Amaliyah, Artikel Utama

4 Prinsip Pokok Tasawuf Imam al-Harits al-Muhasiby

Penulis: Faiz Aidin · 1 min read

Majalahnabawi.comSembunyikanlah amal baik kita sebisa mungkin, sebagaimana kita menyembunyikan keburukan kita.

Imam Abu Abdillah al-Harits bin Asad al-Muhasiby yang biasa dan terkenal dengan sebutan Imam al-Muhasiby, merupakan tokoh tasawuf yang hidup pada tahun 165 H sampai 243. Beliau termasuk ulama yang sangat tegas dengan praktik tasawuf, dan beliau juga ahli hadis yang mana dibuktikan dengan menyebutkan sanad-sanadnya sampai Rasulullah ketika menyebutkan hadis di dalam kitab-kitab karyanya.

Di antara karya-karyanya adalah kitab Risalah al-Mustarsyidin, kitab al-Ri’ayah li Huquq Allah, kitab al-Makasib, kitab Adab al-Nufus, dan masih banyak lainnya.

Di dalam kitabnya “al-Ri’ayah li Huquq Allah“, Imam al-Muhasiby menyebutkan empat prinsip pokok tasawuf, yaitu:

1. Membersihkan Hati Lebih Baik daripada Berbuat Kebaikan Tanpa Disertai Penyucian Hati

التَّطْهِیْرُ خَیْرٌ مِنْ عَمَلِ الْبِرِّ دُوْنَ تَطْهِیْرٍ

Manusia diperintahkan untuk melaksanakan segala perintah Allah semampunya, dan menjauhi segala larangan Allah. Dalam berbuat/beramal baik harus disertai dengan hati yang suci dan ikhlas, jangan sampai riya dan sombong ketika berbuat kebaikan.

Amal baik yang sedikit tapi ikhlas lebih baik daripada banyak amal tapi tidak ikhlas. Lebih baiknya lagi jika amal baik banyak disertai dengan keikhlasan dan kesucian hati.

2. Zuhud pada Perkara yang Halal

الزُّهْدُ فِي الحَلَالِ

Zuhud pada perkara yang haram dan makruh sudah tentu diperintah dan itu hal biasa bagi orang yang bisa melaksanakannya. Tapi, luar biasanya jika zuhud pada hal yang halal, yaitu tidak berlebihan pada perkara yang halal, sekadar kebutuhan saja mengonsumsi atau menggunakan hal yang halal.

Imam al-Muhasiby berkata:

أَمَّا الزَّوَاٸِدُ الْیَقِیْنِ وَالْمَعْرِفَةِ وَالْعِلْمِ وَالصَّلَاحِ فَإِنَّمَا هِيَ فِي الزُّهْدِ فِي الْحَلَالِ

Baca Juga:   Senyum dalam Tinjauan Hadis dan Psikologi

Adapun bertambahnya keyakinan, makrifat, ilmu, keshalihan itu hanya diraih ketika zuhud dalam hal yang halal.

3. Bukti Cinta Adalah Mengikuti kepada Yang Dicintai, Bukan Hanya Mengaku-ngaku dan Banyak Omong

الْحُبُّ تَقْلِیْدٌ لِلْمَحْبُوْبِ، وَلَیْسَ ادِّعَاءً وَثَرْثَرَةً

Setiap muslim pasti mengaku cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ, cinta orang saleh, dan cinta para wali. Namun, apakah kita sudah meniru tingkah laku baik mereka sebagai tanda cinta kepada mereka?. Bukankah jika cinta kepada seseorang pasti akan mengikuti dan menirunya?. Marilah kita sadari apakah cinta kita benar serius atau cinta dusta/palsu kepada mereka?. Jika kita benar-benar cinta kepada mereka, marilah kita berusaha mengikut amaliah mereka semampu kita.

4. Memurnikan Amal dari Kerusakan sejak Awal, Pertengahan, hingga Akhir Amal

تَخْلِیْصُ الْعَمَلِ مِنَ الْأٓفَاتِ فِيْ بِدَایَتِهِ وَأَوْسَطِهِ وَنِهَایَتِهِ

Ikhlas beramal memang sulit, apalagi mempertahankan amal jangan sampai diungkit-ungkit di kemudian hari.
Amal yang ikhlas tidak pernah diungkit-ungkit sejak beramal sampai kemudian hari.

Oleh karena itu, marilah kita jaga amal kita jangan sampai riya dan diungkit-ungkit karena bisa mengakibatkan hangusnya pahala amal kita.

Sembunyikanlah amal baik kita sebisa mungkin, sebagaimana kita menyembunyikan keburukan kita.

Semoga kita bisa mengamalkan empat hal di atas. Aamiiin.

Faiz Aidin
Dilahirkan tanggal 25 Juni 2000 di Jakarta Barat, anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan H. Muharifin dan Hj. Nurhayati, bertempat tinggal di jalan raya Kembangan, Kembangan Utara Rt 09/02 No. 83 Gang H. Naim, Kembangan, Jakarta Barat. Mahasantri Darus-Sunnah angkatan Auliya dan mahasiswa PAI FITK UIN Jakarta. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.