Majalahnabawi.com – Al-Qur’an seperti permata indah dengan kilaunnya yang terpancar dari berbagai sudut, ia tetap akan memperlihatkan keindahan sinarnya. Keindahannya tidak akan redup ketika kita melihatnya dari sudut yang berbeda. Begitulah gambaran al-Qur’an ketika dikaji dalam berbagai pendekatan ilmu, baik dari sastra, bahasa, sosial, filsafat, dan berbagai macam literatur ilmu lainnya ia akan tetap memberikan keindahan dan keagungannya.

Sejak diturunkannya al-Qur’an hingga saat ini, banyak peneliti muslim maupun non-muslim sekalipun mencoba mengungkap keindahan dan keagungan al-Qur’an, mereka meneliti dengan berbagai macam pendekatan ilmu. Seiring berkembangnya kehidupan manusia dan berkembangnya ilmu pengetahuan. Betapa hebatnya al-Qur’an. Semakin berkembangnya ilmu ia juga  eksis ditengah kehidupan manusia dan menarik untuk dikaji. Layaknya permata, semakin digosok, ia akan semakin memperlihatkan pancaran kilauannya yang indah. Allah SWT berfirman:

وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ -41 – لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ – 42

Artinya: “Dan sesungguhnya al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji”. (Fushilat: 41-42).

Sebagai bukti bahwa al-Qur’an adalah maha karya, maka cukup dengan satu ayat saja untuk mengkajinya dari berbagai ilmu untuk membuktikan rahasianya. Tidak secara keseluruhan. Al-Qur’an selalu memuaskan rasa haus para pengkajinya. Manurut Prof. Dr. Quraish Shihab  hal ini sejalan dengan salah satu tujuan diturunkannya al-Qur’an, yaitu sebagai pemuas bagi siapa saja yang haus akan keindahannya. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Yunus: 57).

Baja Juga  Pemimpin Masa Depan Perspektif Al-Quran

Penjelasan ayat diatas, jelas bahwa salah satu tujuan diturunkannya al-Qur’an ialah sebagai pelajaran bagi umat manusia. Al-Qur’an sendiri dalam ayat-ayatnya terdapat beberapa yang disampaikan dalam bentuk yang samar, atau dengan bentuk ghaib, contohnya seperti tidak menyebutkan langsung nama orang yang dimaksud, hanya menyebutkan dengan kata pengganti orang ketiga. Dalam bahasa Arab disebut dengan dhomir, seperti menggunakan kata huwa (dia laki-laki), huma (mereka dua orang), atau menggunakan kata pengganti lainnya dengan tidak menyebutkan siapa nama aslinya, seperti hanya menggunakan kata “hamba”. Salah satu tujuan atau hikmah adanya ungkapan-ungkapan atau nama-nama yang disamarkan dalam al-Qur’an agar manusia berfikir dan menelaahnya.

Salah satu ayat yang di dalamnya terdapat nama orang-orang yang disamarkan, ada pada surat al-Kahfi ayat 82, Allah SWT. berfirman:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا 

Artinya: “Dan adapun dinding rumah itu milik dua anak yatim di kota itu yang dibawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang soleh, maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya”. (al-Kahfi: 82).

Ayat di atas menjelaskan bahwa terdapat dua anak laki-laki dan mereka adalah anak yatim, ditinggal oleh ayahnya yang ditinggalkan untuk mereka yang tersimpan dirumah itu. Al-Qur’an sendiri tidak menyebutkan siapa nama kedua anak dan siapa sosok ayah yang soleh tersebut, al-Qur’an hanya menyebutkan “dua anak laki-laki” dan ” ayahnya”.

Baja Juga  Hari Pahlawan dan Fatwa Jihad

Dari beberapa literatur tafsir dijelaskan bahwa harta tersebut ialah ilmu, ada juga yang berpendapat bahwa harta tersebut ialah harta dalam artian yang sesungguhnya yaitu emas dan perak. Disebutkan juga bahwa mereka mempunyai ayah yang saleh. Bagaimana tidak menjadikan kita yang membacanya bertanya-tanya?, siapa kedua anak ini?, dan siapa ayah mereka yang Allah SWT?, al-Qur’an hanya menyebutkan ia adalah seorang yang saleh. Kata saleh disini bukan asumsi manusia, namun lebih dari itu, saleh disini merupakan sebutan langsung dari Allah SWT, betapa mulianya orang tersebut.

Bukan tanpa alasan Allah SWT mencantumkan orang-orang tersebut kedalam ayat al-Qur’an. Betapa besarnya pengaruh kehidupan mereka sehingga Allah SWT. menyebutkan mereka dalam al-Qur’an. sehingga Allah SWT, menghendaki agar kita mengetahuinya.

Dalam literatur tafsir menyebutkan bahwa kedua anak tersebut bernama ‘Ashram’ dan ‘Sharim’, sedangkan ayahnya bernama ‘Kasih’.

Ayahnya termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa. Namun ayahnya yang dimaksud dalam ayat ini bukanlah ayah dari kedua anak ini, melainkan ayah dari tujuh keturunan di atas mereka. Keduanya dijaga oleh Allah SWT. dari mara bahaya sehingga mereka hidup sampai mereka dewasa.

Itulah nama-nama asli yang dari sosok misterius dalam surat al-Kahfi ayat: 82, semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bishowab

Sumber:

الكشاف عن حقائق غوامض التنزيل، المؤلف: أبو القاسم محمود بن عمرو بن أحمد، الزمخشري جار الله __ المتوفى: 538هـ

معالم التنزيل في تفسير القرآن = تفسير البغوي، المؤلف : محيي السنة ، أبو محمد الحسين بن مسعود بن محمد بن الفراء البغوي الشافعي المتوفى : 510هـ __

مراح لبيد لكشف معنى القرآن المجيد، المؤلف: محمد بن عمر نووي الجاوي البنتني إقليما، التناري بلدا __المتوفى: 1316