Sosial Politik

Islam dan Sustainable Development Goals 2030

Avatar Written by Admin · 4 min read

Sustainable Development Goals (disingkat dengan SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan adalah 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur dan terbagi dalam 300 indikator dengan deadline yang telah ditentukan oleh PBB sebagai agenda pembangunan dunia demi kemaslahatan manusia dan ketahanan planet bumi. Tujuan ini dirancang bersama oleh negara-negara anggota PBB yang diterbitkan pada 21 Oktober 2015 di New York, Amerika Serikat sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Goals atau tujuan ini merupakan program lanjutan serta penyempurnaan dari Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) yang ditandatangani oleh pimpinan dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015.

Pada bulan Agustus 2015, 193 negara yang diwakilkan oleh masing masing pimpinannya, menyepakati 17 tujuan  yang dicanangkan untuk membuat dunia menjadi lebih baik lagi. Diantara negara negara tersebut, banyak juga negara muslim atau mayoritas muslim yang ikut menandatangani, diantaranya Indonesia yang dalam pelaksanaanya dipimpin oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPENNAS). Dari 17 poin poin tujuan tersebut, ada 4 pilar pembangunan yang dicoba dibangun melalui SDGs ini, diantaranya yaitu Pilar Pembangunan Sosial, Pilar Pembangunan Ekonomi, Pilar Pembangunan Lingkungan, serta Pilar Pembangunan Hukum dan Tata Kelola. 4 pilar tersebut semuanya dinilai baik dan tidak ada yang menyinggung garis hukum Islam, bahkan bisa disebut pula bahwa keseluruhan poin tersebut sangat sejalan dengan ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah SAW. Beberapa diantaranya malah sudah pernah berhasil dijalankan oleh umat Muslim pada masa kejayaan Islam dan tercatat abadi dalam perabadan umat manusia. Pembahasan poin per poin lengkapnya sebagai berikut :

1. No Poverty/Menghapuskan kemiskinan

Sejarah mencatat, pada masa Dinasti Bani Umayyah, tepatnya pada kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau mengutus seorang amil zakat bernama Yahya bin Said untuk menagih mengambil zakat ke Afrika. Uniknya, dalam riwayat, Yahya bin Said berujar ‘’Setelah mendapatkannya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun,’’

Pada era itu, Khalifah Umar bin Abdul Aziz telah mengeluarkan rakyatnya dari kemiskinan. Semua rakyatnya, dengan rahmat Allah sudah hidup sejahtera dan berkecukupan. Kemudian Yahya bin Said berujar ‘’Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli budak lalu memerdekakannya,’’. Kemakmuran umat Islam pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz tak hanya di Afrika, tetapi juga merata di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam, seperti Irak dan Basrah. Bahkan dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa karena terlalu banyaknya stok pangan di masa itu, gandum gandum ditebarkan diatas gunung untuk pangan burung burung liar.

2. Zero Hunger/Mengakhiri kelaparan

Dalam buku Umar Bin Khattab Sang Legenda (2012) karya Yahya Bin Yazid Al Hukmi Al Faifi, dikisahkan bahwa Abdullah meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, diceritakan bahwa Umar Bin Khattab sedang berpuasa, dan pada masa itu sedang musim kemarau di Arab. Umar Bin Khattab selaku khalifah selalu pulang membawa roti untuk kemudian disiram minyak dan dijadikan makanan untuk berbuka puasa. Suatu hari, ada beberapa orang yang menyembelih unta untuk dibagikan. Ketika itu Umar Bin Khattab mendapatkan bagian punuk dan hati unta yang mana merupakan bagian paling enak dari daging unta, Umar bertanya ‘Dari mana kalian mendapatkan (makanan) ini?’. Mereka menjawab, ‘dari unta yang disembelih tadi siang’.

Baca Juga  Memberi Makanan Kesukaan Untuk Orang Sakit

Umar berujar ‘wah, celaka! saya adalah seorang pemimpin yang paling buruk, saya mendapatkan bagian yang paling enak, sementara rakyat saya mendapatkan sisa-sisanya. Angkat daging ini dan berikat saya makanan selain ini!’. Kemudian orang orang itu membawakan Umar roti yang dilumuri minyak seperti yang biasa ia makan, lalu roti itu dipotong potong oleh Umar seraya memanggil pelayannya bernama Yarfa dan berkata ‘kemarilah ya Yarfa! (seorang, bawa makanan ini dan antarkan kepada keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Sudah tiga hari saya tidak melihat mereka, sepertinya mereka sudah kehabisan makanan’.

3. Good Health and Well-Being/Memastikan kehidupan yang sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua untuk semua usia

Rasulullah SAW sangat peduli dengan kesehatan, terutama kesehatan ummatnya. Banyak sekali hadis hadis yang walaupun asbabul wurudnya tidak berkaitan dengan kesehatan, tetapi dalam perkembangannya terbukti bahwa hadis itu mengandung nilai nilai kesehatan, seperti dalam hadis dilarang minum berdiri. Beliau juga senantiasa mencontohkan gaya hidup sehat, dalam peran beliau sebagai uswatun hasanah. Gaya hidup sehat itu dapat kita rasakan dengan mulai mengkonsumsi makanan sehat, karena dalam hadist Rasulullah memerintahkan ummatnya hanya untuk memakan makanan yang halal dan baik, kecuali dalam waktu yang sangat sangat mendesak. Rasulullah juga melarang tabdzir atau berlebihan dalam sesuatu sehingga terbuang sia sia, karena sesungguhnya dalam perintah itu ada hikmah yaitu untuk berbagi kepada yang lebih membutuhkan daripada terbuang, agar kesejahteraan dan keseimbangan ummat merata.

4. Quality Education/Memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua

Saat pertama kali menjabat sebagai pemimpin secara politis di Arab, Nabi Muhammad SAW diuji oleh banyaknya pemberontakan. Oleh sebab itu, pada masa awal kepemimpinannya, beliau memusatkan perhatiannya untuk memerangi pemberontakan. Dikirimlah pasukan untuk membasmi pemberontak di Yamamah dan dikenal sebagai perang Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat Islam dari golongan penghafal Al-Qur’an yang gugur. Belajar dari kejadian itu, Umar bin Khatab menyarankan kepada khalifah Abu Bakar yang saat itu memimpin, untuk mengumpulkan ayat Al-Qur’an. Kemudian khalifah Abu Bakar mengutus Zait bin Tsabit untuk mengumpulkan semua mushaf mushaf Al-Qur’an yang tercecer. Dari sinilah, dimulainya sistem pendidikan Islam.

Pada masa itu, dibentuklah lembaga untuk belajar membaca dan menulis yang disebut dengan kuttab. Kuttab adalah lembaga pendidikan yang dibentuk setelah Masjid. Masjid pada zaman Nabi SAW dijadikan sebagai lembaga pendidikan Islam sekaligus tempat ibadah. Guru guru yang mengajar di tempat tersebut juga adalah guru guru terbaik yang pernah belajar langsung dari Rasulullah SAW, sehingga tidak ada perbedaan kualitas antara Masjid atau Kuttab satu dengan yang lainnya. Tentang inklusivitas, Nabi SAW tidak memperbolehkan siapapun dari umat Islam untuk datang dan berkunjung ke masjid yang saat itu menjadi tempat ibadah sekaligus tempat belajar.

5. Gender Equality/Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan dan anak perempuan

Hadist Hadist dalam kitab Shahih Muslim pada konteks tertentu, perempuan justru memiliki posisi istimewa dalam Islam. Salah satunya yaitu Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya “Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu.” Ada pula hadist saat Rasulullah SAW ditanya mengenai siapa orang yang harus dihormati di dunia setelah beliau, jawabannya adalah Ibu sampai 3 kali, baru kemudian bapak. Meskipun posisi perempuan dalam Islam sangatlah dimuliakan, perbedaan fisik antara laki-laki dengan perempuan jelas berbeda jauh. Dalam praktiknya, yang biasanya ikut berperang adalah laki-laki, karena fisiknya yang lebih kuat. Perempuan biasanya ikut membantu bagian logistik dan medis. Ada konsep yang  kuat tertanam dalam ajaran Rasulullah SAW, yang harus dibarengi jalannya bersamaan dengan kesetaraan gender, yaitu keadilan gender, dimana laki laki melakukan sesuatu yang sesuai porsinya, pun dengan perempuan.

Baca Juga  Bolehkah Memerangi Orang Kafir?

6.  Clean Water and Sanitation/Memastikan ketersediaan dan manajemen air bersih yang berkelanjutan dan sanitasi bagi semua

Ada sebuah Hadist Shahih dari riwayat Imam Ahmad tentang Rasulullah SAW yang memperingatkan manusia untuk tidak merusak lingkungan air dengan tidak melakukan pembuangan kotoran pada kawasan khusus. Teknik Rasulullah SAW dalam mengajarkan manajemen sanitasi sebenarnya sangat mudah dipahami dan dilaksanakan, contohnya dengan melarang buang air kecil di air yang tidak bergerak. Jika seseorang buang air kecil pada air yang tidak mengalir, dampakya tentu akan datang ke orang lain pula. Pengetahuan seperti itu sebenarnya adalah pengetahuan dasar yang anak kecil pun tahu, tetapi dengan menekankannya lewat hadist beliau, maka kita pasti akan lebih sadar pentingnya air.

7. Affordable and Clean Energy/Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau, dapat diandalkan, berkelanjutan dan modern bagi semua

Dalam Islamic Technology:An Illustrated History, Ahmad al-Hassan dan Donald Hill menulis,  Sebenarnya, peradaban pra-Islam juga telah mulai memanfaatkan air dan angin sebagai energi. Tak ayal jika kincir air dan angin pun tumbuh pesat di dunia Muslim, dan dikisahkan didalam buku buku tarikh peradaban Islam. Selain itu, al-Hassan dan Hill juga menemukan ada sejumlah karya ilmuwan lainnya yang berbentuk risalah mengenai permesinan. Salah satu contohnya risalah karya al-Muradi. Menurut keduanya, risalah al-Muradi itu membahas tentang percobaan pembuatan mesin minim energi. Secara modernitas teknologi yang bisa diandalkan, Islam pada masa jayanya berhasil membuat banyak sekali penemuan penemuan baru yang membuat decak kagum. Akses untuk itu juga tidak terbatas, semua masyarakat yang hidup dalam wilayah kepemimpinan Islam, apapun agamanya berhak mengaksesnya. Namun yang jadi permasalahan adalah berkelanjutannya. Dimana setelah kejayaan Islam runtuh, pengembangan teknologi yang diantaranya tentang energi terbarukan tersebut seakan akan mati ditelan bumi, yang muncul malah umat umat diluar Islam yang tadinya belajar kepada ilmuwan ilmuwan muslim. Sampai pada puncaknya yaitu ketika Revolusi Industri, dimana energi uap menjadi tulang punggung perekonomian. Energi tersebut ditemukan oleh orang James Watt yang menyempurnakan penemuan Thomas Savery. Bisa ditebak, keduanya bukan beragama Islam. Sampai pada titik dimana kita hari ini, detik ini, Revolusi 4.0, masih jarang sekali ilmuwan ilmuwan Muslim yang menonjol di bidang energi terbarukan. Lantas, kemana taring itu hilang?

Written by Admin
Media Keilmuan dan Keislaman Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.