Sering dengar ungkapan seperti pukulan maut, tapak sakti, dan sederet nama pukulan, ajian, kesaktian, keahlian atau kekuatan yang mengandalkan tangan? Semua ini menegaskan betapa tangan menjadi bagian terpenting dari suatu kekuatan. Maka ketika berbicara otot yang kuat salah satunya disimbolkan dengan lomba panco yang mengandalkan kekuatan tangan.

Allah SWT dalam al-Qur’an berfirman: yadulllah fauqa aidīhim (يد الله فوق أيديهم), bahwa “tangan” Allah di atas tangan mereka. Secara teologis, menyatakan Allah SWT bertangan adalah keliru, karena pernyataan tersebut sama halnya dengan menyamakan Sang Khaliq dengan makhluk-Nya. Allah berfirman: Laisa kamitslihi syai’un (ليس كمثله شيئ), Allah SWT tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. Hal ini mutlak dan tidak bisa ditawar.

Berbicara tentang tangan sebagai simbol suatu kekuatan dan kaitannya dengan ayat di atas, maka intinya adalah terletak pada kata yad (يد). Yad di sini jika dimaknai secara tekstual akan membuat pemahaman bahwa ayat tersebut menjadi sempit dan kaku. Dan akan sulit dijelaskan maksud ayat tersebut selain pemahaman bahwa tangan Allah tidak seperti tangan makhluk-Nya.

Namun, tetap saja pemaknaan seperti ini akan menimbulkan permasalahan dan berimplikasi tajsīm (menjisimkan Tuhan/Allah). Menghindari pemaknaan keliru seperti ini, ulama Ahlussunnah wal jama’ah menakwil arti kata yad dalam ayat tersebut dengan makna kekuasaan atau kekuatan, dan masih banyak makna lainnya. Pemaknaan kontekstual seperti ini lebih tepat dan aman dari unsur tajsīm, juga selaras dengan nama Allah al-Qāwiy (Maha Kuat) dan al-Mālik (Maha Berkuasa) dalam al-asma’ al-husna.