imam ibn hibban

Ambiguitas Alif Lam pada Isim Alam

Majalahnabawi.comAlif lam merupakan tanda bahwa suatu kalimat merupakan kalimat yang khusus atau biasa kita sebut dengan istilah ma’rifat. Misalnya kalimat baitun (بَيْتٌ), yang artinya rumah secara umum. Bagaimanapun bentuknya, siapapun pemiliknya, dan di mana pun tempatnya adalah makna rumah yang ditunjukkan oleh kata baitun ini. Namun bagaimana kalau kita menemukan alif lam pada suatu kalimat yang memang sudah berbentuk ma’rifat seperti isim ‘alam?. Ini menjadi ambiguitas alif lam yang harusnya hanya ada pada kalimat yang umum atau kalimat nakirah.

Ambiguitas Alif Lam pada Nama Perawi

Jika kita bertanya, apakah memang ada alif lam yang masuk kepada isim yang ma’rifat tentu kita harus mengetahui apa saja isim yang ma’rifat itu. Imam Muhammad bin Dawud al-Shonhaji (wafat 723 H) mengatakan dalam kitabnya yang sangat legendaris bagi kalangan santri yaitu Matan al-Ajurrumiyah:


وَالْمَعْرِفَةُ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: الْإِِسْمُ الْمُضْمَرُ، نَحْوُ: أَنَا، وَأَنْتَ، والإسم العَلَمُ، نحو: زيدٌ ومَكَّةَ، والاسم المُبْهَمُ، نحو: هذا وهذه وهؤلاء، والإسم الذي فيه الألف واللام، نحو: الرجُلُ والغلامُ، وما أُضِيفَ إلى واحد من هذه الأربعة

Isim Ma’rifat ada lima yaitu: isim dhomir seperti lafadz ana dan anta, dan isim alam seperti Zaid dan Mekah, dan isim mubham seperti hadza, hadzihi, dan ha’ula’I dan isim yang disertai alf lam seperti al-rajulu dan al-ghulamu dan kalimat yang bersandar pada salah satu dari empat macam kalimat ini”.
Kalimat ini sudah cukup untuk menjelaskan dan memberikan contoh terkait macam-macam isim ma’rifat. Dari sini juga bisa kita ketahui bahwa alif lam itu hanya ada pada isim yang nakiroh untuk menjadikan isim Nakiroh tersebut menjadi ma’rifat. Seperti kata rajulun yang asalnya umum bisa menjadi khusus dengan masuknya alif lam. Kata al-rajulu bahkan bisa bermakna “laki-laki yang bernama zaid” dengan keadaan tertentu.
Ambiguitas alif lam ini bisa kita temui pada sanad suatu hadis. Seperti Imam Hasan al-Bashri yang terkadang tertulis dengan nama حسن dan terkadang tertulis dengan nama الحسن. Apakah kemudian ketika tertulis حسن maka itu bisa saja Hasan secara umum sedangkan ketika ditulis الحسن yang maksudnya adalah imam Hasan al-Bashri?


Antara Laits dan al-Laits Apakah Orang Yang Berbeda?


Lebih jauh lagi jika kita melihat hadis dalam kitab Sahih al-Bukhari. Pada kitab shalat bab ¬ma yasturu minal ‘auroti nomor hadis 367:


حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا ‌لَيْثٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ الله بن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ اشْتِمَالِ الصَّمَّاءِ، وَأَنْ يَحْتَبِيَ الرَّجُلُ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ، لَيْسَ عَلَى فَرْجِهِ مِنْهُ شَيْءٌ

Pada hadis ini nama Imam Laits tertulis tanpa menggunakan alif lam. Apakah ini berarti kata Laits di sini bermakna umum dan bukan menunjukkan kepada Imam Laits bin Sa’d yang terkenal di kalangan pelajar hadis? Tetapi jika kita melihat hadis lain dengan topik yang sama namun jalur yang berbeda akan kita dapati hasil yang berbeda. Dalam riwayat lain imam laits tertulis dengan menggunakan alim lam (الليث) atau al-Laits. Jika kita amati hadis pada kitab yang sama mengenai pakaian bab isytimal al-shoma’ nomor 5820 riwayat Yahya bin Bukair:


حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَير: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ: أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ قَالَ: نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم عَنْ لِبْسَتَيْنِ وَعَنْ بَيْعَتَيْنِ، نَهَى عَنِ الْمُلَامَسَةِ وَالْمُنَابَذَةِ فِي الْبَيْعِ
وَالْمُلَامَسَةُ: لَمْسُ الرَّجُلِ ثَوْبَ الْآخَرِ بِيَدِهِ بِاللَّيْلِ أَوْ بِالنَّهَارِ وَلَا يقلِّبه إِلَّا بِذَلِكَ
وَالْمُنَابَذَةُ: أَنْ يَنْبِذَ الرَّجُلُ إِلَى الرَّجُلِ بِثَوْبِهِ وَيَنْبِذَ الْآخَرُ ثَوْبَهُ، وَيَكُونَ ذَلِكَ بيعهما عن غير نظر ولا تراض. واللبستان: اشْتِمَالُ الصمَّاء، والصمَّاء: أَنْ يَجْعَلَ ثَوْبَهُ عَلَى أَحَدِ عَاتِقَيْهِ، فَيَبْدُو أَحَدُ شِقَّيْهِ لَيْسَ عَلَيْهِ ثَوْبٌ.
وَاللِّبْسَةُ الْأُخْرَى: احْتِبَاؤُهُ بِثَوْبِهِ وَهُوَ جَالِسٌ، ليس على فرجه منه شيء

Pada hadis ini imam laits ibn sa’d tertulis dengan menggunakan alif lam.


Terjawab Oleh Alfiyah Ibn Malik


Ternyata pertanyaan itu sudah terjawab oleh imam Muhammad ibn Abdullah ibn malik al-Andalusi (wafat 672 H). Dalam kitab Al-Khulashoh fi Ilmi nahwi atau yang lebih kita kenal dengan nama Alfiyah ibn malik pada bait ke 109 dan 110 yang berbunyi:


109- وَبَعْضُ الَاعْلَامِ عَلَيْهِ دَخَلَا # لِلَمْحِ مَا قَدْ كَانَ عَنْهُ نُقِلَا
110 – كَـ «الْفَضْلِ، وَالْحَارِثِ، وَالنُّعْمَانِ» # فَذِكْرُ ذَا وَحَذْفُهُ سِيَّانِ

Dan masuk ke sebagian isim alam # Alam manqul kemasukan alif dan lam
Seperti lafadz al-fadhl dan al-Nu’man # Masuknya al tak membuat perbedaan

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa memang terkadang alif dan lam juga ada pada kata yang secara jelas merupakan kata yang khusus atau ma’rifat. Masuknya alif lam atau tidak adanya alif lam tidak berpengaruh apapun pada kalimat tersebut. Sehingga makna laits ataupun al-Laits itu sama saja dan merujuk pada imam Laits Ibn Sa’d.

Similar Posts