Hidup bertetangga dan berdampingan merupakan bagian dari proses hidup di dunia untuk mencapai derajat mulia di sisi Allah. Manusia tidaklah mudah mendapat derajat tinggi hanya dengan sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa berinteraksi dengan orang lain. Sebagaimana manusia bukanlah makhluk individu melainkan makhluk sosial yang tentu akan membutuhkan interaksi satu sama lain.

Banyak ayat Alquran dan hadis nabi yang mengatur bagaimana manusia harus berkehidupan sosial bersama atau biasa disebut dengan istilah muamalah. Dalam Surah Al Hujurat: 13 Allah berfirman,

يَآاَيُّها النّاسُ اِنّا خَلَقناكُمْ مَن ذكَرٍ وأُنْثى وجَعَلْناكُم شُعُوباً وقَبآئِلَ لِتَعارَفُوا إنّ أكْرَمَكمْ عِنْدَ اللهِ أتْقاكُمْ اِنّ اللهَ عليمٌ خَبيرٌ

Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Meneliti.

Dalam Tafsir Jalalayn, makna derajat yang mulia tersebut dicapai bukan karena nasab keluarganya melainkan kemuliaan yang dicapai dengan ketaqwaan.

Muamalah dengan orang lain tidak bisa sekedar interaksi sosial biasa, namun ada etika-etika yang harus tetap dijaga ketika bermuamalah. Dimana saat kita menjaga etika sesama manusia, maka perkara tersebutlah yang dapat bermuara menuju ridho Allah.

Berkaca pada fenomena sosial yang kerap terjadi di sekitar kita, bahkan hal tabu pun menjadi sesuatu yang sudah biasa dan wajar. Muslim yang bersedekah mungkin sudah banyak. Muslim yang rajin beribadah juga tidak sulit untuk ditemukan. Namun, adakah muslim yang rajin ibadahnya, gemar bersedekah namun tidak terjerumus dalam keburukan lisannya ?

Bertetangga misalnya, hidup berdampingan dalam waktu yang cukup lama tidak menjamin akan memiliki hubungan kekerabatan yang baik. Banyak orang sekarang yang memiliki masalah, sebagian besar datang dari masalah rumah tangga. Dan problem terbesar dari sebuah masalah adalah ‘perkara lisan’, karena lisan bagaikan boomerang bagi yang berucap.

Maka tak asing lagi jika mendengar, ‘Keselamatan seseorang terdapat pada lisannya’.

 Mengapa demikian? Dalam berhubungan antar manusia, seseorang yang tersinggung atas suatu perkataan buruk padanya membuatnya menjadi orang yang terdzolimi. Hati yang terluka dapat menuai pembalasan yang keji dan fenomena tersebut sudah sering terjadi di negri kita ini. Karena kebebasan memiliki hak mulut, maka dengan mudah seseorang bicara semau dirinya. Padahal dibalik tindak laku yang tidak terpuji tersebut dapat menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

Sebagaimana sebuah kisah singkat Rasululllah dalam Musnad Ahmad, dimana ketika itu seorang laki-laki berkata, ‘Ya Rasulullah! Ada seorang wanita yang terkenal dengan banyak solat, puasa, dan sedekah, hanya saja ia menyakiti tetangganya dengan lisannya’

Maka apa jawaban Rasulullah ? ‘Dia di neraka’.

Kemudian lelaki tersebut berkata lagi, ‘Ya Rasulullah! Ada seorang wanita yang terkenal sedikit puasa, sedekah dan shalatnya, ia hanya bersedekah dengan sepotong keju, tetapi tidak menyakiti tetangganya dengan lisan’, maka Rasul pun menjawab, ‘Dia di surga’.

Masyaa Allah, sebuah dialog singkat yang cukup jelas menunjukan bahwa Allah meridhoi surga-Nya bagi yang mampu menjaga lisannya. Karena beribadah pada Allah saja tidak cukup, menjalin hubungan dan berperilaku baik sesama makhluk juga menjadi anak tangga menuju ridho-Nya Allah.

Sebagaimana dawuh baginda nabi Muhammad Saw, berbuat baik lah walaupun sebesar biji dzarroh asalkan istiqomah. Wallahu a’lam bishowab.