Connect with us
Klik di sini

Reaktualisasi Akhlak Nabi terhadap Lingkungan Hidup

Artikel Utama

Reaktualisasi Akhlak Nabi terhadap Lingkungan Hidup

Allah telah menciptakan alam semesta termasuk bumi dan seisinya sebelum manusia diciptakan. Setelah kelahiran manusia, muncul jenis-jenis baru tumbuhan dan hewan yang disediakan untuk lingkungan hidup mereka. seperti yang diungkapkan oleh kumparan.com, “bahwa di tahun 2017 saja sudah hampir 10 spesies hewan baru ditemukan”. Allah menciptakan itu semua bertujuan agar kehidupan manusia sejahtera. Maka dari itu, lingkungan perlu diolah dan dimanfaatkan manusia dengan landasan akhlak yang baik. Mengapa? Karena akhlak yang baik merupakan akhlak yang di dalamnya tercakup relasi manusia dengan tuhan, relasi sesama manusia, dan tak lupa relasi manusia dengan lingkungan hidup. Manusia dengan lingkungan sesungguhnya memiliki relasi yang sangat erat. Bagaimana tidak, manusia sangat bergantung kepada alam, kerusakan alam adalah ancaman bagi eksistensi manusia. berbeda dengan manusia, alam tidak memiliki ketergantungan langsung dengan manusia meskipun rusak tidaknya alam banyak dipengaruhi oleh aktivitas manusia.

Banyak sekali aktivitas manusia yang secara sengaja maupun tidak, secara langsung ataupun tidak yang merusak alam. Aktivitas produksi dan perilaku konsumtif manusia melahirkan sikap dan perilaku eksploitatif, yang mana manusia akhirnya menghalalkan segala cara untuk diekspoitasi, entah itu eksploitasi sumber daya alam maupun sumber daya manusia,  seperti yang diungkap oleh detik.com, “KPK telah menyelidiki 5 kasus korupsi kakap eksploitasi SDA yang semuanya dilakukan dengan berbagai alasan yang bersifat personal”.  di samping itu, paham materialisme dan pragmatisme dengan teknologi terkini ikut mempercepat kerusakan lingkungan. Paham marxisisme yang mengakibatkan manusia ingin segalanya dengan instan tanpa mempedulikan sekitarnya juga ikut memperburuk lingkungan hidup.

Islam sendiri mempunyai konsep yang jelas tentang pentingnya konservasi, penyelamatan, penghijauan, dan pelestarian lingkungan. Islam menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan dan petunjuk yang sempurna dalam penerapan akhlak, etika dan moral yang baik terhadap siapapun, khususnya terhadap lingkungan hidup. Mengapa? Karena memang tujuan diutusnya nabi ke bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak, baik akhlak terhadap sesama maupun akhlak terhadap lingkungan hidup. dalam satu riwayat dijelaskan: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari). Dalam hadits dari Anas menyatakan: “Nabi Muhammad adalah manusia dengan akhlak terbaik”. Sementara Aisyah menyebutkan bahwa akhlak Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an. Oleh karena itu, Islam melalui Nabi Muhammad mengatur segala interaksi penganutnya dengan asas akhlak dan kasih sayang. Nabi Muhammad menghidupkan kasih sayang dan akhlak sebagai rukun kehidupan serta membumikannya sebagai tujuan beragama. Hal itu juga termasuk interaksi antara manusia dengan lingkungannya, dimana Nabi Muhammad selalu mencontohkan kepada umatnya untuk menghargai, mencintai, dan selalu merawat alam.

Nabi Muhammad juga memberikan pengertian bahwa manusia tidak boleh kikir untuk membiayai lingkungan secara wajar untuk menjaga kebersihan agar kesehatan diri dan keluarga/ masyarakat terpelihara, seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda: “Jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip kebersihan. dan tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih” (HR. Thabrani).

Nabi Muhammad juga mengajarkan kita untuk mengusahakan penghijauan di sekitar tempat tinggal dengan menanam pepohonan yang bermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kesehatan, disamping juga dapat memelihara peredaran udara yang kita hirup agar selalu bersih, bebas dari pencemaran. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Tiga hal yang menjernihkan pandangan yaitu, menyaksikan pandangan pada yang hijau lagi asri, pada air yang mengalir, serta pada wajah yang rupawan.” (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Anas dijelaskan bahwa: “Rasulullah ketika berwudlu dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran air sebanyak) satu shā’ sampai 5 mud.” (HR. Muttafaq alaih). Satu mud sama dengan 1sepertiga liter menurut orang Hijaz dan 2 liter menurut orang Irak. Padahal hasil penelitian yang dilakukan oleh Syahputra (2003) membuktikan bahwa rata-rata orang berwudlu menghabiskan sebanyak 5 liter. Hal ini membuktikan bahwa manusia sekarang cenderung mengeksploitasi sumber daya air secara berlebihan, atau kata lain, setiap manusia menghambur-hamburkan air sebanyak 3 sampai 3 duapertiga liter setiap orangnya setiap kali berwudlu.

Masih sangat banyak akhlak nabi yang bisa kita aktualisasikan untuk menjaga, merawat, dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Semua akhlak baik berupa anjuran atau pencegahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah manusia agar tidak mencelakakan orang lain, sehingga terhindar dari musibah yang akan menimpanya. Islam melalui Al-Qur’an dan Al-Hadits memberikan panduan yang sangat jelas bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusia merupakan daya dukung bagi keberlangsungan kehidupan manusia, sebab fakta lapangan menunjukkan bahwa terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor, serta bencana alam lainnya lebih banyak didominasi oleh aktivitas manusia. Karena Allah telah memberikan fasilitas daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia, tinggal manusia itu sendiri yang mau menjaganya atau tidak.

Maka dari itu, faktor ketergantungan manusia terhadap alam mestinya menyadarkan manusia untuk senantiasa menjaga dan merawatnya, caranya sekali lagi adalah dengan menerapkan dan mengaktualisasikan akhlak nabi terhadap kehidupan sehari-hari. Akhlaq nabi akan mengantarkan kita mencapai puncak kesalehan. Kesalehan bukan hanya diterjemahkan sebagai bentuk ketaatan terhadap hukum agama yang terjewantahkan dalam ritual keagamaan seperti shalat, puasa, zakat, atau naik haji. Pandangan ini perlu diperluas, sebab kesalehan tidak semata-mata sekadar menjalankan ibadah atau ritual keagamaan saja. Kesalehan yang terbatas pada aktivitas keagamaan saja akan menjadi sempit karena menafikan relasi manusia dengan lingkungan sebagai tempat berpijak yang hakikatnya sebagai tempat kita beribadah. Kesalehan lingkungan sendiri bergantung pada bagaimana manusia dapat mengendalikan hawa nafsu untuk tidak semena-mena terhadap lingkungan. Bentuk kesemena-menaan terhadap lingkungan dapat berupa eksplorasi sumber daya alam yang tidak bertanggung jawab, illegal logging, aktivitas yang berakibat pencemaran, dan lain-lain.

Pada akhirnya, tujuan pokok akhlak adalah agar setiap muslim berbudi pekerti, bertingkah laku, berperangai atau beradat-istiadat yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Kalau diperhatikan, ibadah-ibadah inti dalam Islam memiliki tujuan pembinaan akhlak mulia. Shalat bertujuan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela; zakat di samping bertujuan untuk menyucikan harta juga bertujuan menyucikan diri dengan memupuk kepribadian mulia dengan membantu sesama; puasa bertujuan mendidik diri untuk menahan diri dari berbagai syahwat; haji bertujuan diantaranya untuk memunculkan tenggang rasa dan kebersamaan dengan sesama. Sama halnya dengan mencintai lingkungan, yang akan menghasilkan output pribadi-pribadi yang lebih peduli terhadap sesama, kalau lingkungan yang diam saja kita hargai, otomatis kita akan menghargai kepada sesama. Akhirnya, mari kita mengaktualisasikan kembali akhlak dan kepribadian Nabi Muhammad dalam kehidupan kita khususnya tentang bagaimana seharusnya menjaga, mencintai dan merawat lingkungan yang dititipkan Allah kepada kita ini.  Wallahu a’lam

Related Post

Continue Reading
Klik di sini
Muhammad Fawwaz Hilmy

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Artikel Utama

To Top