Artikel Utama, Hadis, pemikiran

Pengulangan Hadis dalam Shahih al-Bukhari

Penulis: Wildan Najmi · 1 min read

majalahnabawi.com – Dari sekian banyak karya Imam al-Bukhari, yang paling terkenal adalah kitab Shahih al-Bukhari, bahkan ada yang mengatakan terkenalnya beliau karena kitab Shahihnya. Judul lengkap kitab tersebut adalah al-Jami` al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umuri Rasulillah wa Sunanihi wa Ayyamihi. Kitab tersebut disusun oleh Imam al-Bukhari dalam kurun waktu 16 tahun. Imam al-Bukhari mulai membuat kerangka penulisan hadis tersebut ketika beliau berada di Masjid al-Haram, Mekah, dan secara terus menerus beliau telah menulis kitab tersebut sampai kepada draft terakhir yang dikerjakan di masjid Nabawi Madinah.

Jumlah Hadis Shahih al-Bukhari

Menurut penelitian Syekh Mustafa Azami, ada sejumlah 9802 hadis yang dimuat Imam al-Bukhari ke dalam kitab shahihnya, dan apabila dihitung tanpa memasukkan hadis yang berulang, maka jumlahnya 2602 Hadis. Jumlah ini tidak termasuk di dalamnya hadis Mauquf (perkataan sahabat), dan hadis Maqthu’ (perkataan tabi`in). Sementara itu, menurut Imam Ibnu Shalah dan Imam al-Nawawi, kitab ini memuat 7275 hadis, dengan adanya pengulangan, dan bila tidak diulang maka jumlahnya 4000 hadis.

Dalam menyeleksi hadis yang akan dimuat didalam kitabnya, Imam al-Bukhari sangatlah teliti dalam penyeleksiannya, sehingga dari 600.000 hadis yang beliau dapatkan, hanya 4000 hadis saja yang dimuat. Diriwayatkan bahwa karena kehati-hatiannya, setiap kali beliau hendak menulis hadis, beliau selalu mandi dan shalat dua rakaat istikharah untuk meyakinkan bahwa hadis yang beliau riwayatkan benar-benar akan keontetikannya.

Menariknya, ketika saya mengaji hadis al-Bukhari ada beberapa riwayat yang diulang oleh Imam al-Bukhari dalam kitabnya, di dalam sub judul yang berbeda, dan guru yang berbeda. Seolah beliau ingin menunjukkan bahwa dalam satu hadis yang maknanya sama, beliau mengambil dari guru yang berbeda. Ini merupakan hal yang menarik, betapa Imam al-Bukhari sangat semangat dalam pencarian sebuah hadis, sampai beliau menelusuri ke berbagai penjuru daerah hanya untuk mencari sebuah hadis yang “sama” dalam segi maknanya.

Baca Juga:   IMAM AN-NASAI; Kritikus Perawi Hadis Abad III H

Sama Tapi Beda

Kita ambil contoh dalam Kitab al-Wudhu dari Shahih al-Bukhari ditemukan ada 6 hadis yang sama dengan mengambil dari jalur guru yang berbeda, dan ditemukan di dalam periwayat sahabat yang sama, yaitu sama-sama dari jalur Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab yang wafat pada tahun 63 Hijriah. Di antaranya pada:
1. Hadis nomor 185, Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abdullah bin Yusuf (218 H);
2. hadis nomor 186, beliau meriwayatkan dari Musa bin Ismail (223 H);
3. hadis nomor 191, beliau meriwayatkan dari Musaddad bin Musrihad (228 H);
4. hadis nomor 192, beliau meriwayatkan dari Sulaiman bin Harb (224 H);
5. hadis nomor 197, beliau meriwayatkan dari Ahmad bin Yunus (227 H); dan
6. hadis nomor 199, beliau mengambil dari Khalid bin Makhlad (213.H). Keseluruhannya bermuara dari Perawi sahabat yaitu Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab (63 H).

Itulah di antara keunikan dalam kitab Shahih al-Bukhari dengan metode periwayatannya yang dipakai dalam meriwayatkan hadis. Semoga kita sebagai pelajar hadis dapat meneladani Imam al-Bukhari dalam kesemangatannya mencari ilmu, dan tidak kenal lelah dalam menjalankannya.

Wildan Najmi
Mahasantri Darus-Sunnah, Koordinator Editor LPM Nabawi 2021-2022, Mahasiswa STAI Al-Karimiyah Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.