Ibnu Aththar adalah murid dari Syekh Nawawi, kedekatan mereka tidak diragukan lagi, sebab selama
masa hidup sang guru, Ibnu Aththar merasa bahagia bisa menemaninya, sehingga ia dijuluki dengan
“ringkasan Nawawi" atau “Nawawi junior”. Ia berguru kepada Imam Nawawi hingga sang guru wafat.
Dalam biografi Imam Nawawi yang ditulisnya, ia menyebutkan hubungan dengan syekhnya tersebut
sangatlah dekat. Sering kali Ibnu Aththar membacakan ilmu fikih kepadanya sebagai bentuk
pengoreksian, pengajuan, penjelasan, dan penghafalan, baik secara khusus maupun umum. Juga
ilmu-ilmu hadits yang ringkas dan panjang, sebagai bentuk pengoreksian, penghafalan, penjelasan,
pengkajian, dan pen-ta’liq-an, baik secara khusus maupun umum.
Beliau juga menyebutkan bahwa, Syekh Nawawi sangat ramah dan penuh kasih sayang kepadanya
(Ibnu Aththar). Beliau (Syekh Nawawi) tidak mengizinkan seseorang melayaninya kecuali dirinya.
Disamping itu Syekh Nawawi juga selalu mengawasi gerak-gerik dan diamnya, bersikap tawadhu’
kepadanya dalam segala keadaan, dan mendidiknya dalam segala hal hingga ia tak mampu
menghitung kejadian itu.
Ibnu Aththar banyak membacakan kepadanya kitab-kitab susunan gurunya untuk mengoreksi atau
hanya mengajarkan. Syekh Nawawi mengizinkan Ibnu Aththar untuk mengoreksi kesalahan yang
ditemukan dalam kitab-kitab susunan nya, hingga Ibnu Aththar membenarkan kesalahan di
beberapa kitab sunan tersebut, lalu beliau (Syekh Nawawi) menuliskan dengan tulisan tangannya.
Syekh Nawawi menyerahkan kepada Ibnu Aththar selembar kertas dengan sejumlah kitab yang
ditulisnya.
Beliau menyusun kitab dengan tulisan tangannya, seraya berkata kepada Ibnu Aththar, “Jika aku
menghadap Allah, sempurnakanlah Syarhul Muhadzdzab dari kitab-kitab ini”. Akan tetapi hal
tersebut tidak ditakdirkan bagi Ibnu Aththar. Selama Ibnu Aththar menemaninya, ia hanya berguru
kepadanya, tidak kepada orang lain sejak awal tahun 670 H atau sesaat sebelumnya sampai beliau
wafat.
Al-Wadi Asyi menyebutkan beberapa kitab Imam Nawawi yang diperoleh dari Ibnu Aththar,
diantaranya:
1. Kitab Riyadhush Shalihin min Kalami Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Sayyidil ‘Arifin. Beliau
(Imam al-Wadi Asyi) membacakan dari awal hingga akhir bab al-ikhlas di Damaskus kepada Syekh
Alauddin Abu Hasan (Ibnu Aththar) dalam kitab aslinya. Ibnu Aththar menyerahkan kepadanya , dan
memberi izin untuk dapat menyampaikannya. Ibnu Aththar menceritakan padanya bahwa bacaan
tersebut didengar dari Imam Nawawi.
2. Kitab al-Minhajul Khair fi Syarhi Shahih Muslim bin al-Hajjaj karya Muhyiddin Abu Zakariyya Yahya
bin Syaraf bin Mari an-Nawawi dari Nawa. Syekh Alauddin Abu Hasan (Ibnu Aththar) menyerahkan
kitab tersebut pada Imam al-Wadi Asyi, yang terdiri dari lima jilid. Beliau mengizinkan al-Wadi Asyi
untuk menyampaikannya. Ibnu Aththar juga menceritakan tentang periwayatannya yang di dapat
dari Syekh Nawawi.
Ibnu Aththar berkata, “Syekh Nawawi mengizinkanku untuk mengoreksi kesalahan yang tampak
bagiku kepadanya dan pada seluruh kitab-kitab susunannya.”

3. Kitab Hilyatul Abrar wa Syi’arul Akhyar fi Talkhis al-Da’awat wal Adzkaril Mushtahabbah fil Laili
wan Nahar, Beliau (Imam al-Wadi Asyi) membacakan dari awal hingga akhir bab al-ikhlas di
Damaskus kepada Syekh Alauddin Abu Hasan (Ibnu Aththar) dalam kitab aslinya. Ibnu Aththar
menyerahkan kepadanya, dan memberi izin untuk dapat menyampaikannya. Ibnu Aththar
menceritakan padanya bahwa bacaan tersebut didengar dari Imam Nawawi.
Dari uraian diatas, tidak perlu diragukan lagi bagaimana kedekatan antara Ibnu Aththar dan Syekh
Nawawi, yang mana sang guru tidak hanya menganggap Ibnu Aththar sebagai murid nya saja, namun
juga sebagai anak yang harus dididik secara dhoriyah dan bathiniyah juga. Sebab guru adalah Robbu
al-Ruh bagi muridnya.
Semoga kisah tersebut bisa menjadi teladan bagi kita. Wallahu A’lam.
Refrensi: Syarah Arbain an-Nawawi karya Ibnu Aththar