Connect with us
Klik di sini

Membongkar Dinding Mading

Pojok Pesantren

Membongkar Dinding Mading

Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan broadcast yang sama di beberapa grup Whatsapp yang saya ikuti. Isinya, ajakan menulis bagi seluruh mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences dari Nabawi. Ajakan itu dimodifikasi sekeren mungkin sehingga berharap bisa dibaca dan diperhatikan banyak orang. Setelah dibaca dan diperhatikan, harapanya agar si pembaca tersebut tertarik untuk menulis dan mengirimkan tulisannya. Mungkin.

Tak hanya itu, kalam pak Kyai juga dikutip di bawah pamflet selebaran itu. Kalam pak Kyai yang berbunyi “wa laa tamutunna illa wa antum kaatibun” itu dijadikan senjata propagandis para anggota Nabawi untuk menghegemoni para mahasantri. Katanya, kalam pak Kyai tersebut tak cukup jika hanya menempel di dinding madink. Ok. Fix.

Dengan adanya pamflet dan sebaran broadcast seperti itu, saya hanya bisa membaca bahwa anggota Nabawi sekarang sedang panik. Sudah beberapa bulan ini majalah Nabawi tidak pernah muncul ke permukaan. Yang sering saya lihat adalah majalah Nabawi yang berserakan saat para mahasantri angkat-angkat barang ketika tandhif jama’iy. Tentunya itu bukan majalah terbitan baru. Covernya saja sudah kusam. Sudah banyak debu hinggap. Saya memegang saja sudah pengen huasyim. Sepertinya majalah berdebu itu lebih diminati semut, serangga dan rayap daripada mahasantri.

Mungkin bisa saya usulkan kepada anggota Nabawi agar saat akan terbit nanti, cover majalah Nabawi dituliskan kata “بكيكيع- بكيكيع” supaya tidak dihinggapi rayap. Tulisan itu dulu saya dapatkan di pesantren. Katanya biar nggak dimakan rayap.

Ah, jangan ding! Urungkan saja usulan saya. Majalah itu sudah jarang dijamah mahasantri, jadi agak mending jika rayap masih mampir. Apa jadinya kalau ditulisin “بكيكيع- بكيكيع”, sudah mahasantri jarang menjamah, rayap juga ogah. Kasihan redaksinya kan sudah capek-capek buat?

Ok begini, beberapa hari yang lalu, diam-diam saya mendengarkan obrolan tiga orang anggota Nabawi di warkop depan SD Inpres. Obrolan mereka sepertinya serius. Intinya terkait dengan masalah yang sedang menerpa Nabawi. Mereka bertiga saling memberikan ide satu sama lain. Ide-ide mereka semuanya mengarah kepada solusi-solusi supaya majalah Nabawi bisa terbit kembali.

Setelah lama saya menguping, akhirnya saya menemukan benang merahnya: “sedikit penulis”. Loh, loh, kok gitu. Kok bisa? “wa laa tamutunna illa wa antum kaatibun” yang sering kita dengar dari pak Kyai itu apa kurang ampuh untuk memotivasi mahasantri agar menulis? Buku-buku pak Kyai yang berjumlah 40an lebih itu apa tidak menunjukkan keseriusan pak Kyai mengarahkan mahasantrinya untuk menulis? Kok bisa begitu? Lalu, siapa yang salah?

Sudahlah! tak perlu menyalahkan orang lain. Apalagi kalau yang disalahkan cewek. Jangan! Yakin deh sama saya. Cewek itu nggak pernah salah! Duh, kok malah jadi bahas cewek. Maafkan hambamu yang sering tergoda dengan keluguan cewek. Nah loh! Jadi baper kan!?

Dulu, saat saya pertama kali masuk ke Darus-Sunnah dengan perjuangan 45. Saya disuguhkan materi kepenulisan saat ORASI (Orientasi Mahasantri). Kata-kata yang sering dikutip dua pemateri waktu itu adalah “wa laa tamutunna illa wa antum kaatibun” sampai saya bosan. Saat itu saya hanya bisa berifikir bahwa ternyata kemampuan menulis di Darus-Sunnah sangat dibutuhkan hingga harus dibuatkan materi khusus tentang kepenulisan saat itu. Iya sih saat itu, nggak tahu kalau sekarang.

Saat itu juga diceritakan bahwa nanti pak Kyai akan sering memberikan tugas kepada kita untuk menulis, tentunya dengan bahasa Arab dan Inggris. Waduh biyung, nulis pake bahasa Indonesia saja saya masih belum mampu, apalagi pake bahasa Arab dan Inggris. Jujur saat itu saya langsung dag dig dug derrr. Saya jadi merinding kala mendengar cerita kecintaan mahasantri dalam menulis.

Dan memang benar, saat halaqah fajriyah, pak Kyai memberikan tugas kepada mahasantri untuk menulis. Sayangnya, saat melihat proses pengerjaanya, ternyata ada beberapa mahasantri yang hanya copy-paste dari Maktabah Syamilah. Ketika saya tanyakan, mereka bilang kalau pak Kyai pernah berkata bahwa zaman sekarang adalah bukan zaman mengarang, tapi zaman menukil. Zaman sekarang adalah zaman kita menukil pendapat dan ijtihad ulama’-ulama’ masa lampau bukan membuatnya sendiri. Saat itu, sebagai mahasantri baru, saya hanya bisa manggut-manggut mendengarkan dan menerima apa adanya.

Tapi sayangnya, saya pikir ini jadi masalah yang cukup serius. Beberapa kali saya melihat orang yang mengerjakan skripsi atau takhrij misalkan, hanya dengan duduk di depan laptop tanpa buku, hanya di depan laptop, tidur, tapi bisa selesai dan wisuda. Saat itu saya hanya khusnudhon, mungkin beliau-beliau yang terlampau senior ini memiliki banyak stok buku pdf di laptopnya. Semoga saja benar. Tapi jika saya salah, tentu ini menjadi masalah yang serius.

Di sisi lain, lembaga yang berwenang mengurusi tulis-menulis seperti Nabawi malah sibuk mensejahterakan anggotanya sendiri. Entah itu dulu ataupun sekarang. Budiman yang gemar menulis puisi dan dimuat di berbagai koran harian hingga majalah, Faris Maulana yang hobi menulis cerpen bahkan novel dan juga dimuat berbagai media massa hingga dibukukan, Syauqi yang hobi menulis di facebook, Alfin yang tulisannya sering muncul di media online, serta beberapa anggota Nabawi yang kemarin menerbitkan buku mereka, hanya peduli dengan karya dan eksistensi masing-masing. Apa mahasantri harus ikut belajar bersama anak-anak Madaris agar bisa menerbitkan buku seperti “Belajar Bahagia dari Nabi SAW”?

Saya masih belum pernah melihat mereka mengader adik-adik kelas mereka secara intens hingga bisa mengikuti jejak mereka. Sedangkan para mahasantri yang hanya hobi berdebat di Mustahsan dan hobi nongkrong di warkop sudah terlampau sejahtera berada di zona nyaman.

Kata mereka (yang sudah sejahtera di zona nyaman), tidak ingin mati dulu. Karena kalau sudah menulis (katib) maka siap untuk mati (tamutunna). Argumen macam apa ini?

Lalu siapa yang mau meneruskan cita-cita pak Kyai? Menulis? Apa hanya anggota Nabawi? Rasanya tak adil sama sekali.

Anehnya, saya pernah mendengar salah seorang mahasantri, yang menulis di Nabawi pun tak pernah, bahkan karya tulis pun tak punya, mengkritik habis Nabawi melalui salah satu redaksinya. Sebentar-sebentar, dari kemarin anda ngapain? Kok baru sadar kalau Nabawi jarang terbit? Pas waktu terbit, tulisan anda kemana?

Kalau saya, ya saya mungkin tidak pernah menulis di Nabawi, tapi saya bangga bisa menulis ini. Yah, walaupun hanya ini sih!

Buat anggota IMDAR yang ikut bertanggung jawab terkait madink, saya usul agar “wa laa tamutunna illa wa antum kaatibun” di Madink itu diganti saja. Karena selama ini madink lebih sering dipakai hanya untuk menempelkan pengumuman. Jarang sekali ada tulisan mahasantri di sana. Kecuali, kalau pengumuman itu sudah termasuk karya tulis. Ups!

Anonim

Related Post

Continue Reading
Klik di sini

Media Keilmuan dan Keislaman

1 Comment

1 Comment

  1. Perindu Buta

    27/02/2017 at 4:54 am

    Tulisan yang menarik.

    Sepengetahuan saya, menulis memang langkah terbaik untuk mewujudkan maksimalitas seseorang. Terkhusus pada tataran lapangan akademis, semisal Darussunnah, menuangkan ide ke dalam tulisan adalah amanat ilmiah yang harus ditunaikan. Maka, berangkat dari sana, ungkapan yang kerap disampaikan pendiri institusi kajian hadis (KH Ali Mustafa Yaqub, pendiri Darussunnah) kepada santri-santrinya soal “janganlah meninggal kecuali telah meninggalkan karya tulis, bukanlah isapan jempol belaka. Ia merupakan sentakan yang harus dikunyah sekuat tenaga.

    Salam. Selamat berkarya!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Pojok Pesantren

Klik di sini
Klik di sini

Sering Dibaca

Topik

Arsip

To Top