Keguguran ketika mengandung masih menjadi momok yang menakutkan bagi ibu hamil dan pastinya ibu hamil manapun yang  menyayangi si jabang bayi  tidak ingin mengalaminya. Berbicara prihal keguguran, lantas apakah janin tersebut dishalatkan?

Berangkat dari pemahaman dari hadis Riwayat Abu Dawud:

حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ, عَنْ خَالِدٍ, عَنْ يُونُسَ, عَنْ زِيَادِ بْنِ جُبَيْرٍ,ِ عَنْ أَبِيْهِ, عَنْ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ وَأَحْسَبُ أَنَّ أَهْلَ زِيَادٍ أَخْبَرُونِي أَنَّهُ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الرَّاكِبُ يَسِيرُ خَلْفَ الْجَنَازَةِ وَالْمَاشِي يَمْشِي خَلْفَهَا وَأَمَامَهَا وَعَنْ يَمِينِهَا وَعَنْ يَسَارِهَا قَرِيبًا مِنْهَا وَالسِّقْطُ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَيُدْعَى لِوَالِدَيْهِ بِالْمَغْفِرَةِ وَالرَّحْمَةِ. (رواه أبو داود)

Dari Mughirah bin Syu’bah, dia menyatakan haditsnya marfu’ kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Orang yang mengantar jenazah dengan menaiki tunggangan hendaknya berjalan di belakang jenazah. Sedangkan orang yang berjalan kaki berjalan di belakangnya, di depannya, dari samping kanan dan kiri jenazah dekat dengannya. Janin yang keguguran dishalatkan dan dido’akan untuk kedua orang tuanya agar diberi ampunan serta rahmat Allah.” (H.R. Abu Daud)

Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, sahabat Ibnu Umar menegaskan bahwa janin tersebut tetap disahalatkan meski sebelumnya tidak menagis (bernyawa), hal senada pula disampaikan oleh Ibnu Sirin dan Ibnu Musayab.

Sedangkan menurut Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Ruhawaih setiap yang ditupkan padanya ruh dan sempurna dalam kurun waktu empat bulan sepuluh hari maka ia dishalatkan.

Adapun menurut Ishaq yang berhak dishalati ialah janin yang sudah bernyawa sebab ia sudah menjadi jiwa sempurna yang telah ditetapkan padanya kebahagian dan kesengsaraan, pendapat ini juga diperkuat oleh  riwayat Ibnu Abbas dan Jabir yang menyatakan apabila tidak bernyawa maka ia tidak dishalatkan, begitu juga menurut imam Malik, Auza’i dan imam Syafii.

Melihat kondisi masyarakat di Indonesia yang pada umumnya menganut madzhab Syafii maka pendapat yang menyatakan apabila tidak bernyawa maka tidak dishalatkanlah yang paling banyak digunakan.

Wallahu’alam