Amaliyah, Artikel Utama

Hukum dan Waktu Puasa Syawal

Penulis: Urwatul Wutsqa · 1 min read

majalahnabawi.com – Puasa Syawal merupakan salah satu bentuk puasa sunnah yang apabila kita kerjakan setelah sempurnanya puasa Ramadhan, maka pahala yang kita dapatkan seperti pahala berpuasa satu tahun penuh. Nabi Muhammad Saw bersabda:

قال النبي صلى الله عليه و سلم من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال فذلك صيام الدهر

“Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang berpuasa Ramadhan dan melanjutkannya dengan 6 hari pada Syawal, maka itulah puasa seumur hidup”. (HR. al-Tirmidzi)

Hitungan pahalanya adalah pahala puasa Ramadhan sebulan penuh memiliki nilai sama dengan puasa sepuluh bulan. Sedangkan puasa enam hari pada bulan Syawal memiliki nilai sama dengan dua bulan. Jika dijumlahkan, maka genap menjadi dua blas bulan atau setahun penuh.

Dengan keutamaan yang sangat besar tersebut, Nabi menganjurkan kepada kita, umatnya untuk bisa melaksanakannya. Adapun hukum dari puasa tersebut sendiri adalah sunnah berdasarkan perintah dalam hadits tersebut.

Apakah Harus Berurutan?

Dalam melaksanakan puasa Syawal, tidak mengharuskan untuk dilaksanakan secara berurutan, namun termasuk sunnah mustahabbah apabila kita bisa melaksanakannya secara beruntun. Seperti yang dituturkan oleh Imam al-Nawawi rahimahullah berkata dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzabnya bahwa:

“Para sahabat telah bersepakat tentang kesunahan puasa enam hari pada bulan Syawal. Berdasarkan hadis di atas, mereka berpendapat bahwasanya sunnah mustahabbah untuk melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tetapi ketika seseorang memisahkannya atau menundanya sampai akhir bulan tersebut, ini juga diperbolehkan. Karena masih termasuk makna umum dari hadis tersebut. Kami bersepakat atas masalah ini dan ini juga menurut Imam Ahmad dan Abu Dawud”.

Namun, bagaimanapun juga bersegera adalah lebih baik. Berkata nabi Musa: “Itulah mereka telah menyusul aku. Dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Rabb, supaya Engkau ridha kepadaku”. (QS. Thaha: 84)

Baca Juga:   Asma’ binti Yazid Wanita Pemberani Pada Masanya

Waktu Pelaksanaannya

Lalu kapankah waktu pelaksanaannya? Idealnya puasa sunnah enam hari Syawal itu dilakukan persis setelah hari Raya Idulfitri, yakni pada 2-7 Syawal. Tetapi orang yang berpuasa di luar tanggal itu sekalipun tidak berurutan tetap mendapat keutamaan puasa tersebut seakan puasa wajib setahun penuh.

Bahkan orang yang mengqadha puasa atau menunaikan nazar puasanya di bulan Syawal tetap mendapat keutamaan seperti mereka yang melakukan puasa sunah Syawal. Keterangan Syekh Ibrahim al-Baijuri:

وإن لم يصم رمضان كما نبه عليه بعض المتأخرين والظاهر كما قاله بعضهم حصول السنة بصومها عن قضاء أو نذر

“Puasa Syawal tetap dianjurkan meskipun seseorang tidak berpuasa Ramadhan dan seseorang tersebut mendapat keutamaan sunah puasa Syawal dengan cara melakukan puasa qadha atau puasa nadzar (di bulan Syawal)” (Lihat Ibrahim al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri ‘alâ Syarhil ‘Allâmah Ibni Qasim, Darul Fikr,  Juz I, Halaman 214).

Bahkan kita boleh menggabungkan dua amalan, yakni amalan fardhu dengan amalan sunnah, dalam Syarh Nadham al-Qawaid al-Fiqhiyyahal-Mawahib al-Saniyah, Imam Abdullah bin Sulaiman menyebutkan bahwa kita boleh melaksanakan dua amalan sekaligus dalam satu niat. Misalnya niat puasa qadha, tapi sekaligus dapat pahala puasa Syawal. Maka kita tidak perlu menunggu waktu puasa qadha untuk melaksanakan puasa sunnah Syawal, karena amalan-amalan yang sunnah sudah tercakup dalam amalan yang fardhu.

Keterangan semua itu menunjukan betapa besarnya keutamaan puasa sunah Syawal. Memang waktu pelaksanaannya yang ideal adalah enam hari berturut-turut setalah satu Syawal. Tetapi keutamaannya tetap bisa didapat bagi mereka yang berpuasa sunah tanpa berurutan di bulan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.