Pojok Pesantren

Kiai Ali Mustafa Yaqub [1]: Beliau di Pesantren dan Halaqah-Pengajian

Avatar Written by Hilmy Firdausi, Lc. · 2 min read
Perawakannya tegap. Tatapan matanya elang. Suaranya lantang, menghantam dan mustahil untuk tidak mendapat perhatian. Nada bicaranya selalu mengandung keyakinan dan kepastian. Tak ada keraguan sedikit pun dalam susunan kalimat dan caranya menyampaikan pandangan. Semasa belajar, kami selalu diingatkan untuk selalu menjawab pertanyaan (atau menyampaikan pendapat dan pandangan) dengan tegas dan lantang. Kebenaran yang disampaikan dengan ketidaktegasan cenderung meragukan. Sebaliknya, kesalahan yang disampaikan dengan ketegasan cenderung meyakinkan.

Karakternya sebagai pendidik sangat kuat. Tidak pernah kompromi dalam masalah kelalaian belajar. Model kiai klasik yang keras dalam memberi asupan. Selektif, perfeksionis, teliti dan idealis. Tak pernah mengabaikan detail-detail kecil walau setitik huruf dalam makalah dan tulisan yang dikoreksinya. Sesosok bapak yang benar-benar mentatah, bahkan hingga masalah posisi steples pada ujung paper berbahasa Arab. Disiplin dalam belajar adalah petuah yang selalu diulangnya. Pengabdian seumur hidup pada ilmu adalah ideologi yang ditanamkan pada anak-anak santrinya.

Putih adalah warna favoritnya. Baik di pengajian atau acara apa saja, asal di pesantren, beliau hampir dipastikan mengenakan koko dan kopyah putih sebagai seragamnya. Khusus ketika mengajar, beliau menambah atribut sorban yang beliau kalungkan di leher dan menjulur di kedua pundaknya. Beliau sering menekankan putih adalah warna kesukaan Nabi. Maka kami diwajibkan mengenakan koko putih dan kopyah putih di setiap pengajian di pesantren.

Langkahnya tidak pernah terlalu cepat. Seakan-akan tempo ayunan kakinya selalu sama dalam kondisi dan situasi apapun. Air wajahnya selalu menampilkan kekuatan karakternya; bagi saya, garis wajahnya selalu mengisyaratkan kematangan dalam berpikir, kebijaksanaan dalam bersikap dan keteladanan; beberapa isyarat yang melumpuhkan dan menjinakkan. Ketika mengimami subuh, nadanya khas; tidak terlalu melenggak-lenggok layaknya Sudais, namun mengena. Ada beberapa ayat yang sering beliau baca, sehingga kami hafal dengan sendirinya.

Baca Juga:   Dr. Ali Nurdin, MA, Pencetus Nama Darus-Sunnah

Baginya, ruang pengajian adalah ruang penyemaian bibit identitas, penguatan mental dan pembentukan pola berpikir. Beliau marah ketika santrinya tidak bisa menjawab pertanyaan atau tidak bisa mempertanggungjawabkan argumentasi. Beliau marah ketika kami meninggalkan detail kecil dalam kitab yang dibaca. Beliau marah ketika kami menganggap remeh pembahasan yang akan dikaji. Malam di hari bagian beliau mengajar adalah malam menyeramkan di mana kami harus begadang, meniti teks hadis yang akan dibaca esok, mempersiapkan jawaban atas berbagai kemungkinan pertanyaan dan mencatatnya di tepi lembaran-lembaran kitab yang mulai sesak berdesakan. Malam itu, kami pun terlelap dengan kekhawatiran.

Di balik kesan tegas dan menyeramkan, beliau adalah model Kiai NU yang tidak pernah lupa tertawa dan bercanda. Di tengah tekanan dan intimidasi ketika pengajian, beliau seringkali mengeluarkan candaan-candaan khas yang memecahkan suasana dengan gemuruh tawa, sebelum akhirnya kembali pada kondisi penuh tekanan dan hantu-hantu pertanyaan. Beliau mengakrabi santri-santrinya layaknya anak ketika menyebut nama, bertanya asal daerah, mencoba berkomunikasi dengan bahasa daerah asal santri yang dipanggilnya. Kami tertawa ketika beliau mengubah nama santrinya; “Masyitoh” menjadi “Syamitoh”, “Enceng Ahmad” menjadi “Enceng Gondok”. Kami tertawa ketika beliau mencoba berbicara bahasa daerah dengan santri yang berasal dari Madura; “oning ngocak madureh ghi?” dan daerah lainnya.

Kegetiran kembali datang ketika beliau kembali membolak-balik daftar absen untuk mencari sebaris nama korban pembantaian mental selanjutnya. Ketika seonggok nama beliau sebut lantang, bisa dipastikan seluruh ilmu pengetahuan yang membekam di otaknya akan luntur dan luruh seiring dengan keringat dingin yang mengucur di balik kemeja putihnya; di subuh yang dingin, yang tidak selayaknya bagi manusia normal untuk berkeringat. Tak jarang kami pun hanya bisa diam dan tak bergerak. Belum lagi jika beliau mulai menatap tajam, menggempur si korban kaku dengan hardikan. Setelah itu beliau akan memukul meja dan mulai menghitung dari satu. Pasca hitungan ketiga suara lantang beliau akan terdengar menggelegar, “QUUUUUM!” Si korban pun luluh-lantah dan berdiri hingga pengajian usai.

Baca Juga:   KIAI ALI MUSTAFA YAQUB DI MATA GUS NADIRSYAH HOSEN; Catatan Singkat Webinar Haul ke-5

Beliau juga melatih kami untuk menjaga fokus. Di ruang pengajian beliau, tidak ada tempat bagi mereka yang melamun atau iseng memainkan pensil tanpa alasan yang pasti. Biasanya beliau mengajukan pertanyaan terkait bahasan terakhir yang beliau bicarakan untuk menguji apakah kami fokus mendengarkan penjelasan. Begitu juga, tidak ada ruang bagi mereka yang terangguk ngantuk. Mencatat adalah hal wajib yang mesti kami lakukan selain mendengarkan dan memperhatikan dengan seksama. Saya menyaksikan sendiri kemarahan beliau ketika menemukan santri yang tidak mencatat atau tidak membawa alat tulis apapun.

Perawakannya tegap. Perwajahannya keras. Di balik berbagai kesan menyeramkan dalam bungkus fisiknya, beliau adalah seorang bapak yang mengerahkan diri untuk santrinya. Di balik ketakutan demi ketakutan yang meranting dalam diri kami, ada kerinduan dan sebatang hasrat yang besar untuk sebuah liqa’ pertemuan. Jalsah-jalsah beliau adalah parodi, waktu dan ruang di mana kami menyangsikan diri dan menertawai kebodohan kami sendiri. Di lipatan-lipatan kitab kuning yang beliau daras pagi itu, kami belajar mendikte waktu dan mengambil jarak untuk melihat kehidupan dari jauh.[]

*Serial ini ditulis dalam rangka mengenang satu tahun wafatnya ayahanda al-Maghfurlah Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.