Adab

Jenis Penuntut Ilmu Menurut Imam al-Ghazali

Penulis: Muhammad Faidhurrahman · 2 min read

Majalahnabawi.com – Mencari ilmu merupakan suatu proses yang tidak akan pernah hilang dalam kehidupan manusia. Di kehidupannya, manusia dituntut untuk selalu menggali berbagai macam keilmuan yang tersaji. Baik ilmu yang berorientasi pada kebutuhan dunia ataupun ilmu yang berorientasi pada kebutuhan akhirat.

Ilmu yang berorientasi pada kebutuhan dunia misalnya, hal ini dapat dilihat dari kebutuhan ilmu itu sendiri yang menjadi sarana untuk menyejahterakan kehidupan di dunia. Kita dapat mengambil contoh adanya seseorang yang mempelajari ilmu ekonomi dengan tujuan hanya untuk menjadi manajer di suatu perusahaan dan memperoleh kekayaan.

Contoh berikutnya, kita ambil bagi manusia yang berorientasi pada akhirat, yaitu ada seseorang yang mempelajari ilmu kedokteran guna membantu sesama manusia dan berharap perlakuannya tersebut mendapat ridha Allah Swt.

Kedua contoh di atas dapat dimaklumi mengingat manusia memang hidup di dunia ini dan mendambakan kehidupan yang baik di dalamnya dan bagi manusia yang berorientasi pada akhirat, dia mendapat nilai lebih di mata Tuhannya.

Dalam hal mencari ilmu, Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah menggolongkan para pencari ilmu ke dalam tiga golongan:

Golongan Pertama

وَاعْلَمْ أَنَّ النََّاسَ فِيْ طَلَبِ الْعِلْمِ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْوَالٍ: رَجُلٌ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيَتََّخِذَهُ زَادَهَ إِلَى الْمِعَادِ، وَلَمْ يَقْصُدْ بِهِ إِلَّا وَجْهَ اللهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ؛ فَهذَا مِنَ الْفَائِزِيْنَ.

Artinya: Ketahuilah bahwa dalam menuntut ilmu, manusia terbagi atas tiga jenis:

Seseorang yang menuntut ilmu guna dijadikan bekal untuk akhirat, di mana dia hanya ingin mengharap ridha Allah dan negeri akhirat. Ini termasuk kelompok yang beruntung.

Kita dapat menggarisbawahi pada kalimat “mengharap ridha Allah dan negeri akhirat”. Maka dari redaksi tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa pekerjaan baik apapun apabila diniatkan untuk menggapai ridha Allah juga termasuk dalam kategori ini.

Golongan Kedua

وَرَجُلٌ طَلَبَهُ لِيَسْتَعِيْنَ بِهِ عَلَى حَيَاتِهِ الْعَاجِلَةِ، وَيَنَالُ بِهِ الْعِزِّ وَالْجَاهِ وَالْمَالِ، وَهُوَ عَالِمٌ بِذَالِكَ، مُسْتَشْعِرٌ فِيْ قَلْبٍ رِكَاكَةَ حَالِهِ وَخِسَّةَ مَقْصَدِهِ، فَهذَا مِنَ الْمُخَاطِرِيْنَ

Artinya: Seseorang yang mencari ilmu untuk dimanfaatkan dalam kehidupannya di dunia, sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta. Ia tahu dan sadar bahwa hatinya lemah dan niatnya hina. Orang ini termasuk ke dalam kelompok yang berisiko. 

Dalam redaksi ini, diperuntukkan bagi pencari ilmu yang sebenarnya mereka tau bahwa niat dan maksudnya dalam menuntut ilmu adalah kesalahan, namun tidak mengindahkan peringatan tersebut. Maka Imam al-Ghazali memasukkan orang tersebut dalam kelompok yang mengkhawatirkan. Mereka ditakutkan ajal terlebih dahulu datang menjemput sebelum mereka tersadar dan kembali bertaubat yang akhirnya mereka masuk pada golongan yang ketiga.

Golongan Ketiga

وَرَجُلٌ ثَالِثٌ اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِ الشَّيْطَانُ؛ فَاتَّخَذَ عِلْمَهُ ذَرِيْعَةً إِلَى التَّكَاثُرِ بِالْمَالِ، وَالتَّفَاخُرِ بِالْجَاهِ، وَالتَّعَزَّزِ بِكَثْرَةِ الْأَتْبَاعِ، يَدْخُلُ بِعِلْمِهِ كُلُّ مَدْخَلٍ رَجَاءَ أَنْ يَقْضِيَ مِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ مَعَ ذَالِكَ يَضْمَرُ فِيْ نَفْسِهِ أَنَّهُ عِنْدَ اللهِ بِمَكَانَةٍ، ِلاتِّسَامِهِ بِسِمَةِ الْعُلَمَاءِ، وَتَرَسَّمَهُ بِرُسُوْمِهِمْ فِي الزَّيِّ وَالْمَنْطِقِ، مَعَ تَكَالُبِهِ عَلَى الدُّنْيَا ظَاهِرًا وَبَاطِنًا..

فَهَذَا مِنَ الْهَالِكِيْنَ، وَمِنَ الْحَمْقَى الْمَغْرُوْرِيْنَ؛ إِذِ الرَّجَاءُ مُنْقَطِعٌ عَنْ تَوْبَتِهِ لِظَنِّهِ أَنَّهُ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: Seseorang yang terperdaya oleh setan. Ia menggunakan ilmunya sebagai sarana untuk memperbanyak harta, serta untuk berbangga dengan kedudukannya dan menyombongkan diri dengan besarnya jumlah pengikut.

Ilmunya menjadi sarana untuk meraih tujuan duniawi. Bersamaan dengan itu, ia masih mengira bahwa dirinya mempunyai posisi khusus di sisi Allah Swt karena ciri-ciri, pakaian, dan kepandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia lahir dan batin. Orang dari kelompok ketiga di atas termasuk golongan yang binasa, dungu, dan tertipu. Ia tak bisa diharapkan bertobat karena ia tetap beranggapan dirinya termasuk orang baik.

Berkedok Ulama

Golongan yang ketiga ini merupakan golongan yang paling mengkhawatirkan, karena keadaannya yang menganggap dirinya sudah mempunyai kebaikan dan kedudukan yang mulia di sisi Allah Swt.

Orang dalam golongan ini menganggap dirinya seperti ulama yang mempunyai segudang ilmu, serta menghiasi dirinya dengan berbagai ciri-ciri ulama seperti pakaiannya, gaya berbicara, serta tindak-tanduknya. Mereka mengajak kebaikan pada manusia, namun ternyata mereka sendirilah yang sedang tersesat.

Taubatnya pun tidak diharapkan, karena orang yang berada dalam golongan ketiga ini menganggap dirinya sudah baik. Maka bagaimana mungkin orang yang menganggap dirinya sudah baik akan bertaubat? Atas dasar inilah mereka dimasukan kedalam golongan yang tertipu sebab kepercayaan diri mereka yang keliru.

Perkataannya pun diikuti oleh manusia-manusia awam, dianggap baik dan disebar-luaskan, sehingga kerusakan yang dibuat olehnya sangat amat terlihat. Bagaimana mungkin seseorang yang menipu dirinya sendiri dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain?

Dalam kehidupan kekinian kita dapat melihat banyak fenomena seperti ini, seseorang yang tidak mempunyai keilmuan yang memadai dan hanya memperlihatkan bagian luarnya yang seperti ulama diikuti oleh banyak orang. Sehingga terjadilah fenomena tontonan dijadikan tuntunan, dan tuntunan dijadikan tontonan.

Memang, fenomena di atas juga harus kita jadikan sebagai muhasabah diri, jangan-jangan kitalah orang yang dimaksud Imam al-Ghazali termasuk golongan ketiga ini? Na’uzubillah. Maka mari bersama-sama memperbaiki niat kita dalam mencari ilmu sehingga kita dapat menjadi golongan pertama yang dimaksud oleh Imam al-Ghazali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.