Artikel Utama, Bedah Buku, Sejarah

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ MENURUT SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI

HIKMAH ISRA’ MI’RAJ MENURUT SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI (1944-2004); Catatan Singkat Khataman Kitab al-Anwar al-Bahiyyah

.

MajalahNabawi.com- “Tiap tahun kita memperingati Isra’ Mi’raj, untuk apa?” Demikian seorang teman bertanya seusai saya mengikuti peringatan Isra’ Mi’raj virtual yang diadakan oleh Mahasiswa CSS Mora, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemarin malam, 12 Maret 2021.

Sejarah dan proses perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha sudah sering diceritakan. Berulang-ulang setiap tahunnya.” Demikian sergah seorang teman tadi. Dengan nada kecewa, ia menambahkan; “Setelah usai peringatan, umat lantas segera melupakannya. Diulang kembali tahun depan. Begitu seterusnya. Lantas untuk apa? Bisakah peringatan tersebut bernilai strategis memajukan bangsa dan peradaban.”

Kegundahan teman di atas bukanlah sesuatu yang baru dan mengagetkan. Pada dasarnya, jika ajaran agama tidak dimaknai dan dihidupi, maka akan menjadi ritual yang hampa makna. Hal ini berbeda, jika ritual agama dijalani dan direngguk spiritnya. Ritual agama dapat menjadi mesiu peradaban.

Pakar antropologi, Victor Turner (1920-1983) dalam bukunya “The Ritual Process: Structure and Anti-Structure” (1969) menyatakan bahwa salah satu manfaat ritus agama adalah memberikan kekuatan dan motivasi baru untuk hidup bagi masyarakat sehari-hari.

Literatur Klasik-Kontemporer Isra Mi’raj

Terkait pemaknaan Isra’ Mi’raj di atas, banyak literatur klasik dan kontemporer yang bisa ditelaah. Sebagai misal, Imam al-Qusyairi (376-465 H) menulis kitab yang berjudul “al-Mi’raj”, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (773-852 H) menulis risalah berjudul “al-Isra wa al-Mi’raj”.

Demikian juga Imam al-Suyuthi (849-911 H) menulis kitab “Ayat al-Kubra fi Syarh Isra’ wa Mi’raj”. Beberapa nama ulama kontemporer ialah Syaikh Muhammad Mutawalli al-Sya’rawi (1911-1998), menulis kitab “al-Mu’jizah al-Kubra al-Isra wa al-Mi’raj”, dan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki (1944-2004) menganggit karya berjudul “al-Anwar al-Bahiyyah”.

Baca Juga:   Belajar Kerukunan Beragama dari Nabi Muhammad SAW

Kitab al-Anwar al-Bahiyyah

Terkait yang terakhir, kitab al-Anwar al-Bahiyyah karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menarik..

Terkait yang terakhir, kitab al-Anwar al-Bahiyyah karya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki menarik untuk dikaji. Terlebih untuk menjawab pertanyaan teman di atas. Di bagian akhir kitab setebal 114 halaman itu, Sayyid Muhammad menjelaskan tiga hikmah dari peristiwa Isra’ Mi’raj.

Pertama, Isra’ Mi’raj menjadi salah satu bentuk keutamaan Nabi Muhammad. Kedua, dalam Isra Mi’raj, terjadi peristiwa dimana Kanjeng Nabi Muhammad mengimami shalat para nabi. Hal ini menunjukkan kemuliaan beliau. Sebagai umatnya, tentu kita harus lebih cinta dan antusias meneladani sunnahnya.

Ketiga, peristiwa Isra’ Mi’raj menunjukkan arti penting pemaknaan ibadah shalat. Di bagian ini, Sayyid Muhammad menjelaskan lebih detail. Jika Isra’ Mi’raj adalah peristiwa naiknya Nabi menerima perintah shalat wajib lima waktu, maka shalat lima waktu itu adalah momentum bagi umatnya untuk menaikan dan menyambungkan ruh dan hatinya kehadirat Allah ta’ala.

Tiga makna Isra’ Mi’raj ini, tentunya sangat penting untuk terus dirawat dan diperbaruhi. Dari sanalah, kita dapat merawat rasa cinta kepada baginda Nabi, serta lebih bisa memaknai ibadah shalat yang rutin dijalani tiap hari. Dengan ini semua, setiap individu selalu terbarui spirit hidupnya. Termotivasi untuk menebar kebaikan dalam rangka mengisi peradaban dan keadaban.

.

Lantas tertarikah anda?

Muhammad Hanifuddin, Lc, S.S.I
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.