Setiap penganut agama memiliki hak dan kewajiban atas agama yang dianutnya. Puasa telah menjadi salah satu rukun Islam, maka tak berlebihan jika puasa menjadi kewajiban bagi penganut agama islam. Dalam kitab Riyadhul Badi’ah karya Syekh Muhammad Hasbullah disebutkan bahwa Ibadah puasa diwajibkan bagi seluruh muslim yang baligh, berakal, mampu (berpuasa) serta suci dari haidh dan nifas.

Asal mula ibadah puasa ramadhan

Sebelum datangya perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW sudah melaksanakan puasa Asyura. Ibadah puasa mulai diwajibkan pada tahun ke -2 H bertepatan dengan bulan sya’ban. Pada dasarnya kebiasaan puasa telah berlaku sejak zaman terdahulu, walaupun pada pelaksanaannya terdapat perbedaan jika dibandingkan dengan pelaksanaan puasa ramadhan sekarang ini.

Dalam buku “Islam Masa Kini”, Bapak K.H. Ali Mustafa Ya’qub mengatakan bahwa ayat al-qur’an yang menerangkan mengenai wajibnya berpuasa bagi umat islam, ternyata berlaku pula bagi umat –umat terdahulu. Dikisahkan kewajibannya puasa bagi kaum terdahulu antara lain dalam rangka agar umat islam merasa ringan dari segi mental.

baca: https://majalahnabawi.com/sejarah-pensyariatan-puasa-ramadhan/

Salah satu perbedaan puasa kaum terdahulu dengan sekarang yakni terletak pada pelaksanaan sahurnya. Sebagaimana terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السُّحُور

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah pada makan sahur.”(HR. Muslim)

Hadis diatas menceritakan bahwa para ahli kitab berpuasa tanpa sahur. Maka dari itu Rasul menganjurkan sahur agar berbeda dengan puasa ahli kitab.

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari & Muslim)

Produksi urin saat berpuasa

Terpenuhinya cairan sangat dibutuhkan pada saat berpuasa. Adapun kebutuhan cairan yang dibutuhkan setiap orang tidaklah sama, hal ini bergantung kepada berat badan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan, yakni  40 cc/ berat badan. Pada saat melaksanakan ibadah puasa akan terjadi penurunan asupan cairan yang mengakibatkan meningkatnya osmolaritas darah untuk meningkatkan hormon anti diuretik (ADH). Hormon ini berfungsi untuk meningkatkan kepekaan dalam sel tubulus proksimal dan tubulus distal dari ginjal sehingga meningkatkan reabsorpsi air.

Baja Juga  Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Akibat proses tersebut, volume urin yang dihasilkan menjadi lebih sedikit. Walaupun produksi urin menurun, ginjal tetap bisa mengeluarkan zat-zat yang memiliki sifat toksik dan harus dikeluarkan dari tubuh, yang secara tak langsung menyebabkan kepekatan pada urin yang dihasilkan. Ginjal merupakan organ ekresi utama dalam tubuh, akibatnya ginjal memiliki peran yang penting dalam proses adaptasi tubuh saat berpuasa.

Saat berpuasa, kaum muslim diminta untuk tidak makan dan minum selama kurun waktu yang ditentukan, tubuh pun akan menggunakan cairan yang tersimpan sesuai dengan banyaknya cairan yang dikonsumsi saat sahur. Mengkonsumsi teh dan kopi dapat meningkatkan intensitas buang air kecil, terutama saat puasa. Hal ini disebabkan karena teh dan kopi mengandung kafein dan memiliki efek diuretik. Maka tak aneh, jika mengkonsumsi teh dan kopi saat sahur dapat membuat tubuh mengeluarkan cairan yang sudah tersimpan.  Hal ini lah yag membuat tubuh melemas dan dehidrasi.

Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa besar intensitas buang air kecil seseorang tergantung berapa banyak cairan yang dikonsumsi saat sahur.

Wallahu a’lam bishsowab

iklan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here