Artikel Utama

Pemberontakan PKI dalam Tinjauan Hadis

Penulis: Mifta Dwi Kardo · 2 min read

Majalahnabawi.com – Setiap tanggal 30 September kita mengenang peristiwa pembantaian para ulama dan beberapa jenderal oleh PKI. Ada beberapa hal penting mengenai pemberontakan PKI dalam tinjauan hadis, sebagai berikut:

1. Dosa Tidak Turun Temurun

Tidak seharusnya menghukum seseorang yang dosanya dilakukan oleh para pendahulunya. Hal ini semakna dengan yang Allah firmankan (QS. Fatir: 16)

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَىْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰٓ ۗ إِنَّمَا تُنذِرُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِٱلْغَيْبِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِۦ ۚ وَإِلَى ٱللَّهِ ٱلْمَصِيرُ

Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah kembali(mu).

Senada dengan yang disampaikan Prof. KH. M. Sirojuddin Syamsuddin atau dikenal dengan Din Syamsuddin bahwa tak seyogyanya keturunan aktivis PKI menanggung dosa orang tuanya, karena semestinya mereka ini dirangkul karena mereka generasi penerus bangsa.

2. Peristiwa PKI

Tragedi nasional ini terjadi 3 tahun sebelum Revolusi Perancis 1968. Yang terlintas dalam pikiran jamak orang bila disebut tanggal 30 September 1965 ialah penculikan dan pembunuhan keji PKI terhadap para jenderal yang 7  yakni Jenderal Ahmad Yani, Mayjen R Soeprapto, Mayjen Harjono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Panjaitan dan Brigjen Sutoyo dan satu perwira yakni Lettu Pirre Tandean  yang dimasukan ke dalam lubang di kawasan Pondok Gede, Jakarta serta beberapa orang lainnya yang menjadi sasaran. Istilah Sungai Merah Bengawan Solo adalah bukti lain kekejaman yang terjadi, serta di tempat lainnya seperti Magetan, Ponorogo yang menjadi lokasi para ulama dan santri.

3. Peristiwa ORBA

Setelah itu PKI dilarang, diberikan cap pemberontakan. Tiba saatnya pemerintah yang membantai kelompok PKI, donatur, informan serta simpatisan yang menjalin kontak dengan mereka, dengan dalih menghilangkan kegiatan kudeta. namun sangat disayangkan, mereka yang merupakan simpatisan, keturunan, kerabat PKI ikut diasingkan, dibunuh, dihilangkan, sehingga tak aneh jika tatkala itu apabila ada kabar kehilangan, jangan terlalu berharap orang yang hilang akan kembali.

Baca Juga:   Hindun Binti Utbah, Pemakan Hati Hamzah yang Menjadi Sahabat Rasulullah

Para simpatisan yang berada di luar negeri ditahan paspor mereka untuk kembali ke Indonesia hingga turunnya Soeharto, para tapol yang diasingkan ke Kendal, Jawa Tengah serta para Gerwani yang dijadikan propaganda itu berakibat pada kekerasan yang menyasar pada para perempuan cukup sudah mewakili ketidakadilan orba dalam menjalani program bersih diri dan bersih lingkungan (istilah dalam memusnahkan PKI dan yang terkait). “Hilang tanpa kabar itu lebih menyakitkan daripada mengetahui kematian seseorang” makna yang terdapat pada novel Laut Bercerita ini membentuk bagaimana keadaan jamak keluarga yang kehilangan anaknya yang diduga simpatisan PKI.

4. Metode Nabi Menangani Pemberontakan

Benih pemberontakan sedari dahulu sudah terjadi, dimulai pada zaman Nabi Muhammad Saw yang terlukiskan pada hadis riwayat Abu Said al-Khudri (w. 74 H) .

بعث علي بن أبي طالب رضي الله عنه إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم من اليمن بذهيبة في أديم مقروظ لم تحصل من ترابها قال فقسمها بين أربعة نفر بين عيينة بن بدر وأقرع بن حابس وزيد الخيل والرابع إما علقمة وإما عامر بن الطفيل فقال رجل من أصحابه كنا نحن أحق بهذا من هؤلاء قال فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم فقال ألا تأمنوني وأنا أمين من في السماء يأتيني خبر السماء صباحا ومساء قال فقام رجل غائر العينين مشرف الوجنتين ناشز الجبهة كث اللحية محلوق الرأس مشمر الإزار فقال يا رسول الله اتق الله قال ويلك أولست أحق أهل الأرض أن يتقي الله قال ثم ولى الرجل قال خالد بن الوليد يا رسول الله ألا أضرب عنقه قال لا لعله أن يكون يصلي فقال خالد وكم من مصل يقول بلسانه ما ليس في قلبه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إني لم أومر أن أنقب عن قلوب الناس ولا أشق بطونهم قال ثم نظر إليه وهو مقف فقال إنه يخرج من ضئضئ هذا قوم يتلون كتاب الله رطبا لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية وأظنه قال لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل ثمود.

 

Baca Juga:   Melacak Sejarah, Dinamika, dan Relevansi Bahtsul Masail

Ali bin Abu Thalib ra mengirimkan sebatang emas yang belum diangkat dari cetakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Beliau membagikannya kepada empat orang: ‘Uyainah bin Badr, Aqra bin Habis, Zaid al-Khail, dan yang keempat adalah Alqamah atau ‘Amir bin Thufail. Melihat hal itu, salah seorang sahabatnya berkata: “Kami lebih berhak atas emas tersebut daripada orang-orang ini.” Ketika kabar itu didengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau bersabda: “Tidakkah kalian mempercayaiku padahal aku adalah orang yang terpercaya dari langit (surga)? Aku menerima kabar dari langit, pagi hari maupun sore hari.” Tiba-tiba seorang laki-laki dengan mata cekung, tulang pipi cembung, dahi menonjol, berjanggut tipis, berkepala gundul dan menggunakan ikat pinggang berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah! Takutlah kepada Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Celaka kamu! Bukankah di muka bumi ini akulah yang paling takut kepada Allah?” Orang itu beranjak dari tempat duduknya. Khalid bin Walid berkata: “Wahai Rasulullah! Izinkan aku menebas lehernya.” Beliau bersabda: “Jangan, bisa jadi ia mengerjakan shalat.” Khalid berkata: “Berapa banyak orang yang shalat berkata dengan lisannya yang tidak sesuai dengan hatinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak diperintah untuk menyelidiki hati manusia maupun mengetahui isi perutnya.” Kemudian Rasulullah melihat kepada orang itu ketika hendak pergi kemudian berkata: “Sesungguhnya dari keturunannya akan muncul suatu kaum yang membaca Kitabullah tetapi hanya sampai tenggorokannya saja. Mereka lepas dari agama sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya.” Dan aku mengira Nabi juga berkata: “Seandainya aku hadir pada masa itu aku akan membunuh mereka sebagaimana bangsa Tsamud dibinasakan.” (HR. al-Bukhari)

Mereka yang diinisialkan oleh Nabi ini adalah kaum pemberontak yang nantinya akan memberontak terhadap kepemimpinan yang terpilih seperti Khawarij, ISIS, Al-Qaeda, Taliban, PKI dan lainnya baik dengan radius pemberontakan yang kecil ataupun besar. Membasmi pemberontak merupakan jalan represif yang bersifat defensif demi mencari perdamaian. Tapi ini tidak akan mencegah terulang kembalinya pemberontakan, karena ideologi tak bisa mati. Solusi dalam hal ini ialah dengan tindakan preventif berupa pengayoman/lobbying pada tiga aspek (Ali Mustafa Yaqub, 2014).

  1. Pendekatan Personal
  2. Pendekatan Pendidikan
  3. Pendekatan Penawaran
Mifta Dwi Kardo
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.