‹ Kembali ke Beranda
Opini

Rusaknya Alam Tanda Rusaknya Akhlak Manusia

Oleh Naila Isnaini·6 Februari 2026·42
Rusaknya Alam Tanda Rusaknya Akhlak Manusia

Majalahnabawi.com – Manusia fokus memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan dirinya, tetapi terkadang lupa di mana ia tinggal, dari mana makanan dan minuman ia dapatkan dan juga bagaimana cara mereka menghirup oksigen. Mereka merasa bahwa jika mereka taat kepada syariat mereka lepas dari murkanya Allah Ta’ala, dan jika mereka berbuat baik mereka tidak akan dijauhi oleh teman. Perlahan kepedulian mereka tentang lingkungan menurun, lalu menghilang mulai dari hal kecil, seperti buang sampah sembarangan sampai menggarap hutan. Itu semua mereka lakukan tanpa berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jelasnya Perintah Menjaga Lingkungan

Pertanyaannya, mengapa banyak manusia yang lalai bahkan tega merusak lingkungan sekitar? Karena hubungan yang satu ini tak terasa romantis, tidak terlihat wujudnya sehingga kepedulian manusia terhadap lingkungan itu rendah. Hubungan yang satu ini dengan sesuatu yang hidup tapi tak terasa kehidupannya tapi tidak mati hakikatnya.

Lingkungan yang sehat memberikan kita banyak manfaat, seperti asal makanan dan kenyamanan. Allah Ta’ala melarang merusak lingkungan dalam firmannya :

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S al-A’raf [7]: 56).

Larangan yang diperintahkan adalah sebuah hubungan simbiosis mutualisme antara manusia dengan lingkungannya seperti, tanaman dan tumbuhan memberikan kenyamanan dan sumber makanan bagi manusia sedangkan manusia menjaga mereka tetap hidup. Bukan hanya dengan tumbuhan, dengan hewan pun termasuk menjaga hubungan dengan alam. Alam mempunyai keseimbangannya juga yang berdampak bagi manusia jadi seharusnya manusia menjaganya.

Bukan Lalai, Tapi Maruk

Ada satu kelompok yakni mereka tidak seperti kebanyakan manusia yang lalai, melainkan tak peduli dan malah memandang lingkungan sebagai objek pendapatan mereka bukan tempat tinggal mereka, terlebih jika rumah mereka bukan di daerah tersebut jadi untuk apa peduli?

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَالْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَاتُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖۚ وَالَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًاۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ

“Tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur seizin Tuhannya. Adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami jelaskan berulang kali tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S al-A’raf [7]: 58).

Bahkan di antara mereka ada yang paham tentang bagaimana seharusnya lingkungan itu dijaga tapi pengetahuan mereka malah dimanfaatkan untuk memperlimpah penghasilan mereka dengan sengaja.

Lalai, tidak peduli, dan serakah adalah perilaku buruk yang menyebabkan lingkungan semakin rusak. Menjaga alam sama dengan menjaga hubungan dengan Allah juga hubungan dengan manusia, terutama diri sendiri. Tanggung jawab alam ada di tangan manusia karena manusialah pemimpin di bumi ini. Allah berfirman:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S al-Baqarah [2]: 30).

Sebelum manusia Allah ciptakan, para malaikat tahu bahwa manusia hanya akan merusak bumi tapi Allah ta’ala lebih mengetahui juga ada Sebagian manusia yang sadar dan menjaga lingkungan, meskipun hanya sedikit.

Bukan Hanya untuk Kita, tetapi Generasi Selanjutnya

Rusaknya alam seharusnya menjadi pengingat bahwa alam juga makhluk hidup. Bencana yang timbul adalah bentuk pertahanan juga pembalasan alam karena telah rusak oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Lingkungan yang rusak menimbulkan bencana alam, bahkan merenggut nyawa manusia. Kita menjaga alam kita seakan merawat dan menjaga manusia lainnya hingga generasi selanjutnya. Allah berfirman:

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا ۗوَلَقَدْ جَاۤءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَرْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

“Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas.Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” (Q.S al-Maidah [5]: 32).

Kelalaian dan ketidak pedulian terhadap lingkungan menimbulkan dampak bencana alam yang dapat mengambil nyawa manusia, jadi apa benar kita seakan-akan membunuh yang lain? Lebih baik kita termasuk orang-orang yang memelihara alam dan melindungi isinya. 

Bagikan: