Adab, Artikel Utama

Omelan Guru Adalah Obat

Faiz Aidin Written by Faiz Aidin · 2 min read

Majalahnabawi.com – Ketika ada murid yang berbuat salah atau nakal, terkadang ada guru yang langsung memarahinya/mengomelinya, dan ada juga guru yang mendiamkannya sambil mendo’akannya agar murid itu menjadi orang yang baik.

Ada juga guru yang marah kepada murid-muridnya dengan tanpa sebab, mungkin karena pelampiasan dari masalahnya atau masalah keluarga yang dialaminya. Hal tersebut tentu tidak baik, bisa membuat murid tidak betah dan enggan belajar lagi dengan guru tersebut.

Sikap Ketika Diomelin Guru

Ketika ada guru yang marah dan ngomel kepada murid yang nakal, maka selayaknya bagi murid yang nakal itu bersabar dan menerima nasihat dan omelan guru. Dan bagi murid lain yang melihat kejadian temannya yang nakal itu dimarahi dan diomeli selayaknya diam dan jangan menertawakannya.

Omelan guru itu obat untuk membangkitkan semangat belajar dan memperbaiki diri kita. Hal tersebut bisa dirasakan bagi murid yang menyadarinya. Sedangkan, bagi murid yang tidak menyadari omelan guru itu hanya menganggapnya sebagai pelampiasan guru saja, tanpa ada efek apapun bagi dirinya.

Dalam kajian akhlak, sudah sepatutnya seorang murid itu bersabar atas segala terpaan dari gurunya. Karena hal yang diberikan dan timbul dari guru itu bisa membuat penyemangat dan timbulnya keberkahan untuk diri murid jika dihadapinya dengan sabar dan tanpa gerutu.

Kisah Nyata Omelan Guru Adalah Obat

Ada dua kisah nyata mengenai omelan guru adalah obat sebagai berikut:

1. Di suatu siang hari, ketika berjalannya kegiatan ngaji diniyah, ada satu kelas yang kosong dari gurunya. Tiba-tiba ada gus (anak kyai) yang menggantikannya. Saat itu mengaji kitab al-Mabadiul Fiqhiyyah. Ketika di tengah berjalannya pengajian, tiba-tiba ada seorang murid di kelas itu yang melemparkan pena-nya yang sudah habis tintanya ke belakang pojok pintu kelas itu. Langsung spontan gus tersebut  memanggil murid tersebut dan menghukumnya dengan menyuruhnya mengambil pulpen tersebut dan membersihkan sampah yang ada di belakang pintu kelas tersebut.

Setelah kejadian itu, murid tersebut sadar akan omelan dan marahan dari gus tersebut, sehingga murid tersebut mengubah perilaku dan akhlaknya menjadi lebih baik. Setelah naik dari kelas tersebut, murid tersebut menjadi orang yang cerdas dan lebih dekat dengan gus tersebut.

Gara-gara Salah Harakat

Kisah kedua yang berkaitan dengan omelan guru adalah obat sebagai berikut di bawah ini:

Baca Juga:   Sering Sakit Hati? Ini Pesan Nabi

2. Di suatu pondok pesantren, setiap bakda Shubuh rutin dilaksanakan pengajian kitab Tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi al-Bantani, Shahih Al-Bukhari karya Imam Al-Bukhari, dan Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, yang semuanya diampu oleh seorang kyai pengasuh pondok pesantren tersebut. Sistem ngajinya adalah santri membacakan dan mengartikan kitab-kitab tersebut, lalu kyai akan menjelaskannya. Pada suatu hari, santri yang membaca kitab-kitab tersebut salah membaca dalam hal harakatnya, akhirnya kyai memanggil satu per satu santri yang mengaji pada saat itu untuk membaca kitab yang dikaji. Ternyata semua bacaan para santri itu salah, hanya satu orang saja yang benar bacaannya. Akhirnya, kyai tersebut mengguyur semua santri yang salah bacaannya sehingga basah kuyup dan banjir majelis tempat ngaji saat itu. Setelah kejadian itu, akhirnya semua santri yang akan mengaji kepada kyai selalu memuthola’ahkan kitab-kitab tersebut pada malam hari sampai larut malam.

Hikmah dari Dua Kisah Nyata di atas

Dari dua kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa omelan guru itu harus direnungi dan diresapi ke hati agar menjadi pelajaran dan perubahan bagi diri kita.

Menasihati orang itu mudah, tapi menerima nasihat itu susah. Orang yang tidak mau menerima nasihat dan merendahkan nasihat termasuk orang yang sombong.

Marilah kita terima kritik, teguran, nasihat, dan saran dari orang lain secara lapang dada agar menjadikan perubahan dan perbaikan pada diri kita.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنْ قَوْلٍ بِلَا عَمَلٍ

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

Written by Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.