Adab, Al-Quran

Melakukan Hal yang Baik dengan Cara yang Baik

Penulis: Fahrul · 2 min read

majalahnabawi.com Allah sangat menganjurkan hamba-Nya untuk berbuat baik seperti yang terkandung dalam firman-Nya QS. al-Baqarah [2]:148 berikut:

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِۗ أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ إِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Berlomba dalam Kebaikan

Dalam ayat di atas kita dituntut untuk berlomba-lomba dalam melakukan perkara yang baik apalagi perkara itu dapat bermanfaat bagi sesama. Melakukan sesuatu hal yang baik pun merupakan sunnah Rasulullah yang harus diikuti oleh setiap kaum muslimin dan muslimat yang beriman.

Namun, kadang kehendak untuk melakukan suatu kebaikan (amr ma’ruf ) itu tidak dibarengi dengan cara yang baik dan justru malah menimbulkan kemungkaran. Dalam hal ini, Imam Fakhruddin al-Razi memberikan keterangan dalam karyanya Mafatih al-Ghaib saat menafsirkan QS. al-An’am [6]: 108, mengatakan:

وَفِي الْآيَةِ مَسَائِلُ ….. الْمَسْأَلَةُ الْخَامِسَةُ: قَالُوْا: هذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْآمِرَ بِالْمَعْرُوْفِ قَدْ يُقَبََّّحُ إِذَا أَدَّى إِلَى ارْتِكَابِ مُنْكَرٍ، وَالنَّّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ يُقَبَّحُ إِذَا أَدَّى إِلَى زِيَادَةِ مُنْكَرٍ……

Dalam al-An’am:108 ada beberapa persoalan…… Persoalan kelima: Ulama berkata: Ayat ini menunjukkan bahwa amr ma’ruf kadang menjadi buruk ketika menyebabkan kemungkaran dan nahi mungkar juga buruk ketika menimbulkan bertambahnya kemungkaran,……

Niat Baik Serta Cara Baik

Dari keterangan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan bahwa meskipun sesuatu yang hendak dilakukan itu adalah perbuatan baik, maka dalam menciptakan perbuatan itu pun wajib dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana tanpa merugikan pihak manapun. Jangan sampai karena kehendak (ambisi) untuk berbuat baik, seseorang malah merugikan pihak lain.

Al-Quran yang merupakan sumber yang sangat otoritatif bagi umat Islam pun sudah memberikan ‘aturan main’ dalam menciptakan kebaikan. Pertama, orang yang hendak menyampaikan ilmu itu haruslah memiliki ilmu seperti seperti yang telah Allah firmankan dalam QS. al-Najm [53]: (28) berikut:

وَمَا لَهُمْ بِه مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَّتَّبِعُوْنَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِيْ مِنَ الْحَقِّ شَيْـئًا

Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran.”  

Kedua, kita harus mempunyai kehendak (niat). Niat merupakan titik awal dari perbuatan kebajikan yang hendak dilakukan. Dalam QS. Ali-Imran [3]:104 Allah berfirman

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Perbuatan Tergantung Niat

Nabi pun dalam sabdanya

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Segala amal tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niati

Ketiga, dalam QS. al-Nahl [16]: 125 Allah berfirman:

اُدْعُ إِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Dalam ayat ini terdapat Kata وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ (berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik) yang merupakan salah satu perintah yang musti dikerjakan dalam rangka menciptakan suatu perkara kebaikan. Karena jika kita menggunakan kata-kata yang kasar dalam menyampaikan suatu perkara baik maka orang akan lebih fokus ke cara kita menyampaikan bukan ke isi dari apa yang ingin kita sampaikan.  Dan perkataan atau perbuatan yang kasar bukan merupakan contoh seorang muslim yang baik. Sesuai hadis Nabi

لَاضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Tidak dibolehkan membuat celaka terhadap diri sendiri dan orang lain” (HR. Ibnu Majah, Hadis Hasan)

Selanjutnya, apabila kita telah melakukan beberapa hal di atas maka yang terakhir adalah melakukan instropeksi diri seperti yang tertuang dalam QS. al-Baqarah [2]: 44 sebagai berikut:

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ  أَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab? Tidakkah kamu mengerti?

Dengan tuntunan beberapa ayat dan hadis di atas, dalam rangka memberikan kebaikan kepada orang lain haruslah menggunakan cara-cara yang baik dan santun, sehingga dalam menegakkan amr ma’ruf kita terhindar dari hal-hal yang bersifat mungkar dan tidak keluar dari misi Islam yaitu rahmatan lil ‘alamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.