Pojok Pesantren

Pesantren [Serba] Merah-Hijau

masjid

Semua itu berawal dari atap. Ya, warna atap pondok. Warna atap pondok putra adalah hijau, sedangkan warna atap pondok putri adalah merah. Yuk, kita cek warna atapnya!

Berawal dari atap itulah, ide menjadikan warna sarana dan prasarana pesantren saat itu menjadi diserasikan dengan hijau dan merah. Ini akhirnya menjadi identitas dan sekaligus kriteria barang yang akan dibelanjakan. Jika untuk santri putri, maka berwarna merah. Dan, jika untuk pesantren putra, maka berwarna hijau. Bahkan kami sampai hafal warna handuk santri putra, yaitu berwarna hijau, sedangkan handuk santri putri harus berwarna merah.

Untuk di putra, gara-garanya adalah masjid Munirah Salamah yang atapnya berwarna hijau.  Masjid ini adalah pemberian dari seorang muhsinin/muhsinat alias donatur yang menyumbang masjid dalam bentuk jadi. Kiai tidak mengetahui apa-apa soal masjid ini. Maksudnya, semuanya menjadi kehendak donaturnya. Barangkali ukurannya saja yang disesuaikan dengan ukuran lahan yang tersedia di pondok. Model, warna, jenis material, dan lain sebagainya, semuanya sudah ditentukan oleh donatur. Sudah, pondok hanya terima jadinya saja.

Sementara itu, masjid adalah bangunan pertama yang dibangun di atas lahan seluas 3.300 meter persegi yang merupakan area pondok putra itu. Tak lama setelah masjid dibangun, kemudian dibangunlah lantai dasar asrama putra yang kini berlantai tiga itu. Pembangunan masjid pun selesai lebih dulu daripada asrama. Sehingga, desain asrama juga mau-tidak mau harus disesuaikan dengan desain masjid agar tampak rapi, indah, dan serasi.

Beberapa kali beliau mengisahkan hal itu, hingga masalah warna seluruh perkakas pondok putra. Semuanya harus berwarna hijau atau yang matching dengan hijau. Ya, hanya berawal dari warna atap masjid pemberian donatur yang kelak diketahui namanya adalah Muniroh Salamah, yang juga menjadi nama masjid tersebut.

Benar, atap asrama yang ada di atas lantai tiga pun menjadi ikutan berwarna hijau. Torn-torn air yang ada di asrama putra juga dipilihkan yang paling match dengan warna hijau. Karena tidak ada produk torn yang berwarna hijau, maka beliau memilih warna biru. Beda dengan di asrama putri yang gedungnya beratap merah, maka torn-nya pun berwarna merah.

Baca Juga:   Santri Milenial Tampil Produktif, Kamu? #1

Begitulah, pesan beliau juga kami terima lagi saat kami hendak belanja perkakas pondok dan perlengkapan santri baru. Kalau tidak hijau, ya biru.

Jadi, sekarang baru sadar kan, bahwa atap masjid dan pondok putra itu berwarna hijau?!

Sekarang, cobalah tebak, apa warna karpet masjid Darus-Sunnah? Apa warna karpet ndalem Pak Kiai yang ada di samping masjid? Apa warna kulkas beliau di ndalem itu? Apa warna bantal di ruang tamu dan di kamar tidur ndalem? Apa warna sprei di ndalem itu? Apa warna lap tangan di ndalem beliau? Apa warna perkakas dapur yang terbuat dari melamin di ndalem beliau? Apa warna kitchen set yang ada di seluruh rumah dosen? Apa warna karpet rumah para dosen? Apa warna gorden seluruh rumah dosen?

Lalu, Apa warna kursi kantor Pesantren? Apa warna perkakas kantor Pesantren? Apa warna gorden kantor Pesantren? Apa warna ember di kamar mandi pesantren? Kalau ember, saat ini sudah banyak yang berubah warna, karena sulit mencari sebanyak 35 ember mandi lagi yang berwarna hijau. Tapi, dulu benar-benar serba hijau; embernya, gayungnya, hingga sikat klosetnya.

Pertanyaan-pertanyaan di atas, seandainya menjadi materi tes kedarussunnahan, pasti akan mudah sekali terjawab, tanpa harus mempelajari dan mengamatinya terlebih dahulu. Karena, rumusnya sudah ketahuan sekarang. Hehe.

Saat kami diajak beliau berbelanja kursi kantor di pusat perbelanjaan furniture di Cinere, beliau juga selalu mengingatkan kami dan para sales promosi yang bertugas saat itu agar dipilihkan warna hijau, terutama hijau stabilo. Jika tidak ada, maka yang mirip atau serasi dengan hijau. Akhirnya, didapatlah kursi kantor yang hijau, kursi guru yang juga hijau, dan bangku serta meja siswa yang berwarna kehijauan.

Keset dan tempat sampah juga harus hijau. Pernah, saat beliau keliling pondok, lalu melihat ada keranjang sampah berukuran sedang, bukan ukuran kecil, dan warnanya bukan hijau, langsung disuruh untuk disimpan atau tidak dipakai di pondok. Harus diganti hijau dan berukuran kecil. Keranjang sampah harus kecil agar santri tidak malas membuang sampah ke penampungan akhir. Jika keranjang sampah terlalu besar, maka santri akan malas membuang sampah ke penampungan, dan akhirnya sampah akan mengeluarkan bau tak sedap di sekitar asrama. Semua tempat sampah juga harus berkantong plastik. Tapi, kali ini kantong plastiknya, harus hitam, bukan hijau.

Baca Juga:   Kiai Ali Mustafa Yaqub [1]: Beliau di Pesantren dan Halaqah-Pengajian

Hal menarik lainnya adalah saat beliau memerintahkan kami untuk belanja keperluan calon santri baru angkatan pertama. Berkali-kali beliau berpesan untuk memastikan agar kami harus bisa mendapatkan perlengkapan santri yang berwarna hijau semuanya. Khususnya, hijau stabilo. Jika tidak ada, maka boleh hijau apapun.

Menjelang berangkat, kami pun mencari tau keberadaan semua perbabot yang berwarna hijau itu. Berawal dari cari info di internet, hingga keliling pasar tradisional dan modern di Ciputat. Karena tidak ketemu juga barang kita cari itu, maka kami bertiga saat itu; saya sendiri, ust Acan, dan Ust. Tb, naik angkot ke Pasar Kebayoran Lama untuk mencari perabot berwarna hijau itu. Karena, menurut info dari dari beberapa teman saat itu, di sana ia pernah lewat dan melihat ada beberapa perlengkapan berwana hijau yang kami cari. Tanpa berpikir panjang, sebelum Jumatan, kami pun langsung menuju ke sana, naik si DOI. Angkot D.01 Ciputat-Kb.Lama itu.

Sesampainya di pasar Kb. Lama, kami pun terus berkabar kepada beliau melalui telpon. Bahwa kami sedang berbelanja di pasar Kebayoran Lama, karena setelah muter-muter Ciputat, kami tidak menemukan perabot berwarna hijau itu. Alhamdulillah kami menemukan yang berwarna hijau. Semua kami laporkan dengan detail dalam bahasa Arab selama di dalam pasar. Berkesan banget pokoknya!

Alhamdulillah, tepat pukul 17.30 kami tiba di pondok menaiki angkot yang berwarna kehijauan juga dengan memborong penuh barang-barang yang serba hijau itu.

Dari situ, kami pun belajar dari beliau. Bahwa kami harus memperhatikan hal-hal apapun sampai bagian yang terkecilnya. Alhamdulillah, banyak pelajaran positif yang kami dapatkan setelah itu. Hingga kini, warna hijau benar-benar di hati kami. Kamipun, akhirnya setiap memilih perabotan dan perlengkapan pribadi juga selalu memilih yang berwarna hijau. Sikat gigi pun, saya selalu pilih yang berwarna hijau.

Written by Ahmad ‘Ubaydi Hasbillah, MA
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.