Majalahnabawi.com – Ibu adalah wanita yang melahirkan seseorang atau sebutan untuk orang yang sudah bersuami, begitu arti ibu versi KBBI. Dalam bahasa arab disebutjan dengan kata al-Um. Al-Quran beberapa kali menyebutkan, salah satunya dalam surah Luqman ayat 14:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Ayat ini melanjutkan sebelumnya, yaitu cerita Lukman yang berwasiat kepada anaknya untuk tidak menyekutukan Allah. lawan dari menyekutukan adalah mengesakan Allah, dikenal dengan tauhid dalam Islam. Tauhid adalah pokok ajaran Islam sendiri sehingga hal ini penting untuk disampaikan kepada anak oleh orang tua.
Tidak kalah pentingnya dari tauhid itu adalah wasiat yang disampaikan oleh Lukman pada anaknya untuk berbakti kepada orang tua dalam ayat ini sebagai lanjutan ayat sebelumnya. Imam Fakruddin Ar-Razi (w. 606 H) menjelaskan dalam kitabnya Mafatihul Ghaib bahwa mengabdi (khidmah) hampir sama dengan menyembah dalam gambarannya, namun khidmah tidak dilarang, bahkan diwajibkan, seperti mengabdi pada orang tua.
Ar-Razi melanjutkan, sebab tidak dilarangnya mengabdi karena ibunya telah mengandungnya (حَمَلَتْهُ أُمُّهُ) yang dimaksud dari potongan ayat ini adalah karena dengan mengandung itu nampak adanya seorang anak dan dengan menyusui terdapat penjagaan dan pengajaran. Meskipun hamil dan menyusi bukan hakikat dari anugerah penciptaan dan penjagaan manusia karena pengadaan dan penjagaan adalah menrupakan anugerah dari Allah Swt kepada hamba-Nya. Sehingga dengan anugerah ini para hamba-Nya harus menggunakannya untuk beribadah atau yang serupa dengan ibadah, yaitu berbakti kepada orang tua.
Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (w. 275 H):
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ، إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang anak dapat membalas jasa orang tuanya sehingga ia (anak tersebut) mendapatkan orang tuanya sebagai budak kemudian ia membelinya dan memerdekakannya’
Untuk membalas jasa seorang ibu dan ayah dijelaskan dengan membeli orang tuanya yang menyandang status budak lalu memerdekannya. Ada sebuah makna dalam ungkapan Rasulullah Saw tersebut, adalah bahwa dalam berbakti pada keduanya harus dengan ketulusan, sebagaimana membeli seorang budak lalu dimerdekakan dengan cuma-cuma yang pada dasarnya orang membeli budak pada waktu itu untuk diambil manfaat dari budak tersebut.
Mengakhiri tulisan ini, saya menutup dengan sebuah ungkapan lama dalam bahasa Madura, mon anak gegger ka somor reng towah langsung aloncak, tape mon reng towah se gegger ka somor anak gik nyare andeh (kalau seorang anak jatuh ke dalam sumur orang tua akan langsung loncat untuk menyelamatkannya, berbeda ketika orang tua yang jatuh, seorang anak masih mencari tangga untuk menyelamatkannya).
Dari ungkapan ini saya paham mengapa jasa dari seorang ibu dan bapak tidak dapat dibalas oleh seorang anak meski dengan perlakuan atau biaya yang sama, karena nilainya bukan pada kuantitas dari prilaku ibu dan bapak, tapi pada kualitasnya, tak lain adalah ketulusa.
Maka berbakti kepada keduanya tidak cukup dengan sepanjang hidup kita, apalagi hanya satu hari, di tanggal 22 Desember ini. Selamat hari Ibu semuanya. Semoga bakti kepada keduanya setiap saat, tidak terbatas.