‹ Kembali ke Beranda
Opini

Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Islam

Oleh Siti Zakiyah As'ad·20 Februari 2026·91
Tazkiyatun Nafs dalam Perspektif Islam

Konsep Dasar Tazkiyatun Nafs

Majalahnabawi.com Konsep dasar tazkiyatun nafs pada dasarnya terdiri dari akal, qalbu, nafs, dan roh. Keempat potensi ini harus di didik agar menjadi muslim dalam arti sesungguhnya. Pertama adalah akal. Akal dalam lisanul arab bermakna kekangan dan larangan. Al-aqil (orang yang berakal) adalah orang yang mengekang dan menolak dirinya mengikuti hawa nafsu. Akal disebut akal ketika ia menjaga dirinya terjerumus dalam kebinasaan. Akal juga merupakan pembeda antara manusia dan hewan. Islam mengakui bahwa akal, selain berfungsi sebagai sarana untuk menangkap ilmu pengetahuan terutama ilmu yang berkaitan dengan ajaran Islam juga menempati posisi sebagai sumber hukum Islam ketiga setelah Al-qur’an dan Sunnah.

Kedua adalah nafsu. Nafsu merupakan unsur rohani yang memiliki pengaruh besar dan paling dominan dalam jajaran unsur rohani lainnya dalam memberikan instruksi kepada anggota jasmani untuk berbuat dan bertindak. Lalu, yang ketiga adalah qalbun (hati). Manusia tidak dapat mengetahui bentuk, hakikat, dan zatnya secara pasti, melainkan hanya kesan dan sifat-sifatnya. Maksudnya ialah kekuatan dan tenanganya yang tersimpan pada hati itu dan tersembunyi dari pikiran dan indera manusia. Perasaan merupakan sifat yang sangat berguna. Melalui perasaan, manusia menunaikan segala haknya tanpa kekecewaan, lalu tumbuh menjadi pribadi yang arif, bijaksana, dan cerdik cendekia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata. Adapun makna ketakwaan hati terhadap Allah adalah penghambaan hati yang  hanya tertuju kepada-Nya dengan setinggi-tingginya penghambaan kepada-Nya. Lalu yang keempat adalah ruh yaitu, dalam kamus ilmu filsafat ruh atau spirit yang mengartikan nyawa. Istilah ruh pada dasarnya memiliki dua makna dalam kajian yang mendalam. Yang pertama, ruh merupakan nyawa yang bersumber di dalam hati jasmani. Yang kedua, ruh adalah bisikan Rabbani yang dapat mengetahui segala sesuatu dan dapat menangkap  segala pengertian. Namun, dalam pengertian kedua ini, manusia tidak mampu mengetahui hakikat ruh.

Tazkiyatun Nafs Menurut Para Ulama

1.Menurut Imam Al-ghazali

Menurut Imam Al-ghazali, tazkiyatun nafs berfungsi sebagai sarana untuk menerangi hati dan menuntun akal menuju kemuliaan, sementara pendidikan berperan penting dalam melatih, mengarahkan, mengubah, dan membentuk akhlak peserta didik. Al-ghazali mengemukakan sepuluh konsep tazkiyatun nafs dalam konteks pendidikan pendidikan, yaitu: mendahulukan kesucian jiwa dari akhlak yang hina dari sifat-sifat ‎yang ‎tercela, ‎mengurangi hubungan dengan kesibukan dunia, ‎bersedia menjauh dari keluarga dan tanah air untuk menuntut ilmu, ‎tidak sombong karena ilmu dan tidak menentang guru, ‎menjaga diri dari mendengarkan pendapat manusia yang berbeda-‎beda, ‎tidak meninggalkan ilmu-ilmu yang terpuji, ‎menuntut ilmu secara bertahap, ‎mengetahui sebab yang dapat untuk mengetahui kemuliaan ‎ilmu, dan ‎mengetahui keterkaitan ilmu-ilmu dengan tujuannya

2. Menurut Ibnu Taimiyah

Tazkiyatun Nafs adalah mensucikan jiwa dari sifat-sifat yang buruk, tindakan tercela, perbuatan maksiat, dan dari sifat-sifat kebinatangan lainnya. Pensucian jiwa berlangsung melalui taubat, pelaksanaan seluruh perintah Allah, serta upaya menjauhi larangan-Nya. Proses ini mencakup pelaksanaan syariat dan pengamalan amal saleh yang berlandaskan tauhid serta keimanan kepada Allah.

3. Menurut Ibnu Qayyim

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah menyebutkan tentang nafs yang selalu menunjukkan kepada hawa nafsu. Hal ini Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah jelaskan dalam karyanya Ar-Ruuh. Dalam buku itu beliau memaparkan makna jiwa dan roh yang terkandung dalam Al-qur`an. Terdapat hubungan yang kuat antara roh dan jiwa. Roh dalam pembahasan ini berperan sebagai unsur yang membuat manusia hidup, dan keluarnya roh menyebabkan kematian. Singkatnya, jiwa dan roh merupakan satu kesatuan, keluarnya jiwa sama artinya dengan keluarnya roh.

Bagikan: