Al-Quran, Artikel Utama

Barshisha; Ahli Ibadah yang Murtad saat Wafat

Majalahnabawi.com – Terdapat kisah tentang seorang yang sangat masyhur ibadahnya hingga dipuji oleh para malaikat, namun ia tetap dimasukkan ke neraka. Bagaimana bisa seorang ahli ibadah justru tidak bisa masuk surga?

Dalam kitab tafsir Marah Labid karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani disebutkan seorang ahli zuhud bernama Barshisha. Dia selalu beribadah selama 70 tahun dan tidak pernah melakukan maksiat sedikitpun. Lalu Iblis ingin menggodanya dengan menyamar sebagai ulama lalu datang ke Kuil Barshisha dan memanggilnya namun tidak dijawab.

Barshisha tidak berbuka puasa kecuali setelah 10 hari dan tidak berhenti beribadah kecuali setiap 10 hari sekali.

Setan berusaha mengambil perhatian Barshisha dengan berpura-pura shalat dan beribadah di kuilnya selama 40 hari. Setan pun beribadah bersama Barshisha di kuil dan tidak berhenti berpuasa dan beribadah kecuali setelah 40 bahkan 80 hari. Barshisha pun merasa kagum dengan ibadah setan. Lalu setan mengajarkannya doa untuk mengobati kesembuhan dengan tujuan mengganggu ibadah Barshisha.

Godaan Setan

Pada suatu hari, setan menggangu seorang gadis dengan mencekiknya lalu keluarganya mendatangi Barshisha. Barshisha pun berdoa dengan doa yang diajarkan setan dahulu. Setan pun keluar dan pergi dan tidak mengganggu gadis itu. Maka tanpa sengaja tubuh gadis itu terbuka, lalu setan membisiki Barshisha untuk menggaulinya lalu bertaubat. Setan pun berhasil hingga gadis itu itu mengandung.

Barshisha takut perbuatannya diketahui oleh saudara gadis tersebut. Lalu setan mengarahkan untuk membunuh gadis tersebut lalu membuangnya di lereng gunung. Saudara gadis yang hamil ini pun menanyakan keadaan adiknya.

Barshisha menjawab bahwa ia telah dibawa oleh setan dan ia tidak mampu melawannya. Namun saudara tertuanya mendapat mimpi selama tiga hari berturut-turut tentang kejadian asal si gadis dan Barshisha. Saudara-saudara si gadis pun menanyakan pada Barshisha namun ia tetap menyangkalnya.

Baca Juga:   Ketika Kiai Sya'roni Ahmadi Berhadapan dengan 48 Kiai

Setan mendatangi mereka dan memberitahukan kuburan adiknya. Lalu mereka mendatanginya dan mengetahui keadaan adiknya. Kemudian mereka pulang dan mengabarkan pada familinya, mereka bersama pasukan mendatangi Kuil Barsisha dan menghancurkannya. Barshisha pun ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan disalib di kayu. Tatkala hendak disalib, setan pun mendatanginya dan memerintahkan Barshisha bersujud padanya. Barshisha pun bersujud dihadapan setan dan wafat dalam keadaan berpaling dari Tuhannya (kufur).

Ahli Ibadah Harus Paham Fikih

Allah berfirman dalam QS. al-Hasyr: 16-17

كَمَثَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَٰنِ ٱكْفُرْ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّي بَرِىٓءٌ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَٰلَمِينَ (16) فَكَانَ عَٰقِبَتَهُمَآ أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَٰلِدَيْنِ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَٰٓؤُا۟ ٱلظَّٰلِمِين.

Artinya: Bujukan orang-orang munafik itu adalah seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia: “Kafirlah kamu”, maka tatkala manusia itu telah kafir, maka ia berkata: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta Alam”. Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.

Kisah Barshisha di atas mengajarkan kita untuk berhati-hati, baik dalam beribadah maupun bersikap agar tidak mudah terjerumus tipu daya setan. Seorang ahli ibadah yang tidak memahami ilmu fikih dengan baik dan wirai lebih mudah digoda daripada seorang ahli fikih sebagaimana terdapat dalam hadis kitab Sunan Ibnu Majah:

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيْدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ جُنَاحٍ أَبُوْ سَعْدٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَقِيْهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Satu orang ahli fikih/ agama itu lebih sulit bagi setan daripada seribu ahli ibadah.”

Baca Juga:   Meneguhkan Organisasi

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa mempelajari ilmu fikih itu sangat penting dalam hal beribadah. Sehingga menjadikan motivasi bagi kita agar lebih rajin mempelajarinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.