Amaliyah, Bedah Buku, Resensi Buku

PUASA HARI ‘ASYURA DI PERPUSTAKAAN LEIDEN; Catatan Singkat Kitab karya Imam al-Mundziri (581-656 H)

Majalahnabawi.com – Salinan naskah karya Imam al-Mundziri ini tersimpan di Perpustakaan Leiden Belanda. Didiktekan oleh sang empunya 8 abad yang lalu. Tepatnya di hari 10 Muharam 656 H, tahun terakhir tutup usia Imam al-Mundziri. Fokusnya, mengulas keutamaan bulan Muharam, terlebih hari kesepuluh (‘Asyura). Dalam penuturannya, Dr. Abdul Lathif selaku muhaqqiq naskah kitab berjudul “Fadl Shaum Yaum ‘Asyura” ini menyatakan bahwa salinan naskah juga tersimpan di Perpustakaan Preston University Amerika. Data ini menguatkan teks yang tersimpan di Perpustakaan Arif Hikmat Madinah. Tepatnya pada 2002, kitab ini dicetak oleh Dar al-Basyair Bairut Lebanon ke dalam 64 halaman.

Terkait hal ini, setidaknya ada tiga hal menarik dari kitab yang ditulis oleh ulama Mesir ini. Pertama, dari sisi relevansi. Kitab karya Imam al-Mundziri ini menjadi kelanjutan tradisi ulama sebelumnya. Yakni menulis karya yang fokus mengulas keutamaan bulan Muharam dan hari ‘Asyura. Jauh sebelumnya, Imam Ibnu Abi al-Dunya (281 H) menganggit kitab “Fadl ‘Asyura”, Imam Ibnu Syahin (385 H) menulis kitab “Fadhail Yaum ‘Asyura”, Imam Abu Dzar al-Harawi (434 H) mengarang kitab “Fadl ‘Asyura”, hingga Imam Ibnu Qudamah (620 H) menulis kitab Fadl Asyura”, dan masih banyak lagi. Hal ini menunjukan bahwa menulis adalah bagian integral dalam memuliakan bulan Muharam.

Sistematika Penulisan

Kedua, dari sisi sistematika penulisan. Kitab ini mencantumkan riwayat hadis yang membentang dari abad I sampai VII H. Jarak dimana hadis disabdakan oleh Baginda Nabi (shalawat dan salam semoga tercurah) hingga tahun hidup Imam al-Mundziri. Hal ini menunjukan bahwa periwayatan tidak terhenti di masa keemasan kodifikasi hadis di abad III-IV H. Di mana kitab induk hadis, semisal al-kutub al-sittah berhasil dibukukan. Karenanya, bagi pengkaji hadis, kitab karya Imam al-Mundziri ini sangat menarik. Terlebih untuk melihat dinamika periwayatan hadis hingga abad 7 H. Yakni dengan mengamati tata cara periwatan hingga terminologi yang digunakan.

Baca Juga:   Merawat Toleransi untuk Indonesia

Ketiga, dari sisi kajian takhrij hadis dan kajian sanad hadis (dirasah asanid). Kitab Imam al-Mundziri ini memberikan contoh nyata bagaimana kajian takhrij hadis dan kajian sanad dilakukan oleh ulama abad 7 H. Meskipun Imam al-Mundziri memiliki sanad tersendiri, namun juga tetap menjelaskan sumber riwayat lain. Khususnya di kitab-kitab primer hadis sebelumnya. Semisal hadis kedua yang menjelaskan puasa hari ‘Asyura. Hadis ini, dengan jalur riwayat lain juga telah termaktub dalam kitab Musnad Ahmad, Musnad Abi Syaibah, dan Sunan al-Nasa’i. Yang menarik, Imam al-Mundziri lantas menjelaskan satu persatu perawi hadis dari jalur riwayat yang beliau miliki. Mulai dari biografi, jalur geografis sanad, hingga analisis ketersambungan sanad.

Lantas tertarikah anda?

Muhammad Hanifuddin, Lc, S.S.I
Dosen di Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.