Adab

Adab Seorang Murid dalam Menuntut Ilmu

Muhammad Faiz Written by Muhammad Faiz · 3 min read

Majalahnabawi.com – Di zaman sekarang ini, bisa kita lihat tidak sedikit seorang penuntut ilmu yang bisa dikatakan kurang berakhlak (beradab). Seperti tidak sopan dalam perkataan, tidak mempunyai tata krama, melawan gurunya, membantah perkataan gurunya serta sombong dengan ilmu yang ia miliki. [ Adab seorang murid dalam menuntut ilmu ].

Namun perlu diketahui bahwa sebanyak apapun ilmu yang kita miliki, setinggi apapun pangkat yang kita dapatkan serta sehebat apapun diri yang kita miliki, jika tidak memiliki adab yang baik terhadap orang lain, maka akan sia-sialah apapun itu yang kita miliki.

Maka dari itu, hendaknya seorang murid mempunyai adab yang baik. Karena kedudukan adab memiliki posisi yang sangat penting dalam menjalani kehidupan ini.

Oleh karena itu, imam Nawawi (w.676 H) rahimahullah memberikan nasihat-nasihatnya mengenai adab-adab bagi penuntut ilmu dalam kitabnya “Adabul ‘Alim wal Ta’lim” sebagai berikut, yaitu:

1. Seorang murid harus menyucikan hatinya dari kotoran-kotoran agar ia pantas menerima ilmu, menghafalkannya dan mengembangkannya.

Rasulullah ﷺ (W.11 H) bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati.” (H.R Bukhari no. 52, Muslim no.1599 & Ibnu Majah no. 3984)

2. Hendaknya ia menjauhi faktor-faktor yang bisa mengganggu konsentrasi belajar, rida dengan makanan yang sedikit dan bersabar dengan kehidupan yang sulit.

Imam Asy-Syafii rahimahullah (W.204 H) pernah mengatakan:

لَا يَطْلُبُ أَحَدٌ هَذَا الْعِلْمَ بِالْمُلْكِ وَعِزِّ النَّفْسِ فَيَفْلَحَ، وَلَكِنْ مَنْ طَلَبَهُ بِذُلِّ النَّفْسِ، وَضِيْقِ الْعَيْشِ، وَخِدْمَةِ الْعُلَمَاءِ أَفْلَحَ

Tidak ada yang menuntut ilmu dalam kekayaan dan kemuliaan jiwa yang kemudian beruntung. Akan tetapi, siapa yang menuntut ilmu dengan kerendahan jiwa, hidup susah, dan mengabdi pada ulama, maka ia yang akan paling beruntung. 

Ia juga berkata:

لاَ يُدْرَكُ الْعِلْمُ إِلاَّ بِالصَّبْرِ عَلَى الذُّلِّ

“Sebuah ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan bersabar di atas kerendahan.”

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِى إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Israil adalah wanita.” (H.R. Muslim)

Baca Juga  Darus Sunnah, al-Ghazali, dan Etika Politik

3. Hendaknya ia bersikap tawaduk kepada ilmu dan guru. Sebab dengan sikap itulah ia bisa memperoleh ilmu. Para ulama mengatakan:

الْعِلْمُ حَرْبٌ لِلْمُتَعَالِي ۝ كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِي

“Ilmu akan memerangi (menjadi musuh) orang yg sombong, sebagaimana air banjir menenggelamkan tempat yg tinggi.”

4. Janganlah ia menerima ilmu kecuali dari orang yang sempurna kepantasan dirinya, terlihat agamanya, kuat pengetahuannya dan terkenal bisa menjaga diri dan memimpin.

Imam Ibn Sirrin (w.110 H) pernah mengatakan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

”Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapakah kalian mengambil agama kalian.”

5. Selektif dalam memilih guru. Maksudnya jangan sampai engkau berguru dari orang yang mengambil ilmu dari kitab-kitab induk tanpa di hadapan banyak guru atau dari seorang guru yang pintar. Sebab ia rentan jatuh ke dalam kesalahan, kekeliruan dan pemutarbalikan makna yang ia lakukan.

6. Hendaknya ia memperhatikan gurunya dengan pandangan penuh hormat dan memuliakannya.

Imam Syafi’i ra. berkata:

كُنْتُ أَصْفَحُ الْوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ رَحِمَهُ اللهُ صَفْحًا رَفِيْقًا هَيْبَةً لَهُ لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”.

7. Berusaha mencari rida seorang guru, meskipun pandangan gurunya bertentangan dengan pendapat dirinya, jangan membicarakan keburukannya dan jangan menyebarkan rahasianya.

8. Hendaknya ia meminta izin jika ingin bertemu dengan gurunya.

9. Menghadiri majelis guru dengan penuh kesadaran. Maksudnya senantiasa bersih, ber suci dengan siwak, memotong kumis, kuku dan menghilangkan bau yang tidak sedap.

10. Mengucapkan salam kepada semua hadirin dengan suara yang benar-benar bisa di dengar.

11. Tidak melangkahi pundak orang lain. Kecuali bila guru menyuruhnya untuk maju/melangkah.

12. Tidak menyuruh orang lain berdiri dari tempat duduknya.

13. Tidak duduk di tengah majelis kerumunan orang kecuali karena darurat.

14. Senantiasa beradab dengan siapa saja yang hadir di dalam majelis.

15. Jangan meninggikan suara secara berlebihan, jangan tertawa dan banyak bicara jika tidak diperlukan.

16. Jangan melakukan gerakan-gerakan tanpa keperluan.

17. Tidak mendahului guru dalam menjelaskan suatu masalah atau jawaban dari suatu pertanyaan. Kecuali jika sang guru mempersilahkannya.

18. Hendaknya ia bertanya kepada guru dengan cara yang lembut dan bahasa yang baik. Barang siapa yang malu bertanya, maka sedikit ilmunya.

19. Tidak berbohong perihal ilmu yang diajarkan sang guru.

20. Tidak perlu malu mengatakan “saya tidak paham”.

21. Di antara maslahat yang segera adalah kepercayaan dan perhatian sang guru, kedekatan, kematangan akal, penguasaan diri dan tidak bersikap munafik.

Baca Juga  Pendidikan Itu Butuh Tirakat

Al-Khalil bin Ahmad ra (w.175 H) berkata:

مَنْزِلَةُ الْجَهْلِ بَيْنَ الْحَيَاءِ وَالْأَنْفَةِ

Posisi kebodohan berada antara rasa malu dan harga diri.”

22. Mendengarkan penjelasan guru.

23. Hendaknya ia bersemangat dan tekun belajar di sepanjang waktunya.

Imam Syafi’i ra. berkata:

حَقٌّ عَلَى طَلَبَةِ الْعِلْمِ بُلُوْغُ غَايَةِ جُهْدِهِمْ فِيْ الْاِسْتِكْثَارِ مِنْ عِلْمِهِ، وَالصَّبْرُ عَلَى كُلِّ عَارِضٍ دُوْنَ طَلَبِهِ، وَإِخْلَاصُ النِّيَّةِ لِلّٰهِ تَعَالَى فِيْ إِدْرَاكِ عِلْمِهِ نَصًّا وَاسْتِنْبَاطًا، وَالرَّغْبَةُ إِلَى اللهِ تَعَالَى فِيْ الْعَوْنِ عَلَيْهِ

Adalah kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk mengerahkan usaha maksimalnya dalam memperluas penguasaan ilmu, bersabar di setiap hal yang menghadang, mengikhlaskan niat kepada Allah ta’ala dalam mempelajari ilmu, baik secara Nash maupun istinbath, dan mendekatkan diri kepada Allah dalam meminta pertolongan kepada-Nya.”

Dalam sahih Muslim dari Yahya bin Abi kasir menuturkan:

لَا يُسْتَطَاعُ الْعِلْمُ بِرَاحَةِ الْجِسْمِ

“Ilmu tidak bisa diraih dengan mengistirahatkan badan (ogah-ogahan) .” (H.R Muslim  no. 612)

Ibnu Abbas (w. 68 H) ra. berkata:

ذَلَلْتُ طَالِبًا لِطَلَبِ الْعِلْمِ، فَعَزَزْتُ مَطْلُوْبًا

“saya hina karena mencari (ilmu) dan saya mulia karena dicari (ilmuku).”

24. Hendaknya bersabar dengan kekurangan dan prilaku buruk guru.

25. Bersikap santun, sabar dan memiliki cita-cita yang luhur.

26. Menunggu guru jika belum datang.

27. Hendaknya ia memaksimalkan belajar pada waktu kosong.

Imam Syafi’i ra. berkata:

تَفَقَّهْ قَبْلَ أَنْ تَرْأَسَ، فَإِذَا رَأَسْتَ فَلَا سَبِيْلَ إِلَى التَّفَقُّهِ

Dalamilah ilmu agama sebelum engkau menjadi pemimpin, jika kamu sudah menjadi pemimpin maka engkau tidak memiliki kesempatan untuk mendalami agama.

28. Memberikan perhatian dalam hal mengoreksi pelajaran yang ia hafal dengan pengoreksian yang seutuhnya di hadapan guru.

29. Mengawali pelajaran dengan puji-pujian kepada Allah, salawat kepada Rasulullah ﷺ, mendoakan para ulama dan guru.

30. Mengulang-ulang hafalan.

31. Selalu merenungkan apa yang dihafal, memberikan perhatian kepada ilmu yang diperoleh serta berdiskusi.

32. Hendaknya ia selalu meminta bimbingan guru.

33. Jangan meremehkan ilmu, hendaknya ia segera menulis dan mencatat jika mendapati ilmu baru.

34. Mengarahkan murid-murid lain kepada kesibukan positif dan memberikan manfaat dengan cara memberikan nasihat dan berdiskusi.

35. Tidak dengki kepada siapa pun, tidak meremehkan orang lain dan tidak bangga dengan pemahamannya sendiri.

Demikianlah 35 poin-poin nasihat dari imam Nawawi mengenai adab – adab murid dalam menuntut ilmu. Hendaknya kita senantiasa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari agar hidup kita menjadi berkah serta selamat dunia akhirat.

# adab murid dalam menuntut ilmu

Written by Muhammad Faiz
Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyah wal 'Arabiyyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.