Connect with us
Klik di sini

Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Artikel Utama

Tradisi Mudik Lebaran di Indonesia

Keunikan Indonesia tidak akan pernah usai ditutur lidah dan tidak pula habis ditulis tangan. Segala sesuatu memiliki keunikan masing-masing untuk diceritakan. Bahkan, perbedaan yang terdapat di Indonesia merupakan salah satu bentuk keunikan itu sendiri. Salah satu keunikan Indonesia yang terlihat jelas adalah kala bulan Ramadhan hampir menutup hari-harinya.

Secara serentak berduyun-duyun umat muslim tanah air sibuk bersiap ‘kembali pulang’ atau mudik ke kampung halaman menjelang lebaran Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal. Semua bersuka-cita menyambutnya, entah kampungnya jauh atau dekat pun tidak masalah. Asal bisa pulang, hati riang.

Tradisi mudik lebaran sudah menjadi tradisi tahunan yang selalu saja menarik untuk dibahas. Beberapa orang memilih untuk pulang sebelum Syawal, beberapa yang lain, memilih untuk mudik setelahnya. Pada dasarnya, mudik merupakan istilah umum yang disematkan pada mereka yang pulang kampung dan tidak terbatas pada periode waktu tertentu. Setiap orang yang pulang kampung disebut mudik. Dan mereka dibebaskan untuk pulang pergi kampung halamannya kapan saja.

Namun pada perkembangannya, mudik diartikan sebagai pulang kampung saat lebaran saja. Alasannya, lebaran merupakan momentum yang paling banyak dimanfaatkan untuk pulang kampung. Hingga pada akhirnya, jika kata mudik itu disebut, secara spontan masyarakat Indonesia akan membayangkan mudik lebaran dengan segala hiruk pikuknya yang menyita waktu.

Sejarah kata mudik dan tradisinya di Indonesia

Setidaknya ada tiga pendapat yang berbeda dalam memahami asal muasal kata mudik. Yang pertama, istilah mudik berasal dari bahasa Jawa Ngoko yaitu mulih udhik. Kata “udhik” sendiri bermakna kampung, sedangkan “mulih” berarti pulang. Dari sinilah “mudik” disebut sebagai tradisi pulang kampung.

Dulu, pada era kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1293 sampai tahun 1527 M. berdasarkan Nagarakertagama karya Empu Prapanca, wilayah kekuasaan Majapahit telah sampai ke daerah-daerah di luar Jawa seperti Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan hingga Indonesia Timur. Teritorial yang luas disertai invasi ke wilayah-wilayah lain membuat penduduk Jawa tersebar ke berbagai penjuru Nusantara kala itu. Mereka yang tersebar memiliki tradisi untuk kembali ke kampung sebelum hari-hari besar keagamaan untuk membersihkan makam leluhur mereka. Inilah awal mula dari tradisi mudik, meski pada saat itu, kata mudik belum dipakai untuk menyebut tradisi ini.

Kedua, dalam masyarakat Betawi, “mudik” menunjukkan makna selatan, sedangkan “ilir” bermakna utara. Oleh karenanya, dulu terdapat penyebutan beberapa daerah dengan kata udik maupun ilir, seperti: Sukabumi Udik dan Sukabumi Ilir, Meruya Udik dan Meruya Ilir, yang sekarang sudah berganti nama menjadi Sukabumi Selatan dan Sukabumi Utara, Meruya Selatan dan Meruya Utara. Daerah tersebut kini terletak di wilayah Jakarta Barat.

Saat Jakarta masih bernama Batavia, pusat-pusat perdagangan terletak di daerah utara, sedangkan daerah selatan merupakan penyuplai pangan dan kebutuhan masyarakat dari berbagai hasil bumi. Pengangkutan barang dagangan saat itu masih menggunakan transportasi air, sehingga ada sebutan ‘milir’ bagi mereka yang menuju ke arah utara untuk menjajakan barang dagangannya. Sedangkan sebutan ‘mudik’ disematkan pada mereka yang menuju ke arah selatan untuk kembali bercocok tanam mempersiapkan hasil bumi lainnya untuk dikirim ke arah utara. Kegiatan ini kemudian dikenal dengan istilah ‘hilir-mudik’.

Dengan demikian, bagi masyarakat betawi, “udik” mempunyai makna denotatif yang berarti selatan, sedangkan makna konotatifnya adalah “kampung”, karena sebagian besar suplai hasil bumi berasal dari wilayah selatan ini. Maka hingga kini kata “mudik” masih relevan jika dimaknai sebagai pulang ke arah kampung, jika dipahami dari sudut pandang ini.

Ketiga, mudik yang merupakan singkatan dari bahasa jawa “mulih dilik”. Dalam bahasa Jawa, kata dilik bermakna sebentar. Pendapat ini menggambarkan kesan yang umum terjadi bagi masyarakat yang pulang ke kampung halamannya, yaitu pulang tidak untuk menetap lama, namun hanya dalam jangka waktu sebentar dan akan kembali beraktivitas di daerah perantauannya.

Istilah mudik mulai populer di Indonesia

Dari tiga pendapat yang telah dipaparkan sebelumnya, setidaknya dapat dipahami bahwa mudik merupakan sebuah kegiatan perantau atau pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Lantas, kapankah istilah mudik ini populer di Indonesia? Sebutan mudik bagi orang yang pulang kampung mulai populer pada tahun 1970-an, saat Jakarta mulai tampil sebagai sebuah kota yang mengalami perkembangan pesat yang menarik masyarakat dari wilayah luar untuk berurbanisasi.

Masyarakat dari luar daerah Jakarta akan kembali pulang ke kampung halamannya pada beberapa perayaan hari besar. Namun, yang paling menyita perhatian adalah saat perayaan lebaran, sehingga kerap kali “mudik” dimaknai dengan mudik lebaran. Sekarang, kata mudik bukan hanya bagi yang berada di Jakarta saja. Masyarakat yang berada di daerah perkotaan yang maju selain Jakarta ketika hendak pulang kampung juga dinamakan dengan mudik, yang demikian mulai banyak terjadi saat daerah memiliki hak otonominya.

Tradisi mudik memang selalu saja menarik untuk diperbincangkan, tidak terkecuali dari sudut pandang keagamaan. Mudik lebaran yang sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat ini, memiliki sekurang-kurangnya  tiga hal yang menjadi motivasi terbesar bagi setiap muslim di Indonesia untuk melaksanakannya. Tiga hal ini adalah: menyambung tali silaturrahmi dengan sanak saudara, menziarahi makam keluarga yang telah wafat dan berbagi kisah kesuksesan maupun perjuangan di tanah perantauan.

Kegiatan mudik akan bernilai pahala jika diawali dengan niat yang ikhlas kepada Allah dan melakukan tiga motivasi mudik yang telah disebut sebelumnya dengan penuh pengharapan atas ridha-Nya. Saling menyambung tali silaturrahmi dengan sesama manusia selalu terjaga, menziarahi kubur keluarga agar tetap mengingat kematian dan saling nasihat menasihati dalam kebaikan dengan bentuk cerita motivasi terhadap perjuangan mencari rezeki di tanah perantauan. Wallahu a’lam.

Related Post

Continue Reading
Klik di sini
Muhammad Difa El Haq

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel Utama

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top