Filsafat, Hadis, pemikiran, Riwayat, Sejarah

Rupa Nabi Adam ‘Alahissalam

Penulis: Nurul Mashuda · 1 min read

majalahnabawi.com – Rasulullah Saw bersabda:

خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam sebagaimana rupanya. Perbedaan makna terjadi pada kata ganti “hu” (nya), kepada siapa ia merujuk? Setidaknya terdapat tiga kemungkinan.

Ciri Fisik Nabi Adam ‘Alahissalam

Pertama, ia merujuk kepada Adam. Maka, hadis tersebut akan bermakna, “Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam dengan semua ciri fisiknya.” Makna ini diperoleh dari lanjutan hadis dalam beberapa riwayat yang menyebutkan tinggi Nabi Adam, طُولُهُ سِتُّونَ ذِرَاعًا tingginya enam belas hasta. Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad. (Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari)

Rupa Manusia

Kemungkinan kedua, kata ganti “nya” merujuk kepada “seseorang”, maksudnya seorang manusia. Maka, hadis di atas bermakna, “Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam seperti rupa dia (menunjuk seseorang). Makna ini diperoleh dari beberapa riwayat tentang adab berkelahi/berperang, “إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ، فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ ؛ فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ“. “Jika seorang dari kalian berkelahi/berperang dengan saudaranya, hindarilah bagian wajah karena Allah telah menciptakan Adam dengan rupa dan bentuk wajahnya.” Sahih Muslim, Musnad Ahmad. (al-Minhaj Syarh Sahih Muslim ibn Hajjaj).

Sifat Penyayang

Kemungkinan ketiga, kata ganti “nya” merujuk kepada Allah ‘azza wajalla, sehingga bermakna, “Allah ‘azza wajalla menciptakan Adam dengan rupa-Nya.” Makna ini diperoleh dari sebagian riwayat yang berbunyi إِنَّ اللهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُوْرَةِ الرَّحْمنِ Allah menciptakan Adam sebagaimana Sang Maha Penyayang. Riwayat ini tidak terdapat dalam satupun dari sembilan kitab hadis populer “al-kutub al-tis’ah” (Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan Abi Dawud, Sunan al-Tirmizi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Darimi,  Muwatta’ Malik, dan Musnad Ahmad). Imam al-Nawawi berkomentar bahwa riwayat ini tidak kuat لَيْسَ بِثَابِتٍ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيْثِ dan berupa riwayat berdasarkan makna. (al-Minhaj Syarh Sahih Muslim ibn Hajjaj).

Baca Juga:   Siapa yang Lebih Dulu, Nabi Adam atau Manusia Purba?

Bagaimanapun, makna ketiga ini masih mungkin, namun bukan dalam arti fisik-jasmani. Terbangun logika bahwa fisik-jasmani adalah ciptaan yang baru. Mustahil Tuhan ada yang menciptakan karena Ialah Sang Pencipta. Setidaknya, terdapat dua cara untuk memahami makna ketiga ini.

Pertama, makna penghormatan, bahwa Allah ‘azza wajalla menciptakan Nabi Adam ‘alahissalam dengan rupa dan bentuk yang mulia lagi terhormat. Ini sebagaimana penisbahan rumah kepada Allah (baitullah), atau sebagaimana unta mukjizat Nabi Salih ‘alaihissalam yang nisbatnya kepada Allah (naqatullah) (al-A’raf:73, Hud: 64, al-Syams: 13). (al-Minhaj Syarh Sahih Muslim ibn Hajjaj).

Cara kedua, shurah berarti sifat. Allah menciptakan manusia dengan sifat ketuhanan seperti penyayang, melihat, mendengar, mengetahui, hidup, dan seterusnya; namun tanpa “Maha” karena Tuhan tidak serupa dengan apapun. (Fath al-Bari Syarh Sahih al-Bukhari). Sifat-sifat itu adalah fitrah manusia, meskipun dalam penerapannya, kadang manusia lupa dan menyeleweng; tidak menyadarinya.

Wallahu a’lam

Nurul Mashuda
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.