‹ Kembali ke Beranda
Opini

Sebenarnya Hantu Itu Ada atau Tidak, Sih?

Oleh Abil Qasim·22 Januari 2026·35
Sebenarnya Hantu Itu Ada atau Tidak, Sih?

Majalahnabawi.com – Sejak masa awal peradaban, manusia telah meyakini adanya kekuatan-kekuatan tak kasat mata yang memengaruhi kehidupan mereka. Kepercayaan terhadap roh, jin, dan makhluk halus sudah diyakini hampir di setiap kebudayaan, dari Mesir kuno hingga peradaban Arab pra-Islam. Sintesis dari berbagai pemikiran filsafat, sosiologi, dan pandangan keagamaan, menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial sekaligus spiritual.

Islam dan Pelurusan Makna Gaib

Namun, Islam hadir untuk mengajarkan atau meluruskan pandangan tentang hal-hal gaib dengan menegaskan batas antara iman kepada yang gaib dengan takhayul dan syirik khafi (kesyirikan tersembunyi). Rasulullah ﷺ datang membawa risalah tauhid yang tegas menolak segala bentuk keyakinan terhadap “kesialan”, ramalan, dan mitos yang diwariskan dari kepercayaan jahiliah. Dalam sebuah hadis sahih beliau bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

 “Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada tathayyur (merasa sial karena pertanda), tidak ada burung hantu (yang membawa sial), dan tidak ada bulan ṣafar (yang dianggap naas).” (HR. al-Bukhari, no. 5707; Muslim, no. 2220).

Tathayyur: Keyakinan Sial yang Ditolak Islam

Dalam masyarakat Arab jahiliah, ternyata keyakinan terhadap tanda-tanda kesialan atau keberuntungan begitu kuat (bukan hanya di Indonesia). Mereka memercayai bahwa burung tertentu misalnya, terutama burung hantu (al-hāmah), membawa pertanda kematian bila bertengger di atap rumah seseorang. Kepercayaan semacam ini disebut tathayyur, dan dalam Islam termasuk bentuk kesyirikan kecil. Syaikh ‘Abdu al-Raḥmān ibn Ḥasan Āl al-Syaikh dalam Fathu al-Majīd menjelaskan:

الطِّيَرَةُ: هِيَ التَّشَاؤُمُ بِمَا يُرَى أَوْ يُسْمَعُ، وَأَصْلُهَا مِنَ الطَّيْرِ، وَإِنَّمَا كَانَتِ الْعَرَبُ تَتَيَمَّنُ أَوْ تَتَشَاءَمُ بِالطَّيْرِ

 “Tathayyur ialah merasa sial karena sesuatu yang dilihat atau didengar. Istilah ini berasal dari kata ‘ṭayr’ (burung), karena orang Arab dahulu mengambil pertanda baik atau buruk dari arah terbang burung.” (ʿAbd al-Raḥmān ibn Ḥasan Āl al-Syaikh, Fath al-Majīd Syarḥ Kitāb al-Tawḥīd, Riyadh: Dār al-Salām, 1999, h. 345).

Islam menegaskan bahwa semua bentuk kesialan atau keberuntungan tidak berasal dari benda, hewan, atau waktu, melainkan dari ketentuan Allah semata. Nabi ﷺ bersabda:“Tathayyur adalah kesyirikan.” (HR. Abu Dawud, no. 3910; al-Tirmidzi, no. 1614). 

Perkembangan ilmu pengetahuan modern mengatakan, konsep tathayyur, keyakinan terhadap energi negatif, hari sial, atau benda pembawa keberuntungan itu pada hakikatnya adalah warisan dari budaya pra-tauhid (nenek moyang).

Mitos Makhluk Penyesat Musafir

Salah satu istilah yang sering disalahpahami adalah al-ghul, yaitu tentang makhluk halus yang diyakini oleh orang Arab dulu dapat menyesatkan musafir di padang pasir. Dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَلَا غُولَ

 “Tidak ada penularan (tanpa izin Allah), tidak ada tathayyur, tidak ada hāmāh, tidak ada ṣafar, dan tidak ada ghul.” (HR. Muslim, no. 2222). 

Ibn al-Atsir menjelaskan makna ghul ini dalam al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth dengan:

الغُولُ: جِنِّيَّةٌ كَانُوا يَزْعُمُونَ أَنَّهَا تَتَعَرَّضُ لِلنَّاسِ فِي الْفَلَوَاتِ فَتَتَمَثَّلُ فِي صُوَرٍ تُغْوِي بِهَا السَّائِرِينَ

“Al-ghul adalah jin betina mereka (orang Arab) meyakini bisa menampakkan diri kepada manusia di padang pasir dalam berbagai wujud untuk menyesatkan mereka.” (Ibn al-Atsir, al-Nihāyah fī Gharīb al-Ḥadīth wa al-Atsar, Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1979, jld. 3, h. 682.).

Hadis yang menafikan ghul bukan berarti menolak keberadaan jin, tetapi menolak keyakinan bahwa makhluk tersebut memiliki kekuasaan untuk menyesatkan manusia tanpa izin Allah. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ justru memerintahkan:

إِذَا تَغَوَّلَتِ الْغِيلَانُ فَأَذِّنُوا

 “Jika kalian diganggu oleh ghilan, maka adzanlah.” (HR. Muslim, no. 2222)

Perintah ini menunjukkan bahwa gangguan dari makhluk halus bisa diatasi dengan zikir dan doa, bukan dengan benda-benda magis atau jimat. Kita tahu, bahwa iman kepada jin merupakan bagian dari rukun iman kepada hal-hal gaib. 

Jin dalam Al-Quran

Allah berfirman dalam QS. al-Hijr [15]: 26–27: “Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan jin telah Kami ciptakan sebelumnya dari api yang sangat panas.”

Ayat ini secara eksplisit menegaskan keberadaan jin sebagai makhluk yang diciptakan sebelum manusia. Sehingga keberadaan jin tidak bisa kita tolak. Kalau menolak keberadaan jin berarti kita menolak apa yang dikatakan Al-Qur’an.

Kiai Ahmad Miftah al-Amir menjelaskan bahwa jin dan setan adalah makhluk yang nyata, bukan arwah orang mati sebagaimana yang diyakini sebagian masyarakat. beliau menulis: “Tidak memercayai keberadaan jin berarti menolak wahyu, sebab keberadaan mereka dinyatakan dengan tegas dalam banyak ayat Al-Qur’an.” (Ahmad Miftah Al-Amir, Ceramah Aqidah Islamiyyah, Kudus: Pesantren Al-Ma‘arif, 2020.). Meskipun Islam mengakui keberadaan jin, tidak semua fenomena yang dianggap “gangguan makhluk halus” berasal dari mereka. Banyak di antaranya dapat dijelaskan secara rasional dan medis.

Masalah ketakutan, kesialan, dan gangguan spiritual itu bisa diatasi dengan tauhid dan dzikir kepada Allah. Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَاكَ

 “Barang siapa singgah di suatu tempat lalu berkata: ‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya,’ maka tidak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya hingga ia meninggalkan tempat itu.” (HR. Muslim, no. 2708). 

Kesimpulannya, sebagian kepercayaan terhadap roh dan hantu hanyalah hasil imajinasi, ketakutan, atau sugesti yang terbentuk karena tradisi dan lingkungan. Namun, Islam tidak menolak hakikat bahwa jin memang bisa berinteraksi dengan manusia, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Majmūʿ al-Fatāwā. Islam datang untuk memadukan antara pengakuan terhadap realitas gaib dan penolakan terhadap takhayul.



Bagikan: