Artikel Utama, Pojok Pesantren, Sejarah

GERHANA BULAN, MITOS, DAN HUMANISASI; Catatan Singkat Khataman 6 Kitab Hadis

majalahnabawi.com– Di tahun 90-an, setiap terjadi gerhana, warga dusun Gondang Mayang mengalami kekhawatiran. Di dusun ujung bagian timur Jawa Tengah itu, jelang terjadinya gerhana, anak-anak dan ibu-ibu sudah berkumpul di perempatan jalan. Masing-masing titik kumpul sudah disiapkan kentongan. Saat mulai gerhana, dengan spontan kentongan dibunyikan. Sahut menyaut. Bergema dari satu ujung dusun hingga ujung dusun lainnya. Sedangkan kaum bapak-bapak, lebih banyak tinggal di sekitar rumah dan perkarangan. Tugasnya adalah membangunkan binatang ternak, khususnya ternak yang sedang hamil ataupun mengekrami telur. Memastikan saat gerhana berlangsung, binatang peliharaan tetap dalam kondisi terjaga. Sehingga janinnya akan lahir secara utuh. Tidak dimakan Buto Ijo.

Gerhana dan Buto Ijo

Bagi warga dusun Gondang Mayang, gerhana bulan adalah waktu turunnya Buto Ijo. Raksasa ini menelan rembulan, janin binatang ternak, serta tanaman dan buah-buahan yang memulai berbunga dan berbuah. Kini, seiring dengan kesadaran masyarakat, tradisi “menyambut” turunnya Buto Ijo ini sudah memudar. Saat malam gerhana, mereka berkumpul di masjid atau mushola. Paginya, mereka ke sawah dengan berbagai peralatan modern dan pestisida. Namun demikian, sisi negatifnya, tanpa disadari, berbagai jenis peralatan pertanian modern, pestisida, dan pupuk bikinan pabrik ini menjerat mereka. Biaya produksi mahal. Sedangkan harga jual hasil panen sangat murah. Mitos masyarakat tradisional seakan jatuh ke lubang mitos mayarakat modern.

Khataman Hadis Gerhana

Tiga hari yang lalu, Rabu 26 Mei 2021, peristiwa di atas berkelibat di dalam benak. Yakni saat sambil mengikuti khataman 6 kitab hadis (al-kutub al-sittah) bab gerhana di Ma’had Darus-Sunnah Ciputat. Jika kita telisik lebih dalam, di era Kanjeng Nabi Muhammad, tidak sedikit masyarakat muslim yang masih memiliki salah persepsi. Gerhana dipahami sebagai mitos terkait kematian dan kelahiran seseorang. Waktu itu, gerhana matahari terjadi bersamaan dengan wafatnya Sayidina Ibrahim, putera Baginda Nabi dari istri Sayidah Mariyah al-Qibthiyah. Namun demikian, pemahaman ini terus menerus diluruskan oleh Nabi. Gerhana tidak lain adalah sunnatullah untuk memperingatkan manusia atas kemahakuasaan-Nya.

Baca Juga:   Testimoni Konsumen Sambalado

Gerhana dan Dakwah Nabi

Yang menarik dari cara dakwah Nabi, fenomena gerhana tidak serta merta hanya menjadi momen penguatan ritual semata. Semisal mengadakan shalat gerhana berserta khutbah setelahnya. Lebih dari itu. Fenomena gerhana menjadi momentum untuk mengajak masyarakat memperbanyak sedekah, bahkan memerdekan budak. Tentu sangat butuh biaya yang tidak sedikit. Hal ini sebagaimana termaktub dalam hadis shahih riwayat Imam al-Bukhari (194-256 H). Dikisahkan oleh Sayidah Asma’ binti Abu Bakar, saat terjadi gerhana, Baginda Nabi memerintahkan para sahabat untuk memerdekan budak. Fenomena alam yang awalnya dipahami sebagai mitos, dapat berubah menjadi momentum penguatan spiritual hingga solidaritas sosial. Keduanya dapat berpadu. Berjalan seiring sejalan.

Lantas tertarikah anda?

Muhammad Hanifuddin, Lc, S.S.I
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.