‹ Kembali ke Beranda

Ragam Pemaknaan “Tangan” Tuhan

Oleh Muhammad Ali Wafa, Lc., S.S.I·4 Mei 2017·142
Ragam Pemaknaan “Tangan” Tuhan

Sering dengar ungkapan seperti pukulan maut, tapak sakti, dan sederet nama pukulan, ajian, kesaktian, keahlian atau kekuatan yang mengandalkan tangan? Semua ini menegaskan betapa tangan menjadi bagian terpenting dari suatu kekuatan. Maka ketika berbicara otot yang kuat salah satunya disimbolkan dengan lomba panco yang mengandalkan kekuatan tangan.

Allah SWT dalam al-Qur’an berfirman: yadulllah fauqa aidīhim (يد الله فوق أيديهم), bahwa “tangan” Allah di atas tangan mereka. Secara teologis, menyatakan Allah SWT bertangan adalah keliru, karena pernyataan tersebut sama halnya dengan menyamakan Sang Khaliq dengan makhluk-Nya. Allah berfirman: Laisa kamitslihi syai’un (ليس كمثله شيئ), Allah SWT tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya. Hal ini mutlak dan tidak bisa ditawar.

Berbicara tentang tangan sebagai simbol suatu kekuatan dan kaitannya dengan ayat di atas, maka intinya adalah terletak pada kata yad (يد). Yad di sini jika dimaknai secara tekstual akan membuat pemahaman bahwa ayat tersebut menjadi sempit dan kaku. Dan akan sulit dijelaskan maksud ayat tersebut selain pemahaman bahwa tangan Allah tidak seperti tangan makhluk-Nya.

Namun, tetap saja pemaknaan seperti ini akan menimbulkan permasalahan dan berimplikasi tajsīm (menjisimkan Tuhan/Allah). Menghindari pemaknaan keliru seperti ini, ulama Ahlussunnah wal jama’ah menakwil arti kata yad dalam ayat tersebut dengan makna kekuasaan atau kekuatan, dan masih banyak makna lainnya. Pemaknaan kontekstual seperti ini lebih tepat dan aman dari unsur tajsīm, juga selaras dengan nama Allah al-Qāwiy (Maha Kuat) dan al-Mālik (Maha Berkuasa) dalam al-asma’ al-husna. 

Dari penjelasan makna kontekstual ini, kita juga dapat membaca kaitan makna yad (tangan) secara tekstual dan kontekstual, bahwa tangan adalah simbol dari suatu kekuatan dan kekuasaan. Kita mendapati ungkapan seperti si tangan besi yang berarti orang yang kuat atau orang yang memiliki kekuasaan.

Oleh karena itu, hadis tentang mengubah kemungkaran dengan tangan (من راى منكم منكرا فليغير بيده) mengandung dua unsur makna, yaitu makna tekstual dan kontekstual. Makna tekstualnya berarti mencegah perbuatan jahat secara langsung dengan menggunakan tangan dan segenap anggota badan. Ada kontak fisik yang terjadi dalam bentuk nahi mungkar seperti ini. Adapun secara kontekstual, makna hadis tersebut seperti mencegah kemungkaran melalui pemimpin yang berkuasa atau sistem pemerintahan. Melalui kekuasaan atau pemerintah, kemungkaran dapat dicegah tanpa ada sedikitpun kontak fisik. Di sinilah fungsi power (kekuatan) pemerintah.

Adam Smith dalam buku The Wealth of Nation menjelaskan bahwa pada ekonomi ada yang namanya invisible hand (tangan-tangan tak terlihat). Infisibel hand yang dimaksud bisa berupa sistem, mekanisme pasar bebas, atau pengendali pasar, di mana dalam aktivitas ekonomi atau bisnis ada kekuatan yang tidak tampak dan tidak terlihat. Di sini dapat kita baca bahwa makna tangan bukan makna tangan yang sebenarnya, tetapi lebih kepada makna metafora. Oleh karena itu, invisibel hand di dalam Islam diistilahkan dengan makna kuasa Tuhan.

Oleh karena itu, di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti tangan selain bermakna anggota badan dari siku/pergelangan sampai ujung jari, juga bermakna kekuasaan, pengaruh dan perintah. Dari penjelasan ini, jelaslah bahwa makna tangan itu bisa berupa makna aslinya yaitu anggota badan dari siku sampai ujung jari. Tetapi tangan juga bisa bermakna lain atau tidak bermakna sebenarnya, hal ini tergantung pada konteks dan kebutuhannya.

Sebagai penutup, saat ini kekuatan dan kekuasaan terhebat itu disimbolkan dengan kekuatan militer, ekonomi, dan intelektual. Porsi tangan sangat besar pada ketiganya itu, tangan yang berarti kekuasaan dan kekuatan.

Maka dari itu, Tangan Tuhan bukan tangan yang berlengan dan berjari-jari. Tetapi Tangan Tuhan adalah kekuatan atau kekuasaan-Nya. Wallahu a’lam bisshawab

 

Bagikan: