>

Pendidikan, Sejarah

Guru Itu Ibarat Pengibar Bendera

Avatar Written by Ahmad Haidar Razik · 1 min read

Oleh : KH. Faiz Syukron Ma’mun

Majalahnabawi.com – Guruku pernah berkata bahwa seorang guru itu ibarat pengibar bendera yang mengibarkan bendera ke angkasa, bendera itu adalah murid-muridnya. Ia akan berusaha mengibarkan bendera itu setinggi-tingginya hingga mencapai puncak kejayaan. Ia tak pernah berkecil hati jika suatu saat sebagai pengibar bendera ia akan memberikan hormat kepada bendera yang dikibarkannya.

Bukti Pernyataan Beliau

Guruku membuktikan perkataannya melalui kisah imam Abu Hanifah dan sang maha guru Hammad bin Abi Sulaiman, seorang imam besar masjid Kufah ketika itu. yang jalur keilmuannya bersambung kepada Rasulullah Saw melalui Ibrahim an-Nakho’i, ‘Alqomah bin Qais, dan sahabat Abdullah bin Mas’ud.

Diceritakan bahwa Abu Hanifah berguru duduk bersimpuh di kaki imam Hammad berpuluh-puluh tahun sampai akhirnya imam Hammad tidak bisa mengajar karena sakit keras. Mengetahui kabar itu, para murid mendorong-dorong Abu Hanifah yang merupakan murid senior untuk memimpin mengulang-ulang Pelajaran yang telah disampaikan oleh guru besar.

Tak terasa bertahun-tahun Abu Hanifah telah menggantikan gurunya menjadi imam besar masjid Kufah pada masanya. Hingga akhirnya imam Hammad bin Abi Sulaiman sembuh dari penyakitnya. Pasca sembuh Hammad berjalan menuju masjid Kufah untuk sekedar menengok majelis ilmu yang dahulu ditinggalkannya.

Sesampainya di pintu masjid, ia mendengar suara Imam yang sangat berwibawa sedang menyampaikan ilmu yang luar biasa. Siapakah gerangan orang yang menandingi keilmuan dan menggantikannya menjadi imam besar masjid Kufah. Hammad pun mencoba mencari tahu secara diam-diam. Setelah dilihat secara seksama ternyata Abu Hanifah lah orang yang sedang mengajar majelis itu.

Hammad tak lantas masuk karena tidak ingin mengganggu sang murid. Tapi ia dengarkan sampai berhari-hari. Hingga ia yakin Abu Hanifah memang layak duduk di singgasana yang dahulu ditempatinya. Bahkan Hammad tak segan-segan untuk duduk dan menyatakan ingin berguru kepada Abu Hanifah.

Baca Juga:   Kupas Sejarah Haji di Nusantara: Monopoli Haji Masa Kolonial

Namun Abu Hanifah tak lantas jemawa dan sombong. Ia malah menyatakan itu sesuatu yang mustahil. “Lebih mustahil kalau saya mengajar lagi di masjid ini, engkau guru kami.” Sahut Hammad. “Baik guru, saya mau mengajar asalkan tidak duduk di kursi agung itu selama engkau masih hidup”. Berkata Abu Hanifah

Pelajaran dari Kisah di atas

Begitulah kehebatan dan ketawadhuan guru, ia tak segan untuk memberikan hormat kepada murid yang yang telah ia antarkan ke puncak kejayaan. Ia tak merasa tersaingi atau iri kepada murid yang melebihinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.