi juga melakukan kunjungan ke berbagai sektor strategis. Mulai dari industri alat pertanian modern, perusahaan teknologi tinggi, hingga lembaga kebudayaan lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan pesantren agar tidak hanya unggul dalam tradisi keilmuan, tetapi juga mampu merespons perkembangan teknologi dan dinamika global.
Pengasuh Darus-Sunnah Ciputat, KH. Zia Ul Haramein, menegaskan bahwa keikutsertaan dalam program ini menjadi bukti konkret bahwa pesantren mampu tampil di kancah global. “Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa pesantren mampu berinteraksi dan berkiprah di kancah internasional. Pesantren bukan hanya harus menjaga tradisinya, tapi juga harus mampu merespon kemajuan zaman seperti berbahasa dan teknologi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa kerja sama internasional ini juga menjadi dorongan moral bagi para santri untuk memperluas cita-cita mereka. “Ini juga sebagai motivasi penting bagi santri bahwa peluang mereka untuk go internasional semakin terbuka luas dengan adanya kerja sama semacam ini,” tambahnya.
Menurut KH. Wahid Nuruddin pengurus yayasan wakaf Darus-Sunnah, penting bagi pesantren untuk membangun kesinambungan sanad tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam bidang sains dan teknologi, sebagaimana yang tengah dijajaki melalui jejaring ke Yunnan dan Dongding. Beliau menekankan bahwa di era modern, pesantren tidak cukup hanya kuat dalam tradisi keilmuan agama, tetapi juga perlu memperkuat dua pilar penting tersebut agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Adapun dari Darus-Sunnah Ciputat, kegiatan ini diikuti oleh sejumlah perwakilan, yakni KH. Zia Ul Haramein, KH. Wahid Nuruddin, serta Ust. Tubagus Hasan Bashri.
Jejaring internasional untuk masa depan santri
Melalui momentum ini, Darus-Sunnah memandang bahwa kolaborasi internasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah strategis dalam membentuk karakter santri yang adaptif terhadap perubahan zaman. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, santri dituntut tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu keislaman, tetapi juga memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan dunia luar secara terbuka dan konstruktif.
Keikutsertaan dalam forum internasional ini juga menjadi bukti konkret bahwa pesantren Indonesia memiliki potensi besar untuk tampil di panggung dunia. Selama ini, pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang kuat dalam tradisi keilmuan klasik. Namun, melalui keterlibatan aktif dalam kerja sama lintas negara, pesantren menunjukkan kemampuannya untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan berkontribusi dalam dinamika global.