Al-Quran, Hadis

Rabbani

Penulis: Nurul Mashuda · 2 min read
Rabbani

majalahnabawi.com – Terkait rabbani, Allah berfirman bahwa para Nabi akan berkata –dan memang seharusnya berkata– kepada umatnya,

كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ ۙ ٧٩ (اٰل عمران/3: 79)

“Jadilah kalian para rabbani dengan cara menyebarkan ilmu tentang kitab suci dan dengan cara mengkaji dan mendalaminya.” (Ali ‘Imran/3:79)

Allah berfirman terkait kitab suci Taurat dan kewajiban penegakan hukum berdasarkan padanya,

اِنَّآ اَنْزَلْنَا التَّوْرٰىةَ فِيْهَا هُدًى وَّنُوْرٌۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّوْنَ الَّذِيْنَ اَسْلَمُوْا لِلَّذِيْنَ هَادُوْا وَالرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوْا مِنْ كِتٰبِ اللّٰهِ وَكَانُوْا عَلَيْهِ شُهَدَاۤءَۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوْا بِاٰيٰتِيْ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗوَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ ٤٤ (الماۤئدة/5: 44)

Sungguh, Kami-lah yang telah menurunkan Taurat. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Berdasarkan Taurat itulah, para nabi, yang telah menyerahkan diri kepada Allah, menegakkan hukum untuk kebaikan orang-orang yang menganut iman Yahudi; demikian juga yang dilakukan para rabbani [terdahulu] dan para rabi, sebab sebagian dari kitab Allah telah dipercayakan pemeliharaannya kepada mereka, dan mereka [semua] menjadi saksi atas kebenarannya [kitab itu].

Karena itu, [wahai Bani Israil,] janganlah merasa gentar pada manusia, tetapi merasa gentarlah pada-Ku; dan jangan menukar ayat-ayat-Ku dengan keuntungan yang sepele; sebab, siapa pun yang tidak memutuskan menurut apa yang Allah turunkan, sungguh, merupakan para pengingkar kebenaran. (Al-Ma’idah/5:44)

Mengecam masyarakat yang berlomba-lomba berbuat dosa dan “menelan” segala yang buruk, Allah berfirman,

لَوْلَا يَنْهٰىهُمُ الرَّبّٰنِيُّوْنَ وَالْاَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْاِثْمَ وَاَكْلِهِمُ السُّحْتَۗ لَبِئْسَ مَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ ٦٣ (الماۤئدة/5: 63)

Mengapa para rabbani di antara mereka dan para rabi mereka tidak melarang mereka mengucapkan pernyataan-pernyataan penuh dosa dan menelan segala sesuatu yang buruk? Sungguh buruk apa yang telah mereka usahakan. (Al-Ma’idah/5:63)

Siapa Dia Rabbani?

Siapa dia rabbani? Berdasarkan tiga ayat di atas –dan hanya tiga ayat di atas yang memuat kata rabbani secara tersurat, rabbani adalah ia:

1. كان يعلِّم الكتاب ia yang menyebarkan ilmu tentang kitab suci;

2. كان يدرس الكتاب ia yang mengkaji dan mendalami kitab suci;

3. يحكم بالكتاب للناس ia yang memutuskan perkara umat berdasarkan kitab suci;

4. استحفظ من كتاب الله ia yang dipercayakan kepadanya pemeliharaan kitab suci;

5. كان على الكتاب شهيدا ia yang menjadi saksi atas kebenaran kitab suci;

6. لا يخشى الناس ia yang tidak merasa gentar pada manusia;

7. يخشى الله ia yang merasa gentar pada Allah;

8. لا يشتري بآيات الله ثمنا قليلا ia yang tidak menukar ayat-ayat Allah dengan keuntungan sepele;

9. ينهى الناس عن قولهم الإثم وأكلهم السحت ia yang melarang masyarakat mengucapkan pernyataan-pernyataan penuh dosa dan menelan segala sesuatu yang buruk (baik berupa materi ataupun pemikiran).

Etimologi Rabbani

Dalam kajian kata, akan ditanya, apa asal kata rabbani? Setidaknya terdapat tiga kemungkinan pendapat.

(1) Pertama, rabbani adalah kata asli yang berasal dari bahasa Suryani atau Ibrani (bahasa asli kitab suci injil dan taurat) bermakna: ia yang mempunyai pengetahuan tentang halal-haram dan perintah-larangan. Makna ini diriwayatkan oleh Abu Ubaid (ahli bahasa Arab, 154-224 H) dari seseorang yang punya pengetahuan tentang kitab-kitab terdahulu.

(2) Kedua, rabbani nisbah kepada rabb (Tuhan Pemelihara), bermakna: ia yang mencurahkan dirinya semata-mata pada upaya mengenal Tuhan Pemelihara dan manaati-Nya. Makna ini adalah riwayat Sibawaih (ahli bahasa paling terkemuka, 148-180 H).

(3) Ketiga, rabbani nisbah kepada rabb yang berarti tarbyiah (pendidikan), bermakna, ia yang mendidik-membimbing masyarakat dengan ilmu, sejak tingkat dasar hingga tingkat tinggi. Makna ini diriwayatkan oleh Ibn al-A’rabi (ahli bahasa Arab, 150-231 H) dan juga oleh Imam al-Bukhari (ahli hadis paling terkemuka, 194-256 H).

Melihat sifat-sifat yang terdapat secara tersurat dalam tiga ayat di atas, memang semua tiga makna ini tercakup dalam kata rabbani. Mujahid (ahli tafsir dari kalangan tabiin, 21-101 H. murid Ibn Abbas radiyallahu ‘anhuma) mengatakan, “Rabbani kedudukannya lebih tinggi di atas rabi (habr) karena rabi hanyalah dia yang berilmu, sementara rabbani adalah dia yang menghimpun ilmu dan pemahaman-analisis untuk pertimbangan politik dan manajemen, pengaturan urusan rakyat, dan untuk apapun yang baik dan membawa kebaikan kepada masyarakat dalam urusan agama dan dunia.

Makna Rabbani

Ringkasnya, rabbani adalah ia yang berilmu: pengkaji dan peneliti. Tidak hanya berilmu, tapi ia juga mengajarkan ilmu dan menyebarkannya. Tidak hanya itu, ia juga pengamal ilmu dan pembimbing umat: pemimpin dan pemerintah berdasar ilmu. Saleh spiritual sekaligus saleh sosial. Secara singkat, Gus Baha (KH. A. Bahauddin Noersalim al-Hafidz, ahli tafsir asal Rembang Jawa tengah l. 1970 M) dan Pak Zaini (Prof. Dr. H. Zaini Dahlan, MA., mantan rektor IAIN Sunan Kalijaga dan UII Yogyakarta, l. 1926) menerjemahkan rabbani sebagai hamba Allah yang ikhlas. Ikhlas memperlajari ilmu, ikhlas mengajarkan ilmu, dan ikhlas mengamalkan ilmu. Ini juga cita-citakan Pak Yai (Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., ahli hadis terkemuka di Indonesia, 1952-2016 M) untuk putra-putri ideologisnya (para santri-mahasantrinya).

Pesan-Pesan Pak Yai

نحن طلاب العلم إلى يوم القيامة kita adalah pencari-pengkaji ilmu selamanya. إذا كان لك أرض فابن معهدا وإلا فاشتر أرضا لتبني فيها معهدا jika kamu punya tanah, maka bangunlah pesantren; jika belum punya, maka belilah tanah dan bangun pesantren di sana. Semangat mengajarkan-menyebarkan ilmu. لا بد من القوة في الاعتقاد والوضوح في الموقف واللين في الأداء santri-mahasantri harus punya prinsip yang kokoh, sikap yang jelas-tegas, dan penampilan-penyampaian yang luwes.

Muhammad bin al-Hanafiah (16-81 H, putra sayidina Ali radiyallahu ‘anhu, 23 SH-40 H), ketika mendengar kabar wafatnya Ibn Abbas radiyallahu ‘anhuma, mengatakan, “Telah wafat rabbani umat ini.” Ibn Abbas (3 SH-68 H, sahabat Nabi, ahli fikih) adalah ia yang didoakan oleh Nabi (53 SH-10 H) sallallahu ‘alaihi wasallam, اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل ya Allah, anugrakan kepadanya pemahaman mendalam tentang agama dalam ketaatan dan karuniakan kepadanya pengetahuan takwil: pemahaman-pengamalan. Pak Yai Ali Mustafa senantiasa berdoa dan mendoakan putra-putrinya setiap bakda salat lima waktu اللهم فقهنا في الدين وعلمنا التأويل، اللهم فقه من يدرس في هذا المعهد في الدين وعلمهم التأويل ya Allah pahamkan kami dalam agama dan ajari kami takwil. Ya Allah pahamkan siapapun yang belajar di pesantren ini (Darus-Sunnah) dalam agama dan ajari kami takwil.

آمين

Nurul Mashuda
Mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.