Tunisia adalah salah satu negara yang terletak di benua Afrika bagian paling Utara. Ulama terkenal dunia lahir di negera tersebut.  Pada zaman khalifah Usman, beliau mengirimkan salah satu pasukannya, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh al Qurasy al Amiry ke Afrika. Beliau memasuki Afrika bersama 20.000 sahabat dan tabi’in pada tahun 27 H. Sejak masa ini lah tersebarnya ilmu hadis di Negri Tunisia.

Salah satu kota yang dijadikan sebagai cikal bakal penyebaran hadis di Tunisia adalah Kairouan. Kairouan merupakan  kota ilmu ke 4 dalam peradaban Islam setelah Madinah, Kuffah dan Damaskus. Maka tidak heran khalifah Usman bin Affan mengirimkan utusannya ke kota tersebut.

Kuatnya mayoritas penduduk yang didominasi oleh madzhab Maliki menjadikan perhatian masyarakatnya terhadap hadis sangatlah besar. Dan tidak dapat dipungkiri lagi madzhab yang sudah mengakar kuat ini menjadikan pendukung besar studi hadis di negara tersebut. Sehingga tidak heran jika banyak ulama hadis yang muncul dari negara tersebut . Salah satunya adalah Abu Al Arab At Tamimi.

Nama lengkap beliau adalah Abu Al Arab Muhammad bin Ahmad bin Tamim bin Tamam bin Tamim at-Tamimi al-Qayrawani. Beliau lahir pada 251 H. Dalam kitab Thabaqat Al Muhaddisin bil Qairawan, tercatat bahwa beliau termasuk dalam tingkatan kelima tabi’ tabiin dalam periwayat hadis.

Beliau berasal dari keluarga Arab yang terkemuka di kalangan bangsawan sehingga beliau mendapat perlakuan seperti halnya anak kerajaan karena ayahnya sebagai salah satu pemimpin perang di Kairouan. Namun yang disukainya hanyalah kesederhanaan dalam kesehariannya. Bentuk kesederhanaannya terlihat pada adab berpakaian saat menghadiri majlis ilmu gurunya . Cerita ini tercatat dalam kitab Riyadh Nufus dijelaskan bahwa beliau termasuk anak dari kerajaan yang mana dalam kesehariannya mengenakan topi kerajaan, sandal merah dan baju dari kalangan bangsawan.

Suatu hari beliau mendatangi gurunya Abu ar-Rabi Muhammad bin Yahya bin as-Salam dengan mengenakan pakaian kerajaan. Hal ini yang membuat takjub oleh sebagian teman-temannya. Sehingga suatu ketika salah satu temannya menghampirinya dan menasehati beliau untuk memakai pakaian sederhana layaknya teman lainnya karena pakaian yang dikenakannya bukan pakaian ahli ilmu.

Pada akhirnya , beliau pulang dan meminta orang tuanya untuk bisa diizinkan mengenakan pakaian biasa, akan tetapi orangtuanya menolak. Namun hal itu tak membuatnya putus asa , beliau mendatangi penjahit dekat rumah Syaikh Muhammad dan memintanya untuk menjahit pakaian biasa.

Jadi sebelum berangkat berguru, beliau mengenakan pakaian yang disukai kedua orangtuanyadan kemudian menggantinya dengan pakaian sederhana untuk berguru ke syaikh Muhammad. Begitupun ketika ia hendak kembali ke istananya.

Ketika beliau ditanya oleh seorang sahabat tentang keistiqomahannya dalam majlis ilmu dan beliau tak pernah terlihat menulis catatan dari apa yang beliau dengar, maka beliau hanya menjawab kuncinya adalah patuh perintah orang tua. Hingga setelah kejadian ini ada salah satu sahabat yang memberikannya kulit untuk menulis catatan ilmu dari majlis ilmu yang beliau hadiri. Inilah  bentuk kesederhanaan dari Abu al-Arab.

Masyarakat Tunisia sudah mengenal studi hadis sebelum kelahiran Abu al-Arab. Uqbah bin Nafi’ adalah salah satu sahabat yang menyebarkan hadis di Tunisia, khususnya di Kairouan. Masyarakat Tunisia mengenal hadis baik secara riwayah maupun dirayah.

Selama hidupnya Abu al Arab banyak meriwayatkan hadis dari nabi dan dalam periwayatannya selalu menyebutkan sanad masing-masing hadis. Beliau mempunyai pengaruh besar dalam menyemarakkan hadis di Tunisia. Tradisi Abu al-Arab dalam periwayatan hadis lengkap disertakan dengan sanadnya. Hal ini tidak hanya pada kitab hadis saja namun kitab sejarah yang beliau tulis juga disertakan dengan sanad lengkapnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga otentisitas dan kredibilitas data sejarah yang didapatkan.

Karyanya telah mencapai 3500 kitab yang berdiri dari berbagai cabang bidang ilmu pengetahuan. Beliau mengambil hadis pada 150 guru dan tak diragukan lagi beliau menguasai beberapa bidang ilmu khususnya karya yang ditulis oleh ulama-ulama Tunis di Kairouan seperti tafsir, hadis, fiqh Maliki dan sejarah.

Dalam kitab Tarikh al-Hadis an-Nabawi fi Tunis dijelaskan bahwa beliau berhasil mengenalkan 17 sahabat yang merintis proses penyebaran hadis di Tunisia. Beliau juga menulis 50 nama sahabat kecil atau yang disebut dengan kibaru tab’in  yang mengajarkan hadis di Tunisia. Dengan pengenalan sahabat dan  tabiin beliau berharap bisa menyambungkan sanad antara ulama hadis dengan para sababat sebagai akar utama penyebaran hadis di Tunisia. Abdurrahman bin Muhammad bin ad-Dhabbagh dalam kitabnya menyebutkan bahwa beliau seorang ulama yang mengangkat bendera sejarah Afrika dengan keunggulannya dalam bidang hadis.

Wallahu a’lam bishowab.