Artikel Utama

Mempertanyakan Korelasi Sifat Qudrat Allah Swt

Fauzan amaluddin Written by Fauzan amaluddin · 3 min read

Majalahnabawi.com – Salah satu hobi saya adalah mendengar podcast. Nah, salah satu podcast yang tidak pernah absen saya tonton adalah podcast close the doornya Om Dedy Corbuzer yang penuh perbincangan dan pertanyaan yang seru.

Seperti biasa, kalau ada video barunya nongol di beranda youtube, langsung saya play. Nah, kebetulan video hari ini Om Dedi ngobrol sama Fadlan Holao. Saya tidak tahu siapa dia, intinya asyik saja dengerin orang ngobrol ngalor-ngidul.

Kadang saya mikir, hari ini kok orang demen banget nonton orang ngobrol. sampai jumlah yang nonton bisa jutaan begitu. Kadang saya pikir itu aneh.

Tapi kok saya sendiri juga termasuk di barisan mereka. Apa benar ya kata Om Dedi, “karena sekarang banyak orang kesepian, butuh teman ngobrol.” Dipikir-pikir kok ada benarnya juga. Mungkin saya tidak akan nonton potdcast kalau ada doi yang bisa diajak telponan. Ha ha. I am here beb, where are you?

Apakah Tuhan Bisa Membuat Batu Yang Lebih Besar Dari-Nya?

Oke, jadi ceritanya tadi saya menyimak podcast itu sampai selesai. Yang membuat saya penasaran adalah obrolan tentang vidio tiktok dari seseorang cowok, tapi agak kemayu, yang katanya viral. Saya tidak tahu viral di mana, kebetulan hp saya tidak instal tiktok.

Nah, karena pensaran, saya cari di youtube dan ketemulah video itu. Videonya cuma beberapa detik saja, tapi yang membuat video ini viral karena isinya dianggap menggiring opini netizen untuk tidak percaya Tuhan, ada juga yang menganggap ajaran atheisme lah, macam-macam pokoknya. Tapi lumayan sih buat ide konten baru akhiukhti influencer dakwah. Eits..

Jadi dalam video itu, si Om kemayu itu eh nggak tahu deh om apa tante pokoknya yang lagi viral ini mempertanyakan, “Apakah Tuhan bisa membuat batu yang lebih besar dari-Nya?,” setelah pertanyaan itu, dia lanjut menantang. “Kalau bisa, berarti akan ada sesuatu yang lebih besar dari Tuhan, kalau tidak mampu berarti Tuhan tidak Maha Kuasa.” Katanya. Terus ditutup dengan kata, “Sudah jangan dipikir nanti jadi gila!!”

Baca Juga:   Mana yang Lebih Baik, Monogami atau Poligami?

Jawabannya

Bagaimana? Anda sudah mulai mendidih dan mencak-mencak? Tapi bingung mau jawab apa? Berikut ini akan saya ajarkan tutorial menjawab teori Omnipotence paradox. Itu nama teori pertanyaan yang diajukan si Om kemayu tadi. Baru dengar ya? Makanya mondok Bro! Anak kelas tiga ibtidaiyah pas ngaji Aqidah al-Awwam atau Tijan al-Durari sudah bolak-balik diskusi tentang beginian. Wkwkw

Jadi pertanyaan seperti ini bukan hal baru. Karena para filsuf zaman baheula juga sudah mempertanyakan itu. Misalnya Ibnu Rusyd, atau teolog yang Kristen deh, Thomas Aquinas, mereka sudah mempertanyakan hal itu. Jangan jauh-jauh deh, santri-santri Ibtidaiyah lirboyo, Sarang, atau Ploso, sudah bosen Pak, dengar pertanyaan begitu melulu kalau diskusi tauhid. He he. Kalau mau serius atheis mbok yo yang kreatif, jangan itu-itu saja jurus debatnya.

Oke jadi cara menjawab pertanyaan itu adalah dengan menyalahkan pertanyaannya. Jangan bingung dulu mas. Jadi Pertanyaan “Apakah Tuhan bisa membuat batu yang lebih besar dari-Nya?” itu pertanyaan yang salah. Kenapa? Karena yang ditanyakan adalah sesuatu yang masuk pada kategori mustahilul wujud (mustahil ada), sedangkan ta’alluq (korelasi) sifat Qudrah Tuhan itu kepada sesuatu yang mumkinul wujud (mungkin adanya).

Tambah pusing ya? Tapi percaya tidak? cukup dengan jawaban yang seperti ini saja, para atheis zaman baheula tak berkutik.

Kok bisa? Iyah, karena atheis zaman itu pintar-pintar. Mereka ngerti filsafat dan hukum realitas. Mereka ngerti terminologi wajibul wujud (wajib ada), mustahilul wujud dan mumkinul wujud, dan ketika dijawab dengan argumen seperti itu, yowes diam karena realitanya begitu.

Lah kalau atheis zaman sekarang dijawab begitu bakal tambah ngeyel. Ha ha, ya karena mereka tidak ngerti yang gitu-gitu.

Penjelasan Gampangnya

Okeh kalau Anda masih bingung, akan saya bahasakan lebih sederhana. Para filosof baik yang theis atau yang atheis sepakat bahwa realitas semesta menurut pandangan akal terbagi menjadi tiga;

Pertama, disebut wajibul wujud, sesuatu yang menurut akal wajib ada, pokoknya akal tidak akan nerima kalau hal itu tidak ada. Misalnya 2+2 harus, wajib, kudu 4 jawabannya. Itu namanya wajibul wujud.

Kedua, disebut mustahilul wujud, yaitu sesuatu yang secara akal tidak mungkin ada. Akal tidak akan nerima kalau hal itu ada dalam realitas. Misalnya 2+2= 5. Mustahil jawabannya lima, akal tidak akan terima itu, meski disogok, diancam, dirayu. Akal tetap bilang mustahil sayanggg…

Baca Juga:   Kudeta Dalam Pandangan Ahlusunah Waljamaah

Ketiga, adalah mumkinul wujud. Sesuatu yang secara akal boleh ada dalam realitas atau boleh saja tidak ada. Misalnya Anda, ada tidaknya diri Anda tidak berpengaruh dalam realitas semesta. Akal akan tetap menerima jika Anda ini muncul dalam realitas, begitu pula jika Anda ternyata tidak ada, akal tidak akan protes.

Nah, dalam tauhid yang dipelajari di pesantren, Sifat Maha kuasa Tuhan itu berlaku pada hal yang terakhir ini. berlaku pada sesuatu yang Mumkinul wujud bukan yang mustahilul wujud, dan itu tergantung kehendak Tuhan.

Sudah mulai paham di mana letak kesalahan pertanyaan si Om Kemayu tadi kan? Masih belum juga? Astaghfirullah

Bandingan Pertanyaannya

Begini deh, bandingan dari pertanyaan yang selevel dengan pertanyaan batu tadi begini:

Apakah Tuhan bisa mengubah 4+4 sama dengan 5, jangan 4?

Apakah Tuhan bisa membuat kotak tapi berbentuk lingkaran?

Paham kan?? Intinya batu yang besar melebihi Tuhan adalah pertanyaan salah, karena hal itu imajinasi yang tidak punya potensi muncul dalam realitas menurut akal.

Belum juga paham? jangan sampai saya mencontohkan pertanyaan terakhir, apakah Tuhan bisa membuat Anda tidak jomblo? Haha….( yang terakhir skip)

Lagi pula konsep besar kecil menurut kita dan Tuhan juga pasti berbeda Mas, Mba. Tuhan itu Zat yang tidak butuh ruang dan waktu karena Dia yang menciptakan ruang dan waktu. Dia adalah Zat Yang Maha Suci dari ikatan ruang dan waktu. Sementara yang ditanyakan menggunakan konsep besar kecilnya manusia. yo nggak  nyambung blas.

Pokoknya masih lebih nyambung tukang rujak, meskipun akuarium diisi buah bukan ikan cupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.