Connect with us
Klik di sini

Adab Membaca al-Qur’an menurut Imam Suyuthi

Artikel Utama

Adab Membaca al-Qur’an menurut Imam Suyuthi

Jalaluddin as-Syuyuthi atau yang lebih populer dengan nama Imam Suyuthi adalah salah satu cendekiawan muslim bermadzhab Syafi’i yang menguasai berbagai bidang keilmuan. Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab karya beliau yang sangat beragam dan tidak hanya terpaku pada salah satu bidang keilmuan saja. Dalam bidang ilmu al-Qur’an, Imam Suyuthi mengarang kitab yang berjudul “Al-Itqon fi Ulumi al-Qur’an” yang membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan al-Qur’an seperti turunnya al-Qur’an, mukjizat al-Qur’an, tartil al-Qur’an dan takwil al-Qur’an.

Dalam kitab Manhajus Sawi yang membahas tentang adab atau tata krama murid terhadap gurunya, Imam Malik pernah berkata kepada Imam Syafi’i “Hai Muhammad (bin Idris-panggilan Imam Syafi’i), jadikanlah ilmumu itu seperti garam dan dan jadikanlah adabmu seperti tepung!”. Dalam kitab itu juga, dikisahkan bahwa Abdurrahman bin Qosim berkata, “Saya pernah berkhidmat selama 20 tahun kepada Imam Malik. Dalam 20 tahun tersebut, saya hanya 2 tahun belajar ilmu dan 18 tahun sisanya saya belajar adab, seandainya saja saya memanfaatkan seluruh waktu tersebut untuk belajar adab”. Dari kisah ini, sudah jelas bahwa adab mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Ilmu. Al-Qur’an sebagai Kalamul Allah SAW dan kitab suci orang Islam, tentu saja sangat pantas untuk dihormati dan diperlakukan secara beradab.  Karena itu, dalam buku Al-Itqon Fi Ulumi al-Qur’an Imam Suyuthi menghimpun hadis, perkataan para sahabat, tabi’in dan ulama tentang adab dalam membaca al-Qur’an ditinjau dari segi waktu, tempat dan keadaan pembaca.

و قد كان صلى الله عليه و سلم يكره أن يذكر الله إلاّ على طهر

Rasulullah itu tidak suka jika berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci. Adapun membaca al-Qur’an adalah dzikir yang paling utama. Karena itu, disunnahkan orang yang membaca al-Qur’an untuk mempunyai wudhu, meskipun membaca al-Qur’an dalam keadaan tidak mempunyai wudhu atau dalam keadaan berhadas kecil tidaklah menyebabkan dosa. Sudah sepatutnya orang yang ingin membaca al-Qur’an itu dalam keadaan suci sebagai bentuk penghormatan terhadap istimewanya al-Qur’an.

Salah satu bentuk penghormatan al-Qur’an yang lain adalah hendaknya membaca al-Qur’an di tempat yang suci. Dan tempat yang paling baik untuk membaca al-Qur’an adalah masjid. Tetapi bukan berarti kita hanya boleh membaca al-Qur’an ketika di masjid saja. Al-Qur’an boleh dibaca di mana saja tetapi alangkah baiknya jika tempat kita membaca al-Qur’an itu bersih dan suci. Bersamaan dengan itu, sunnah membaca al-Qur’an dengan menghadap kiblat dan membacanya secara khusyu dan khidmat sambil merenungi makna dari ayat yang dibaca.

Ditinjau dari segi waktu, menurut Imam Nawawi, waktu-waktu yang paling baik untuk membaca al-Qur’an adalah setelah sholat, pada malam hari, sepertiga malam terakhir dan waktu antara sholat maghrib dan isya, karena merupakan waktu yang mustajabah. Banyaknya waktu utama membaca al-Qur’an justru pada malam hari memberi peluang bagi manusia untuk melakukan aktifitas di siang hari untuk hal lain dengan maksimal. Selain itu, membaca al-Qur’an di malam hari seolah menjadi penutup yang baik dari semua aktifitas yang sudah dilakukan seharian.Adapun waktu utama untuk membaca al-Qur’an ketika siang hari adalah setelah sholat subuh. Hikmah dari keutamaan waktu ini adalah agar kita bisa mengawali hari dengan melakukan perbuatan yang baik. Adapun hari-hari tertentu yang lebih disunnahkan untuk membaca al-Qur’an adalah karena keutamaan hari tersebut, seperti hari arafah, hari jum’at, hari senin, hari kamis, awal bulan dzulhijjah dan sepanjang bulan ramadhan.

Adab yang berhubungan dengan al-Qur’an sebenarnya masih sangat banyak dan akan selalu berkembang dan menyesuaikan dengan keadaan. Karena tata krama itu selalu berhubungan dengan konteks yang dihadapi. Sebagai muslim, kita tentu mempunyai naluri untuk menghormati dan memuliakan al-Qur’an baik ditinjau sebagai mushaf maupun kitab suci melebihi buku atau sesuatu yang lain. Contoh sederhana, bagaimana perasaan kita jika ketika sedang membaca al-Qur’an, lalu ketika membuka halaman selanjutnya secara tak sengaja kertasnya robek?

Wallahu a’lam bis shawab

Continue Reading
Klik di sini
jazilati afifah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel Utama

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top