Sains dan Agama, Dua Jalan Menemukan Kebenaran

Sebelum masuknya era-modernisme, setidaknya perkembangan manusia dipandu oleh ilmu agama ataupun filsafat. Filsafat ini jangan diartikan seperti pengertian saat ini. filsafat pada masa klasik dalam bahasa saat ini adalah sains. Era al-Ghazali ilmu filsafat itu masih sangat general. Setidaknya ia membagi menjadi dua jenis. yaitu ilmu-ilmu kewahyuan dan ilmu-ilmu non wahyu (berbasis observasi atau penalaran rasional). Segala bentuk ilmu keagamaan tertampung dalam ilmu-ilmu kewahyuan, Imam al-Ghazali memberikan istilah al-Ulum al-Syariah bagi ilmu-ilmu yang berdasarkan keagamaan. Adapun di luar bidang agama, seperti ilmu mengenai alam, filsafat (biologi, fisika, dan kimia, dll.), semua di bawah payung ilmu non wahyu (al-Ulum al-Aqliyyah). Tak heran jika dahulu tidak terdengar perdebatan antara Sains dan Agama. Sebab saat itu, ilmu yang menjelaskan tentang alam belum disebut dengan sains.

Kehadiran sains tidak akan terlepas dari historisnya sendiri, paling tidak ini merupakan langkah awal konflik antara sains dan agama. Tatkala pemberontakan orang-orang terhadap otoritarian gereja. Bahwa segala sesuatu tidak boleh keluar dari ketetapan gereja. Namun di lain hal, ini merupakan evolusi manusia menuju era modernime, yang timbul melalu fenomena ajaran agama yang belum siap menghadapi kemajuan zaman.

mungkin ini salah satu penyebab, mengapa barat lebih cenderung terhadap sekuler. Trauma terhadap agama ketika itu sangat mencabik-cabik hati mereka, agama yang diharapkan membawa risalah kemanusiaan, berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Seolah Tuhan adalah Tor yang setiap harinya membawa palu untuk memusnahkan manusia yang bertentangan dengan gereja.

Sejak saat itu, sains mulai berkembang pesat. Rasionalisme dan empirisisme dibangun sebagai landasan berfikir manusia. Kekecewaan terhadap agama membuat mereka trauma terhadap keyakinan semu. Inilah yang menyalakan obor perdebatan dan pertentangan antara sains dan agama.

Bigotri Saintisme terhadap agama

Berkembangnya zaman, perdebatan ini makin terbuka. Para saintisme mulai membusungkan dada atas penemuan sains mereka. Terlebih mereka dipertontonkan oleh perilaku agamawan yang tampil dengan kekerasan. Hal itu menjadikan mereka semangat untuk membuktikan bahwa orang beragama hanyalah mereka yang tidak bisa move on dan bergerak maju.

Richard Dawkins merupakan salah satu ahli biologi yang dengan tulisannya terang-terangan mengajak manusia untuk keluar dari agama. Bukunya yang berjudul THE GOD DELUSION menjadi hal baru di kalangan barat, bagi orang-orang yang merasa gerah terhadap konservatisme agama. Gus Ulil berpendapat, “buku Dawkins itu harus diakui, memuat sejumlah argument yang cukup solid dan ditulis dengan bahasa yang amat elegan. Tetapi, kita menangkap di sana nada kemarahan yang mendalam atas agama.” melalui vidio-vidio yang saya lihat pun demikian, tampak kekesalan yang mendalam terhadap agama. 

Kendati sains memang bisa menjelaskan segala sesuatu, bukan berarti sains  menjadi sumber awal dari segala sesuatu tersebut. dengan rasio dan empiris yang mereka agungkan, seolah agama hanya hal khayal yang tak masuk di akal. Dengan teori yang mereka yakini benar, menyangka bahwa teorinya akan tetap benar di segala bidang keilmuan. Sedangkan menurut haidar bagir “orang suka lupa bahwa, pemikiran-pemikiran yang berbeda memiliki apa yang oleh Wittgenstein disebut Language Game (permainan bahasa) yang khas.

Para saintisme bisa saja jika mengkritik agama dengan teorinya, tapi kurang fare rasanya jika mereka belum memasuk dan mendalami bahasa agama. Language game yang dimaksud di sini, makna adalah hasil dari suatu permainan bahasa. Jangankan untuk memahami bahasa antara sains dan agama, wong terkadang dalam intra agama pun masih belum saling memahami. Orang-orang sufi mungkin memiliki bahasanya sendiri dalam menjalankan agama, dan hanya mereka yang mengetahui, sedangkan orang lain meskipun seagama, bisa saja tidak bisa memahami bahasa mereka.

Romantisme Sains dan Agama

Sebenarnya keduanya itu bisa saling melengkapi, seperti pasangan suami istri. meski berbeda, bukan berarti tidak memiliki kesamaan, hingga harus selalu bertentangan. Pada saat tertentu, agama menjadi ilham bagi sains. Seperti halnya yang dialami oleh Prof. Abdus Salam yang mendapatkan hadiah Nobel Fisika 1979 atas penelitiannya mengenai “teori penyatuan gaya elektromagnetik.”. beliau mengaku mendapatkan inspirasi penemuannya dari al-Qur’an. jadi tidak ada salahnya menjadi saintifik yang religius.

Begitu pula sebaliknya. Adanya sains bagi agama, kadang untuk membuktikan kekuasaan Tuhan di muka bumi. Terlebih mengenai ayat-ayat kauniyat  yang menjelaskan alam semesta dan isinya. Sains sangat membantu menunjukkan kekuasaan-Nya, bahwa alam semesta yang besar ini, ada yang mengatur.

Alhasil keduanya sangat dekat, bukan berarti sama. Ranah keduanya jelas berbeda, sains adalah ilmu pengetahuan, sedangkan agama islam adalah wahyu yang diturunkan Allah. Namun bukan semata-mata agama murni tidak bisa dipahami oleh akal. Wong dari nabi-nabi terdahulu, Nabi Muhammad memiliki mukjizat yang sangat istimewa, yaitu al-Qur’an. Nabi Muhammad tidak perlu berusaha mengeluarkan unta dari batu, atau membelah lautan, tapi dengan mukjizatnya berupa al-Qur’an, mendorong manusia untuk berfikir lebih objektif terhadap keyakinan yang mereka miliki, yakni Islam. Sains menciptakan teori mengenai siklus hujan. Dan agama  menjelaskan siapa yang mengatur skema di balik turunnya hujan. Tidak ada salahnya menjadi religius yang saintifik, ataupun menjadi saintifik yang religius.

Dengan catatan, keduanya tidak saling mengahakimi. Seseorang saintifik dari penelitiannya bukan berarti harus meniadakan peran agama. Begitupun para agamawan, tidak seharusnya menolak ilmu penelitian dengan keyakinan. Seperti teori Darwin mengenai evolusi manusia, kita bisa saja menerima teori itu, asalkan dengan ilmu, begitupun jika tidak sepakat, tolak lah dengan ilmu. Jangan bawa agama dan keyakinan (aksioma) untuk membantahnya.

setidaknya sains dan agama punya jalan masing-masing. dua jalan menuju kebenaran.