‹ Kembali ke Beranda
Opini

Menghidupkan Perpustakaan dan Literasi di Pesantren (Part 1)

Oleh Imam Budiman·19 April 2024·29
Menghidupkan Perpustakaan dan Literasi di Pesantren (Part 1)

majalahnabawi.com – [Esai ini pernah dimuat di Majalah Sastra Kandaga, Kantor Bahasa Banten, Edisi Maret 2021]

Pesantren, Perpustakaan, dan Buku Sastra

Perpustakaan tidak dapat dipungkiri menjadi salah satu elemen penting di lingkungan sekolah. Sekolah tidak dapat lepas dari peranan perpustakaan untuk membentuk intelektualitas, wawasan, serta karakter mumpuni peserta didiknya di masa yang akan datang. Perpustakaan menjadi sumber pengetahuan alternatif selain kegiatan pembelajaran guru-murid di kelas. Terlebih di pesantren, di mana akses santri terhadap teknologi dibatasi dan minimnya hiburan, buku-buku dan perpustakaan merupakan “dunia lain” yang amat menyenangkan untuk mengisi kesenggangan serta mengatasi rasa bosan.

Masih lekat dalam ingatan, bagaimana perpustakaan membersamai hari-hari saya selama di pesantren. Saya kerap memilih perpustakaan untuk mengisi waktu ketika istirahat atau jam-jam kosong di kelas. Saya boleh membaca sembari duduk bersandar, rebahan, tengkurap, senyamannya saja. Tidak ada larangan selama tidak mengganggu santri yang lain. Boleh dibilang, perkenalan saya dengan buku-buku sastra berawal dari sini. Saya mengenal karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan lainnya.

Saya bebas memilih bacaan apapun, terutama buku-buku bergambar dan berwarna, yang tentu saja bukan buku pelajaran di kelas. Selain itu, saya pun boleh meminjam dan membawanya ke asrama dengan syarat: tidak boleh rusak dan dikembalikan tepat waktu.

Sependek pengamatan saya –dan ini tidak banyak berubah sampai saat ini—setidaknya, ada 2 motif mengapa para santri menyukai perpustakaan.

Pertama, pendidikan literasi yang ditanamkan oleh orang tuanya sedari kecil. Saya masih  ingat, meski bapak dan ibu saya bukan seorang guru atau lulusan perguruan tinggi, keduanya cukup loyal dan perhatian dengan buku-buku bacaan sejak saya masih di sekolah dasar. Setiap awal bulan –dengan gajinya yang pas-pasan— bapak biasa mengajak saya ke Toko Buku Aziz yang terletak di Citra Niaga atau Gramedia Lembuswana, Kota Samarinda. Saya diperkenankan memilih 2 buku yang saya suka. Bapak memeriksa sampul dan isinya sekilas, lalu membayarnya di kasir.

Kedua, tidak ada pilihan atau hiburan lain selain perpustakaan yang nyaman, bersih, dan tentu saja dipenuhi beragam buku bacaan. Santri dilarang membawa gawai atau alat elektronik lainnya. Ini sudah menjadi aturan yang tidak dapat diganggu gugat. Maka, buku-buku di perpustakaan menjadi hiburan. Sekali waktu –kalau mood-nya sedang baik- penjaga perpustakaan di pesantren saya kala itu, mempertontonkan kepada kami beberapa video mengenai sains, seni, dan cuplikan film-film aksi terbaru dari komputer tabungnya.

Betapa pun, peran perpustakaan tidak dapat dipandang sebelah mata. Hal ini merupakan gagasan yang terus saya kemukakan semenjak awal hingga saat ini memutuskan untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Kita bisa telusuri, perpustakaan memiliki sejarah panjang dalam peradaban umat manusia, terutama di peradaban modern yang serba canggih seperti saat ini. Perpustakaan harus terus hidup dan tidak boleh mati.

Peradaban Mesopotamia dan Perpustakaan Pertama di Dunia

Buku merupakan pokok utama pada sebuah perpustakaan. Tercatat, buku hadir pertama kali berbentuk tablet (lempengan tanah liat yang dijadikan alas untuk menulis) dalam peradaban umat manusia di wilayah kering Sumeria, dulu Mesopotamia dan kini Irak selatan, di antara aliran Sungai Efrat dan Tigris. Sekitar 5.300 tahun yang lalu (Baez, 2004).

Dalam sebuah buku hasil penelitian berjudul Historia universal de la destrucción de los libros –yang kemudian diterjemahkan oleh Penerbit Marjin Kiri dengan judul: Penghancuran Buku; dari masa ke masa— ditulis Fernando Baez, seorang Peneliti dan Pustakawan Ternama berkebangsaan Venezuela, menguraikan sejarah kehancuran buku dan perpustakaan dengan riset yang mendalam dan detail.

Sekitar 3300 tahun sebelum masehi, ketika periode Uruk III dimulai, perpustakaan pertama di dunia didirikan. Rak-raknya menyimpan catatan ekonomi, serta katalog-katalog flora, fauna, dan mineral. Di Ur dan Adab, sebuah daerah di bagian Irak Selatan, ditemukan sisa-sia tablet dari dua perpustakaan yang beroperasi pada tahun 2700-2800 SM. Tercatat, antara tahun 2600 –2500 SM, beberapa perpustakaan berdiri di Fara, Abu Salabik, dan Kis.

Di berbagai perpustakaan itu, berisikan catatan-catatan dan daftar-daftar umumnya. Namun, ada juga tablet yang berisi puisi, mantra sihir, dan pepatah. Menariknya, kepingan tablet ini sangat mirip dengan buku kontemporer: para penyalin kitab mendesain tablet dengan nama penulis dan penanggung jawab (semacam penyelia) diguratkan di sisi atas.

Sekitar 200 tahun sebelumnya (2200 SM), Pangeran Gudea membangun perpustakaan untuk menyimpan naskah-naskah sejarah dan puisi karya Enkheduanna, penulis perempuan pertama yang pernah ada, anak gadis Sargon dari Akkad yang termasyhur. Puisi-puisi ini adalah kidung pujian untuk Inanna. Dalam hal ini, puisi merupakan jenis sastra pertama yang pernah ditemukan dan diteliti para Arkeolog.

Perpustakaan terus berdiri setelah masa-masa tersebut hingga masa kehancurannya. Tercatat pula di daerah Timur Tengah lainnya ditemukan bukti-bukti arkeologis keberadaan perpustakaan. Seperti Perpustakaan Ebla (2500 SM) di selatan Aleppo, Suriah. Perpustakaan Babilonia (1800 SM). Perpustakaan Asurbanipal (668—627 SM) di Niniwe (saat ini Kuyunjik).

Ada banyak perpustakaan di zona ini yang masih terkubur dan masih terus diteliti para Arkeolog. Kendati ironisnya, banyak sekali peninggalan berharga yang dijarah setelah invasi Irak pada 2003. Kini, perpustakaan-perpustakaan pertama di dunia hanya tinggal puing-puing, dan lebih dari separuh buku-buku mereka hancur. Irak menjadi kota yang kehilangan identitas.

Sampai di sini, sekali lagi, kita memahami bahwa buku dan perpustakaan merupakan hal terpenting dalam berdiri, berkembang, dan hancurnya sebuah peradaban. Dapat diambil pelajaran, bahwa peradaban yang baik, lingkungan yang berdaya, selalu diawali dengan perhatian terhadap buku-buku dan perpustakaan.

Maka, sekali lagi, perpustakaan tidak boleh mati.

Bagikan: