Sejarah, Tokoh

Ibnu Sina sang Bapak Kedokteran dan Pemikirannya

Penulis: Faiz Aidin · 2 min read
ibnu sina- Avicenna

Majalahnabawi.com – Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Hasan bin Ali Sina. Dikenal di Eropa dengan nama Avicenna.

Ibnu Sina dilahirkan pada tahun 370 H/ 980 M di desa Kharmeisan, Bukhara, Uzbekistan. Ayahnya bernama Abdullah, dan ibunya bernama Saterah.

Sejak kecil, Ibnu Sina yang bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan keilmuan, terutama ilmu yang disampaikan oleh ayahnya. Semangatnya membaca dan kecerdasan yang sangat tinggi, membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina jangan dibebankan pekerjaan apapun, selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina mengerahkan semua perhatiannya kepada ilmu. Ibnu Sina selalu membaca buku di mana pun berada, dan membaca satu buku berulang-ulang kali. Di setiap satu kali beliau menyelesaikan membaca satu buku, maka beliau mendapatkan pengetahuan baru dari buku yang dibacanya.

Kejeniusan Ibnu Sina membuatnya menguasai banyak ilmu di semua bidang, baik bidang agama maupun bidang ilmu umum. Meskipun usianya masih muda, Ibnu Sina sudah mahir di semua bidang ilmu, khususnya bidang kedokteran. Sehingga raja Bukhara yang bernama Nurdin Manshur yang memerintah pada tahun 366-387H suatu ketika sakit, dan dia memanggil Ibnu Sina ke istana untuk mengobatinya.

Karena hal itu, Ibnu Sina leluasa keluar masuk perpustakaan istana Samaniah yang besar. Setelah Ibnu Sina mengenal perpustakaan itu, lalu beliau berkata: “Semua buku yang aku inginkan itu ada di perpustakaan itu. Bahkan, aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang tidak pernah mengetahui namanya. Aku sendiripun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu, aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin aku memanfaatkannya. Ketika usiaku 18 tahun, aku telah berhasil menguasai dan menyelesaikan semua ilmu.”

Meskipun dalam keadaan genting perpolitikan di tempat Ibnu Sina tinggal, Ibnu Sina tetap menulis banyak buku, di antara bukunya yang terkenal adalah kitab al-Syifa dalam bidang kedokteran sebanyak 18 jilid yang membahas teori-teori filsafat, bukunya tersebut diakui dan digunakan di penjuru negeri, bahkan diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan bahasa asing.

Baca Juga:   Ajaran Rasa Jalaluddin al-Rumi

Selain kitab al-Syifa, di antara karya Ibnu Sina adalah kitab al-Qanun dalam bidang kedokteran yang menjadi rujukan utama selama berabad-abad dalam hal kedokteran dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin, bahasa Inggris, bahasa Perancis, dan bahasa Jerman.

Ibnu Sina dikenal dengan bapak kedokteran. Masih banyak lagi kitab-kitab karya Ibnu Sina dan sudah banyak yang diterjemahkan ke bahasa latin dan bahasa asing. Buku Ibnu Sina yang berbahasa latin berjudul De Conglutinetion Lagibum, dalam salah satu bab buku ini, Ibnu Sina membahas asal muasal nama gunung-gunung. Menurutnya kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab; pertama, menggelembungnya kulit luar bumi yang terjadi karena goncangan hebat gempa. Kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir, angin juga berperan yang meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di permukaan luar bumi.

Menurut Ibnu Sina, seorang baru dianggap sebagai ilmuwan jika sudah menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles dalam bidang filsafat. Ibnu Sina mengakui telah membaca buku Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Ibnu Sina mengetahui secara mendalam maksud dari kitab tersebut secara sempurna setelah membaca kitab Syarah Metafisika karya al-Farabi, seorang filsuf yang hidup sebelum masa Ibnu Sina.

Dalam filsafat, kehidupan Ibnu Sina melewati dua tahapan yang penting, yaitu; periode pertama, ketika Ibnu Sina menganut paham filsafat Paripatetik, Ibnu Sina menerjemahkan pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari paham Paripaterik menuju paham filsafat Iluminasi.

Berkat telaah filsuf sebelumnya seperti al-Kindi dan al-Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat Islam yang berkoordinasi dengan rapih. Pekerjaan  besar Ibnu Sina adalah menjawab pertanyaan filsafat yang belum terjawab sebelumnya. Pengaruh pemikiran kedokteran dan filsafat Ibnu Sina merambah ke negeri Islam dan Eropa. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh pemikir barat.

Baca Juga:   Imam Al-Khalil bin Ahmad; Kekecewaan sebagai Tonggak Kesuksesan

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H pada usia 58 tahun di Hameda, Iran. Ibnu Sina wafat setelah menyumbangkan banyak hal khazanah keilmuan dan kitab-kitab yang sangat berpengaruh kepada kehidupan manusia. Nama Ibnu Sina akan selalu dikenang sepanjang masa, terutama dalam bidang kedokteran.

Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.