Tokoh

K.H Idris Kamali; Tokoh Besar dibalik Layar 

Avatar Written by Ahmad Rifai · 1 min read
KH Idris Kamali

K.H Idris Kamali, sosok ulama yang jarang dikenal masyarakat, merupakan seorang ulama yang lahir di tanah haram Makkah pada tahun 1887 dan memilih untuk menyebarkan syariat islam di Nusantara.

Nama beliau jarang didengar oleh masyarakat, beliau lebih suka menutupi popularitasnya, beliau lebih berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran islam dengan berdakwah sebagai figuran yang berperan “dibalik layar”

Dari segi keilmuan, beliau sudah banyak menghafal kitab-kitab matan seperti jurmiyah, alfiyyah, imrithi, taqrib, jawahir maknun, dsb.

Dan dari segi spiritual, beliau tergolong sebagai jejeran waliyullah karena kemampuannya yang bisa mengetahui kadar atau derajat seseoeang di hadapan Allah.

Meski demikian, K.H Idris Kamali lebih senang mengajar para santrinya ketimbang terjun dalam dunia politik atau bergabung dengan sebuah organisasi.

Setidaknya, ada dua alasan pokok mengapa beliau tidak berpartisipasi dalam politik atau organisasi.

Alasan pertama, memang sudah merupakan kehendak beliau sendiri untuk tidak ikut campur dalam masalah politik dan organisasi.

Hidup beliau sepenuhnya dikerahkan untuk mengajar dan berkhidmat terhadap para santrinya. Bahkan, beliau sangat jarang melakukan aktifitas di luar wilayah pondok bila tidak ada hajat atau kebutuhan tertentu. Maka tak jarang santri yang belajar bersama beliau menjadi tokoh-tokoh terkemuka dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam seperti K.H Ali Mustafa Yaqub, K.H Abdurrahman Wahid, dan K.H Maruf Amin.

Alasan kedua, beliau lebih suka menutup diri dari khalayak umum yang mana hal ini merupakan pengamalan dari sebuah maqolah Imam Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam yang berbunyi,

” اِدفن وجودَك في أرض الخمول فما نَبت مما لم يُدفَن لا يتم نِتاجُه “

“Benamkanalah keberadaanmu dalam ketidaktenaran, sungguh sebuah benih bila tidak ditanam maka hasilnya tak akan sempurna “

Maknanya adalah, segala amalan yang kita lakukan, janganlah mengharap hasilnya sebelum waktunya tiba. Hal ini sama seperti saat kita menanam benih, janganlah mengharap hasilnya sebelum waktu panennya tiba.

Baca Juga:   Mengenal Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia

Saat amalan kita sudah sepenuhnya hanya karena Allah, tidak mengharap pujian, imbalan, atau balasan dari orang lain, niscaya Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.