>

Artikel Utama, Riwayat, Sejarah

Isra’ dan Mi’raj Nabi Saat Kedua Pelipur Lara Tiada

Avatar Written by Imam Budiman · 4 min read

Majalahnabawi.com – Tahun ke-6 Hijriah merupakan tahun di mana Rasulullah dirundung duka cita yang teramat dalam. Dimana sosok seorang paman yakni Abu Thalib yang selama ini melindungi telah meninggal dunia. Begitu pula dengan Khadijah, istri yang begitu sangat beliau sayangi dipanggil oleh Allah untuk menghadap-Nya.

Sosok Abu Thalib merupakan tokoh terpandang bagi masyarakat Mekah. Berkat didikannya, Muhammad muda tumbuh menjadi pemuda jujur dan ahli dalam berniaga serta jiwa kepemimpinan. Keberadaannya sangat berpengaruh besar terhadap Rasulullah. Terutama di awal fase kenabian. Dengan sepenuh jiwa dan raga, dia berjuang membela keponakannya demi menyampaikan risalah Islam, meski hingga akhir hayatnya para ulama masih memperdebatkan tentang status keimanannya.

Abu Thalib; Paman Pembela Nabi

Nama aslinya Abdul Manaf bin Abdul Muthalib. Namun ia lebih dikenal dengan panggilan Abu Thalib karena anak pertamanya bernama Thalib. Secara nasab Abu Thalib merupakan paman terdekat Rasulullah karena satu-satunya paman yang seibu dan seayah dengan ayah nabi Muhammad Saw yakni Abdullah bin Abdul Muthalib. Abdul Muthalib merupakan pemimpin Mekah yang sangat disegani kala itu, dari kedekatannya dengan sang ayahlah Abu Thalib mewarisi sifat jujur, amanah serta ahli dalam kepemimipinan.

Saat menjelang ajalnya, Abdul Muthalib lebih mempercayakan kepemimpinannya kepada Abu Thalib dibandingkan dengan anak-anaknya yang lain. Tugas untuk memenuhi segala kebutuhan dan keperluan jamaah haji yang biasa dilakukan oleh Abdul Muthalib diserahkan pada Abu Thalib. Kepadanya jugalah Abdul Muthalib mewasiatkan agar Muhammad, cucunya yang yatim piatu, berada dalam asuhan Abu Thalib. Meskipun ketika itu, Abu Thalib tidak mencukupi dalam hal kebutuhan finansial.

Dengan sepenuh hati Abu Thalib dan keluarganya membesarkan Muhammad kecil. Keelokan sifat dan perangai santun nan berakhlak Muhammad kecil membuat Abu Thalib beserta istrinya sangat mencintai dan menyayanginya. Namun, menyadari hidupnya berada dalam lingkungan yang memiliki banyak keterbatasan. Muhammad kecil berinisiatif membantu keluarga pamannya dengan mengembala kambing. Keluhuran budi pekerti yang kelak akan menjadi Rasul mulai terbentuk dalam keluarga ini. Kedekatan emosional paman dan keponakan ini begitu kuat. Hingga tiba saat dimana kalifah dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Thalib hendak berniaga ke negeri Syam, Muhammad kecil seolah tak rela melepas kepergian sang paman. Kesedihan Muhammad kecil inilah yang akhirnya membuat hati Abu Thalib luluh untuk mengajaknya ikut serta dalam berdagang.

Perjalanan Berdagang Bersama Paman Nabi

Mengajak Muhammad kecil yang ketika itu baru menginjak umur 12 tahun. Sebuah perjalanan yang dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan. Dalam perjalanan menuju Syam Abu Thalib benar-benar memperhatikan dengan kondisi Muhammad. Ketika perjalanan memasuki kota Basrah disaat yang bersamaan seorang pemdeta setempat yang bernama Buhairoh merasakan kedatangan tanda-tada kenabian. Buhairoh pun menjamu rombongan kalifah Mekkah demi membuktikan kebenaran dan prediksinya tersebut. Ternyata tanda-tanda kenabian telah terlihat dari Muhammad kecil. Buhairoh pun berkali-kali menasehati dan berpesan pada Abu Thalib agar bersungguh-sungguh menjaganya dari berbagai macam gangguan yang akan dihadapi oleh Muhammad.  Maka sekembalinya dari Syam, Abu Thalib kian waspada dalam menjaga Muhammad kecil. Amanat dari sang ayah dan pesan dari pendeta syam benar-benar dijaga hingga masa kerasulan tiba.

Baca Juga:   Memberi Makanan Kesukaan Untuk Orang Sakit

Geramnya Kafir Quraisy Kepada Dakwah Nabi

Ketika para orang-orang kafir Quraisy telah kehabisan cara untuk menghalangi dakwah nabi. Bahkan dengan iming-iming harta, wanita dan jabatan namun nabi tak pernah menghiraukan dengan penawaran itu. Maka kemarahan kafir Quraisy semakin memuncak. Mereka lalu bermusyawarah dan berencana untuk membunuh Nabi Saw. Mereka mennjuk masing-masing kabilah (suku) agar mengutus utusannya yang paling kuat, gagah dan paling berani membunuh Nabi Saw. Akan tetapi, sebelum mereka menyerang nabi, mereka bersepakat mengirimkan utusan terakhir pada Abu Thalib. Mereka pun pergi dan menghadap Abu Thalib untuk menyampaikan maksud dan tujuan mereka. Jika Abu Thalib tidak bisa menghentikan keponakannya menampaikan agama barunya, maka mereka akan membunuhnya.

Mendengar hal itu, alangkah terkejutnya Abu Thalib. Rasa kekhawatiran pun membuncah. Hatinya diliputi rasa cemas yang sangat. Hingga pada akhirnya ia pun memaksakan diri untuk menyampaikan berita itu dengan berkata: ”Wahai Muhammad, orang-orang itu datang dan meminta padaku agar menyampakan berita ini padamu agar menghentikan agama barumu itu karena aku sangat mengkhawatirkan dengan keselamatanmu.

Nabi Muhammad pun menjawab dengan fasihnya dan penuh keyakinan:

“Aku tak kuasa meninggalkan hal itu (Dakwah) meskipun karenanya mereka akan meletakan matahari di atasku.”

Pembelaan Abu Thalib

Ucapan nabi yang begitu teguh membuat pamannya terharu, simpatik dan semakin yakin dengan kebenaran agama Islam. Ketika para kafir Quraisy menemui Abu Thalib untuk yang kesekian kalinya, Abu Thalib berkata: ”Kalian tidak dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku.”

Pada mulanya Abu Thalib terlihat berada pada posisi tengah dan bersikap netral. Namun setelah melihat keyakinan nabi yang begitu teguh. Maka itu menjatuhkan pilihan Abu Thalib untuk membela hingga titik darah penghabisan.

Menjelang akhir hayatnya, sakit yang dialami oleh Abu Thâlib semakin payah, maka tak lama dari itu dia menemui ajalnya, yaitu pada bulan Rajab tahun 16 H dari kenabian setelah enam bulan keluar dari desanya. Ada pula suatu riwayat yang menyebutkan bahwa dia wafat pada bulan Ramadhan, tiga hari sebelum Khadijah r.a wafat.

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah

Setelah dua bulan atau tiga bulan dari wafatnya, Abu Thâlib, Ummul Mukminin, Khadijah al-Kubra Rhadiyallahu anha  pun wafat. Tepatnya, pada bulan Ramadhan tahun 10 H dari kenabian dalam usia 65 tahun sedangkan Rasulullah ketika itu berusia 50 tahun.

Baca Juga:   Dalil Mi'raj Dalam Surat al-Najm

Sosok Khadijah merupakan nikmat Allah yang paling besar bagi Rasulullah. Perempuan yang senantiasa menemani dalam suka dan duka selama seperempat abad hidup bersamanya, dia yang senantiasa menghibur disaat beliau cemas, memberikan dorongan di saat-saat paling kritis, menyokong penyampaian risalahnya, ikut serta bersama beliau dalam rintangan yang menghadang jihad dan selalu membela beliau baik dengan jiwa maupun harta.

Untuk mengenang itu, Rasulullah menyatakan bentuk kecintaanya pada Khadijah dalam sebuah sabdanya: ”Dia yang telah beriman kepadaku saat manusia tidak ada yang beriman, dia yang membenarkanku di saat manusia mendustakan, dia juga yang memodaliku dengan hartanya di saat manusia tidak menahannya, Allah mengaruniaiku anak darinya saat Allah tidak memberikannya dari istri yang lainnya.”

Di dalam kitab Shahîh, Abu Hurairah berkata: “Jibril a.s mendatangi Rasulullah Saw sembari berkata: ‘wahai Rasulullah! inilah Khadijah, dia telah datang dengan membawa lauk-pauk, makanan atau minuman; bila dia nanti mendatangimu, maka sampaikan salam Rabbnya kepadanya serta beritakan kepadanya kabar gembira perihal rumah untuknya di surga yang terbuat dari bambu yang tidak ada kebisingan dan juga menguras tenaga di dalamnya.

Isra’ Mi’raj Sebagai Penghibur Kesedihan Nabi Saw

Di kala kesedihan terasa purna menyesaki dada Rasulullah sebab ditinggalkan oleh kedua orang yang begitu beliau sayangi. Beliau merasa seolah tiada lagi celah harapan bagi agama Islam. Beliau merasa perjuanan ini akan semakin berat, Rasulullah seakan kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan beliau semakin berkunang-kunang tidak jelas. Maka dalam situai inilah rahmat Allah meliputi segalanya. Allah pun menghibur nabi dengan Isra’ Mi’raj (Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha dalam satu malam hingga naik ke Sidratul Muntaha’). Perjalanan ini diabadikan dalam al-Quran, Surah al-Isra’: 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya. Agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya dia maha mendengar, Maha melihat.

Betapa gembira hati nabi. Saat dimana malam itu beliau meratapi segala kepedihan dibawah Hijr Ismail, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan beliau selama ini. Lalu kemudian di malam itu pula beliau diajak oleh Rabbul Alamiin untuk “berjalan-jalan” menelusuri napak tilas perjuangan nabi-nabi sebelumnya. Bahkan dapat melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di Sidratul Muntaha’. Sungguh ini merupakan sebuah penyejuk hati bagi nabi, penawar dari segala kegundahan. Agar setelah itu beliau dapat memantapkan tekad untuk menyampaikan dakwah Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.