Amaliyah, Artikel Utama

Falsafah Stoa Melawan Kerusakan Lingkungan Konsep Eco-Friendly Lifestyle

Penulis: Bayu Pradana · 3 min read

Majalahnabawi.com – Hari ini kita semua berperang melawan kerusakan lingkungan. Sebagian dari kita sadar akan hal ini, namun sebagian yang lain belum atau bahkan sama sekali tidak sadar.

Dilansir dari The Guardian, sebuah komunitas global bernama YouGov, memaparkan hasil survei mereka sebanyak 18% responden asal Indonesia mengakui ‘ada’ perubahan iklim nyata, tetapi ‘tidak disebabkan oleh ulah manusia’. Lebih tinggi dibanding responden Arab Saudi (15%), dan Amerika Serikat (13%). 6% lainnya bahkan tidak percaya bahwa iklim dunia telah berubah. Dalam survei yang sama Indonesia sendiri menempati peringkat pertama sebagai negara yang membantah terjadinya perubahan iklim dengan alasan tersebut, dari 23 negara tempat dilaksanakannya survei.

25% orang Indonesia percaya manusia menjadi sebab utama terjadinya perubahan iklim, tetapi 29% lainnya menyatakan penyebab utamanya adalah faktor lain di luar manusia, dan 21 persen sisanya menjawab tidak tahu. Lantas hal apakah yang menjadi fokus masyarakat Indonesia mengenai krisis global?

Pada survei yang terpisah oleh YouGov, Indonesia hanya mendapat skor 11,4% kepedulian terhadap perubahan iklim, lebih rendah dari poin kestabilan ekonomi (15,9%) dan terorisme internasional (19,8%). Tentu, isu kesadaran akan menjadi topik utama dalam pemecahan masalah iklim di Indonesia.

Perubahan Iklim Karena Tingkah Laku Manusia

Pada perkembangannya, dunia telah masuk pada era globalisasi, di mana batasan antar negara seakan-akan hilang khususnya dalam menerima dan memberi informasi. Semakin cepatnya penyebaran berita pada akhirnya akan berdampak pada pola pikir dan budaya masyarakat global yang semakin lama semakin berbaur satu sama lain tanpa mengenal jarak. Pada tahap ini, sewajarnya isu ‘kesadaran’ terutama dalam bidang bidang krusial seperti sosial, kemasyarakatan, dan lingkungan akan terkikis sedikit demi sedikit.

Seperti survei yang telah disebutkan di atas, banyak orang yang secara umum telah sadar bahwa perubahan iklim telah terjadi, sekaligus sadar bahwa manusia adalah salah satu penyebab utama perubahan tersebut, hanya saja di level personal, rekognisi masyarakat Indonesia mengenai apa atau siapa penyebab terbesar perubahan iklim tersebut masih kurang. Oleh karena itu, sebenarnya tugas kita sebagai agen sosial akan sedikit lebih mudah karena secara garis besar kesadaran itu telah ada, tinggal bagaimana cara membangkitkan, menumbuhkan atau bahkan membudayakan kesadaran tersebut.

Eco-Friendly Lifestyle

Menerapkan Eco-Friendly Lifestyle (gaya hidup ramah lingkungan) adalah salah satu solusi. Di mana Eco-Friendly Lifestyle berangkat dari kesadaran akan kerusakan lingkungan sekaligus apa yang secara pribadi telah kita ‘kontribusikan’ terhadap kerusakan tersebut, selain itu Eco-Friendly Lifestyle mudahnya bisa dimulai dari level personal yaitu diri kita sendiri. Permasalahannya adalah, dalam memulai sesuatu yang sifatnya personal, kita seringkali butuh ‘pegangan’. Di mana ‘pegangan’ itu harus berupa sesuatu yang bisa menjawab walaupun tidak semua, setidaknya sebagian besar pertanyaan pertanyaan yang akan muncul kedepannya ketika kita sudah mulai atau bahkan jauh melangkah dengan tindakan tersebut, apalagi kebanyakan pertanyaan tersebut bisa jadi membuat kita ragu akan tindakan kita sendiri. Untuk permasalahan ini penulis menawarkan konsep yang dibawakan oleh Stoa.

Baca Juga:   Sisi Lain Huruf "Ba" dalam Hadis

Falsafah Stoikisme atau Stoa menawarkan 5 konsep yang menurut penulis bisa menjadikan hidup lebih ‘hidup’, dan singkatnya mungkin bisa diterapkan pada dunia personal dan menjadi salah satu solusi dari permasalahan kesadaran ini. Di antara kelima konsep tersebut yaitu: fokus pada hal-hal yang berada di bawah kendali kita sendiri, hidup harmonis dengan alam, ciptakan kebahagiaanmu sendiri , tidak memperumit suatu masalah, dan senantiasa bersyukur. Konsep pertama: Hidup terdiri dari 2 hal, yang bisa kita kendalikan dan yang tidak.

Dalam kehidupan bersosial tentu kita akan dihadapkan pada permasalahan ‘ingin memulai sesuatu, tetapi takut respon orang lain’ termasuk dalam hal memulai gaya hidup yang Eco-Friendly. Pada konsep Stoa, hidup terdiri dari 2 hal, yang bisa kita kendalikan dan yang tidak. Kita tidak bisa mengendalikan respon orang lain terhadap apa yang kita perbuat, tetapi kita bisa mengendalikan perasaan kita atas respon orang lain.

Kesadaran Terhadap Lingkungan

Memulai untuk hidup Eco-Friendly di tengah masyarakat yang bahkan masih ada yang belum sadar akan perubahan iklim tentu akan menuai banyak komentar, kita tidak bisa mengendalikan itu, tetapi kita bisa mengendalikan bagaimana kita akan merespon komentar tersebut. Apakah kita akan marah atau sedih karena tidak ada dukungan? Atau bahkan kita akan bahagia karena bisa menjadi orang-orang yang pertama kali sadar akan isu ini? Semua itu kita yang mengatur. Hal ini berkaitan dengan konsep yang ketiga yaitu: ciptakan kebahagiaanmu sendiri.

Menurut Marcus Aurelius, salah satu filsuf stoic menjelaskan bahwa apa yang kita dengar itu hanyalah opini, bukan kebenaran, dan apa yang kita lihat adalah perspektif, bukan fakta. Selama hal itu membuat kita bahagia, benar, dan tidak merugikan orang lain, maka lakukan saja. Nilai tambah lebih jika hal yang membuat kita bahagia itu bisa bermanfaat bagi orang di sekitar kita.

Dengan bergaya hidup Eco-Friendly, maka kita bukan hanya bermanfaat bagi orang di sekitar kita, tetapi bahkan seluruh dunia merasakan manfaatnya, apalagi kita berhasil membuat orang lain tertarik untuk ikut bergaya hidup seperti ini. Memang pada awalnya akan terasa berat karena setiap hari kita harus memilah apa saja yang baik untuk alam dan yang tidak, padahal sebenarnya, kegiatan memilah tersebut menjauhkan kita dari masalah masalah baru.

Baca Juga:   Islam dan Pelestarian Lingkungan Hidup

Hitung saja berapa total sampah plastik yang dikumpulkan Indonesia per tahunnya, dilansir dari Rumah.com, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Dengan tidak memilah penggunaan bahan tersebut, kita ikut menyertakan diri dalam permasalahan lingkungan baru, seperti rusaknya rantai makanan, pencemaran tanah dan air, dan kematian hewan secara tidak wajar. Dari hal tersebut kita bisa mencerminkan konsep kedua dan keempat, yaitu hidup harmonis dengan alam dan tidak mempersulit suatu masalah. Karena ‘tidak mempersulit’ bukan hanya tentang menyederhanakan, tetapi juga tentang ‘tidak menambah masalah baru’.

Efisiensi Mengkonsumsi Barang

Sebenarnya penerapan Eco-Friendly Lifestyle bukan tentang memilih bahan dari barang yang akan kita gunakan saja, tetapi juga tentang efisiensi penggunaannya. Ada slogan yang menarik dari implementasi konsep efisiensi ini yaitu ‘less is more’ di mana pada penerapannya, kita menggunakan barang sesedikit dan sesederhana mungkin dengan memaksimalkan fungsi barang tersebut secara maksimal. Hal ini didasari dari pemikiran bahwa hampir setiap orang memiliki sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Konsep ini dinamakan juga konsep hidup minimalis.

Saat menerapkan gaya hidup minimalis, sesuatu yang tidak terlalu dibutuhkan perlu segera digantikan dengan sesuatu yang lebih banyak manfaatnya. Namun tidak hanya itu, gaya hidup minimalis juga berfokus pada memberikan dampak sebesar-besarnya kepada orang lain dan lingkungan sekitar. Konsep utama dari gaya hidup ini adalah meninggalkan sikap boros dan berlebihan, untuk hidup yang lebih sederhana namun berkualitas. Gaya hidup ini erat kaitannya dengan konsep terakhir yaitu: senantiasa bersyukur dengan penerapan hidup yang tidak boros dan seadanya. Bisa kita simpulkan bahwa untuk memulai sesuatu yang baik memang tidak mudah, tetapi dengan tekad yang kuat, dan dengan menghilangkan semua keraguan, maka kita bisa jadi awal yang baik bukan hanya untuk orang di sekitar kita, tetapi juga dunia secara luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.