Amaliyah, Artikel Utama

Hadis Pembelengguan Setan dan Kaum Warteg Bahari

Avatar Written by Riza Bari · 1 min read

majalahnabawi.com – Umumnya sering kita dengar bahwa pada bulan Ramadhan para setan itu diikat sehingga tidak ada setan yang bisa berkeliaran, namun sebelum lebih lanjut penulis ingin mengusut dari mana statement ini berasal.

Pembahasan ini semua berasal dari hadis Kanjeng Nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

Apabila telah datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setan dibelenggu.

Hadis ini banyak dipermasalahkan oleh banyak orang terkhusus pada bulan Ramadhan, karena permasalahannya seperti ini. Setan sebagaimana yang kita ketahui itu ada dua jenis. Ada setan yang berbentuk manusia dan ada juga yang berbentuk jin. Yang berbentuk manusia itu berujud fisik artinya bisa kita lihat, sedangkan yang berbentuk jin tidak ada wujud fisiknya dan nyatanya tidak ada setan yang berbentuk manusia diikat kedua tangannya pada bulan Ramadhan. Tapi bagaimana logikanya dengan setan yang berbentuk jin? Sesuatu yang tidak berwujud fisik lalu diikat dengan yang berwujud fisik?

Lalu permasalahan selanjutnya adalah jika memang benar setan pada bulan Ramadhan diikat tapi mengapa masih ada saja orang yang melakukan maksiat?, masih ada saja orang yang kelakuannya masih saja sama seperti di bulan-bulan biasanya?, masih ada saja rombongan kaum warteg Bahari di terik siang matahari?

Penjelasannya

Maka menurut Imam al-Qhadhi ‘Iyadh rahimahullah bahwa hadis ini bisa dimaknai dengan dua cara. Pertama dimaknai dengan makna hakiki maka maknanya adalah dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya para setan karena sebagai tanda pengagungan bulan suci ini. Tujuan dari pembelungguan ini adalah agar para setan tercegah untuk mengganggu dan menghasut orang-orang mukmin. Jika dimaknai dengan makna majazi maka maknanya adalah sebuah bentuk isyarat akan banyaknya pahala dan ampunan dan para setan tidak banyak menganggu serta menghasut.

Baca Juga:   Saat Puasa, Lebih Baik Kerja atau Tidur?

Lalu terkait kemaksiatan yang terjadi pada bulan Ramadhan padahal katanya para setan itu diikat, maka Imam Al-Qurtubhi sekiranya menjawab ada dua faktor, yaitu:

1. Faktor orang yang berpuasa yang tidak menjaga dan memperhatikan syarat dan adab-adab berpuasa.
Yang diikat hanyalah setan tapi hawa nafsu tidak.

Maka terjawablah dua permasalahan di atas yang semoga dengan hal ini dapat menambah semangat ibadah kita di bulan yang agung ini dan bulan dilipatgandakanya pahala dan begitu juga dosa. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.