‹ Kembali ke Beranda
Opini · Tokoh

Mengenal Lebih Dekat Syekh Albani

Oleh Mohammad Wahyu Trihatmodjo·27 Februari 2025·137
Mengenal Lebih Dekat Syekh Albani

Majalahnabawi.com – Nama lengkap Albani adalah Muhammad Nashiruddin bin Nuh bin Adam al-Najati, lebih dikenal dengan nama Albani, disandarkan pada negeri kelahirannya, sering dipanggil dengan sebutan Abdurrahman. Ia dilahirkan pada tahun 1914 M di kota Askodera, ibu kota Albania masa lampau.

Sekilas Tentang Keluarga Albani

Albani lahir dari keluarga yang agamis dan cukup sederhana. Ayahnya adalah haji Nuh termasuk salah seorang ulama besar di Albania yang bekerja sebagai reparasi jam untuk menghidupi keluarganya. Ia mengajarkan ilmu agama pada masyarakat setempat, dan dikenal sebagai ahli fikih madzab Hanafi. Ketika raja Ahmad Zagho naik tahta, Haji Nuh memutuskan untuk hijrah ke Syam, tepatnya di kota Damaskus. Saat itu, Albani masih berumur sembilan tahun, baru lulus sekolah tingkat dasar dan belum mengetahui membaca dan menulis bahasa Arab.

Ketika menetap di Damaskus, Albani mulai aktif mempelajari bahasa Arab di Madrasah yang dikelola Jamiyyah al-Is`af al-Khairiyyah hingga kelas terakhir, tingkat Ibtidaiyyah. Sampai di sini Albani mengenyam pendidikan formal, karena selanjutnya ia menempuh pendidikan non-formal. Selanjutnya, Albani belajar dari ayahnya dan Said al-Burhani, dari keduanya ia belajar dan mengetahui kitab-kitab fikih madzab Hanafi dan juga qira’ah imam Hafs. (Abdul Basith bin Yusuf al Gharib, Koreksi Ulang Syaikh Al-Albani, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), hlm. 23)

Awal Mula Berkonsentrasi Memperdalam Ilmu Hadis

Salah seorang pembimbing syekh Albani mengarahkan beliau kepada Sayyid Muhammad Rasyid Ridha yang akhirnya beliau anggap sebagai tokoh yang banyak memberikan pengaruh dalam mendorong beliau untuk mendalami ilmu hadis yang mulia.

Pada sebuah kisah beliau dengan Sayyid Rasyid Ridha, beliau menuturkan sebagai berikut:

“Buku-buku pertama yang mengundang hasratku untuk membacanya adalah buku cerita Arab, seperti Al-Zhahir wa ‘Antarah, Al-Malik Saif. Kemudian aku mulai menggemari cerita-cerita detektif yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, seperti Archien Lobpin dan lainnya. Setelah itu baru aku mulai melirik buku-buku sejarah. Pada suatu hari aku melihat salah satu edisi Majalah Al-Manar di antara buku-buku yang dipajang dalam sebuah toko buku. Akupun membelinya dan membaca salah satu tajuk tulisan Sayyid Rasyid Ridha yang bercerita tentang buku Ihya Ulumu al-Din karangan Imam Al-Ghazali, tulisan itu bercerita tentang sisi baik dan juga kesalahan-kesalahan buku tersebut. Baru pertama kali aku menemukan penelitian ilmiah seperti itu. Dan itulah yang mendorongku untuk menelaah seluruh edisi majalah tersebut.

Tanpa terasa aku mengikuti seluruh pembahasan Ihya Ulumu al-Din dari buku aslinya sendiri. Dari cetakan yang merangkum juga takhrij Al-Hafizh Al-Iraqi. Aku terpaksa berusaha untuk menyewa buku tersebut karena aku tidak mampu membelinya. Sejak saat itu akupun mulai menelaah buku tersebut. Aku sangat tertarik dengan takhrij yang sangat terperinci itu, sampai-sampai aku menyalinnya dalam satu naskah atau meringkasnya. Demikianlah, aku terus bekerja keras hingga aku menemukan metode praktis yang sangat membantuku untuk menyusun seluruh maklumat-maklumat yang telah kusalin. Kurasa seluruh usaha dan kerja keras yang kulakukan pada saat itulah yang kemudian mendorongku dan memotivasiku untuk terus menekuni bidang ini. Karena tanpa terasa aku harus menelaah buku-buku bahasa Arab, Balaghah dan Gharib Hadits agar dapat memahami nash-nash yang kubaca disamping melakukan takhrij.” (Umar Abu Bakar, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany Dalam Kenangan, (Solo: At-Tibyan, 2000), hlm. 23-24)

Berawal dari kisah inilah Syekh Albani terus melangkah dalam bidang ilmu hadis. Dengan pola hidup, perkembangan dan lika-liku tantangan seperti itulah tampak beberapa faktor tersembunyi yang mendorong beliau terus meneliti hadis. Kemudian pada akhirnya menjadikan syekh Albani salah seorang tokoh besar pembela sunah Nabi Saw.

Faktor yang Membantu Albani Dalam Bidang Ini

Di antara sekian faktor yang berpengaruh tapi nyaris tak terlihat adalah beliau berkata: “Sesungguhnya nikmat-nikmat Allah yang tercurah atas diriku sangat banyak sekali, aku tidak mampu menghitungnya. Namun barangkali yang terbesar ada dua yaitu, Perpindahan kedua orang tuaku ke tanah Syiria. Kemudian yang kedua, ayahku mengajariku keahlian yang dimilikinya dalam mereperasi jam.”

Suatu ketika syekh Albani ditanya tentang cara beliau memanfaatkan waktu luang utnuk menimba ilmu sekaligus bekerja mereparasi dan jual beli jam, Albani menjawab: “Hal itu memang benar, berkat karunia Allah, profesi tersebut telah kujalani sejak usia muda. Dan aku menyukainya karena profesi ini bebas, tidak menggangguku untuk menimba ilmu As-Sunnah. Aku selalu menyediakan waktu setiap hari untuk bekerja selain hari Selasa dan Jum’at, itupun hanya selama tiga jam saja. Hal itu sudah mencukupi kebutuhan hidup keluargaku, tentunya dengan amat sederhana. (Umar Abu Bakar, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany Dalam Kenangan, hlm. 25)

Berkat dari kerja keras beliau sehingga menghasilkan sebuah karya pertamanya dalam bidang hadis yaitu menyalin buku Al-Mughni ‘an Hamli Asfar fi al-Asfar ma’a fi Ihya min al-Akhbar karangan Al-Hafizh Al-Iraqi dan mengomentarinya. Sebagaimana diketahui buku itu adalah takhrij hadis-hadis yang tercantum dalam kitab Ihya Ulumu al-Din karangan Imam Al-Ghazali.

Bagikan: