tren pemikiran islam

Setelah melalui konflik internal dan pertemuan dengan pelbagai peradaban yang sama sekali baru, tren pemikiran Islam terpecah. Dewasa ini, belum banyak sarjana muslim yang menjabarkannya, sedikit dari mereka adalah Prof. Abdullah Saeed

Penulis sering kali terhenyak dan bingung ketika ada yang bertanya mengapa Islam yang satu memiliki umat dengan pelbagai pemikiran dan ekspresi keislaman. Namun jika direnungkan lebih lanjut, Nabi Muhammad saw. telah mewanti-wanti akan adanya perpecahan tersebut. Belum lagi faktor-faktor lain selain hal tersebut yang ikut andil dalam menjadikan umat Islam berbeda-beda, seperti paham politik dan pertemuan dunia Islam dengan peradaban lain.

Pada masa Rasul hingga masa Umar ra, Umat Islam relatif berada di dalam satu persepsi, jika pun ada yang berbeda pikiran, hal tersebut tidak begitu mencolok keberadaannya. Tren keislaman mulai beragam ketika konflik Ali-Mu’awiyah meruncing. Setelah peristiwa Arbitrase pada 37 H, Umat Islam memiliki empat tren sederhana yang berbeda satu sama lain: Golongan Pro-Mu’awiyah yang mendukung tampuk kepemimpinan Ali dilanjutkan oleh putra Abi Sufyan itu; Syia’ah yang bersikukuh mendukung Ali ra. bahkan sebagian mereka ada yang jatuh ke fanatisme akut; Khawarij yang merasa kecewa dengan tahkim yang curang; Serta Murji’ah yang tak mau ikut campur urusan tiga golongan lain.   

Klasifikasi ala Abdullah Saed

Diversitas pemikiran dalam Islam, untuk hari ini, sudah begitu sangat kaya. Prof. Abdullah Saeed, peraih pos-doktoral mengenai studi Islam  dari University of Melbourne ini menjabarkan pemikirannya di dalam Buku Islamic Thought: An Introduction . Pria asal Maladewa ini menguraikan lima kelompok tren pemikiran Islam yang berkembang pada Abad ke-21 secara global dan singkat:

Legalis Tradisionalis

Pengikut tren ini mengikuti mazhab-mazhab pemikiran ulama pra-modern, terutama pada bidang fikih dan mengasosiasikan pengamalan ini dengan pengajaran teologi (tauhid).

Mereka sangat mempresentasikan ortodoksi Islam yang mana sangat identik dengan perilaku taklid buta. Mereka sering kali mengidentifikasi suatu kelompok atau entitas dengan menisbatkan  kepada salah satu mazhab seperti contohnya masjid syafi’iyah. Tren yang demikian banyak berkembang di Timur-Tengah, Afrika, Anak Benua India, dan Melayu. Tidak heran jika di kawasan-kawasan tersebut muncul negara agama yang mengklaim satu mazhab fikih sebagai mazhab resmi negara, seperti Malaysia yang mengadopsi Mazhab Syafi’iyah sebagai mazhab negara; Arab Saudi yang mengangkat Mazhab Hanbaliyah sebagai mazhab resmi negara; dan Imperium Ottoman yang pernah menetapkan Mazhab Hanafiyah sebagai mazhab yang diakui.

Baca Juga  Bantahan Prof. Azami terhadap teori “Projecting Back” Joseph Schacht

Menurut Abdullah Saed, ada dua tokoh yang muncul dari rahim tren ini ialah Yusuf Al-Qardawi dengan Ikhwanul Musliminnya dan Sayyid Abu al-A’la al-Mawdudi (w. 1979 M) yang kemudian menjadi inspirasi dari gerakan Islam Transnasional Hizbut Tahrir.  

Muslim Sekuler

Tren ini menghendaki Islam terbatas sebagai kepercayaan personal dan hubungan antara Tuhan dan individu. Pengikut tren ini merasa tidak perlu dengan adanya pendirian Negara Islam atau pun implementasi dari  hukum Islam. Pandangan mereka sedikit-banyak dirangkum oleh Manifesto Muslim Sekuler yang dirumuskan oleh muslim Prancis:

  • Mengecam terhadap segala bentuk kebencian berdasarkan ras dan orientasi seksual;
  • Berkomitmen dalam kesetaraan gender;
  • Mengakui keberadaan kaum LGBT dan kebebasan mereka untuk hidup dan berkembang;
  • Mengecam gerakan anti-Yahudi, apalagi yang mengatasnamakan Islam;
  • Mengakui hak Israel untuk eksis dan, di sisi lain, mendukung kemerdekaan Bangsa Palestina.

Puritan Teologis

Tren ini mengacu kepada pemurnian akidah yang menjurus kepada pemberantasan ritual dan kepercayaan yang mereka yakini sebagai bid’ah.

Selain menggencarkan semangat purifikasi terhadapa agama, mereka cenderung memiliki penafsiran terhadap Alquran yang literal. Tren ini diperkenalkan oleh Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan dikenal luas berkat dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab (w. 1207 H).

Di dunia, pengikut tren ini disebut sebagai “Wahabiyyun.” Sesungguhnya, mereka tidak suka dengan panggilan tersebut. Mereka condong ingin dipanggil sebagai “Muwahhidun”. Diilhami nama ini, di Indonesia, pengikut tren ini gencar menggaungkan slogan “Indonesia Bertauhid.”  

Ekstremis Militan

Tren ini muncul pascaserentetan konflik Barat vs Islam yang mencuat akibat Perang Salib, penjajahan, dan yang paling berpengaruh adalah peristiwa 9/11.

Peristiwa terakhir sangat menyudutkan dunia Islam dan membuat beberapa negara Islam diinvasi Amerika Serikat dan sekutunya dengan alasan pembasmian teroris.

Baca Juga  Bagaimanakah Uban Rasulullah Saw?

Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda menyerukan dua hal, yakni persaudaraan muslim dan semangat jihad global melawan Amerika dan sekutunya. Parahnya, semangat jihad dijalankan dengan pembolehan membunuh siapa pun yang berhubungan dengan Amerika Serikat, bahkan wanita dan anak-anak sekali pun. Dewasa ini, tren ini memunculkan NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) yang pernah membuat heboh dunia dengan pendudukan dan agresi yang mereka lancarkan.

Ijtihadis Progresif

Tren ini muncul dari kalangan yang mempunyai tradisi keilmuan yang kuat. Tren tersebut merupakan metamorfosis dari tren modernisme yang muncul pada abad-abad sebelumnya.

Tren ini masih sangat umum karena mencakup sub-tren lain: muslim liberalis, muslim feminis, hingga muslim tradisionalis progresif. Tren ini hanya berkembang di Barat dan negara-negara yang menjunjung tinggi kebebasan intelektual. Karakteristik dari penganut tren ini adalah:

  • Mereka berpendapat bahwa di beberapa sektor dari hukum Islam tradisional perlu mengalami perubahan dan reformasi yang substantif guna menjawab kebutuhan muslimin dewasa ini;
  • Mereka memandang perlu adanya ijtihad dengan metodologi yang baru untuk melayani problem yang benar-benar baru juga;
  • Mereka mengkombinasikan pemikiran dan pendidikan ala Islam dengan pemikiran dan pendidikan khas Barat;
  • Memegang dengan teguh prinsip bahwa hukum Islam harus merefleksikan perubahan sosial dalam tataran intelektual, moral, ekonomi, hingga teknologi;
  • Mereka tidak menunjukkan ketundukan kepada dogma dan fanatisme kepada mazhab tertentu;
  • Mereka menggaungkan semangat keadilan sosial dan gender, HAM, serta hubungan harmonis antara muslim dan non-muslim

Selain karakter di atas, pengikut tren ini biasanya berpandangan bahwa pemahaman terhadap Alquran harus segera disegarkan agar tetap bisa menjawab perkembangan zaman.  

Demikian kelompok tren yang berkembang di kancah Islam dewasa ini. Abdullah Saeed menyadari bahwa uraian di atas mungkin tidak detail menyebutkan semua tren yang ada, namun setidaknya uraian tersebut bisa memberi sedikit garis besar mengenai perkembangan yang ada. Jadi, Anda termasuk pengikut kelompok tren yang mana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here