Adab, Artikel Utama

Refleksi Sabar di Tengah Pandemi

Avatar Written by Abid al-Akbar · 2 min read

MajalahNabawi.com– “Barang siapa yang bersabar, niscaya Allah akan memperteguhkan hatinya. Dan tiada seorang pun yang diberi karunia lebih baik dan lebih melapangkan dada daripada kesabaran.” (HR. Muslim No. 1745)

Sudah hampir satu tahun masyarakat Indonesia mengisolasikan diri di rumah masing-masing sejak kemunculan virus corona di Indonesia. Begitu dahsyatnya dampak virus ini terhadap kehidupan masyarakat, kegiatan yang dilalui dengan di rumah saja mungkin mempengaruhi kaum muslimin dalam beribadah. Walaupun kita tahu, adanya virus atas kehendak Allah swt. namun sebagai umat muslim, hendaknya terus berikhtiar dan berdoa dalam menghadapi pandemi virus ini.

Salah satu amunisi yang harus dipegang teguh oleh umat muslim adalah sabar. Sabar memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menjaga kestabilan jiwa manusia. Sabar menurut bahasa adalah “teguh hati tanpa mengeluh pada bencana”. Menurut Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin, sabar terdiri atas tiga unsur, yaitu : Makrifat (pengetahuan), Hal (keadaan), dan Amal (perbuatan).

Unsur Pertama : Makrifat

Makrifat adalah pokok dan sumber dari suatu kesabaran. Maka tanpa adanya pengetahuan tentang apa itu sabar dan bagaimana cara bersabar, sulit untuk melakukan perbuatan tersebut. Ketahuilah, sifat sabar hanya Allah anugerahkan kepada makhluk-Nya yang berupa manusia, tidak kepada makhluk lain, seperti hewan dan malaikat.

Sebabnya ialah karena manusia itu mempunyai hawa nafsu dan di samping itu juga manusia mempunyai akal untuk mengatur hawa nafsunya agar tidak membawanya kepada kenistaan dan kerugian. Maka dalam menghadapai pertarungan antara hawa nafsu dengan akal perlu sifat kesabaran. Umumnya, pertarungan antara hawa nafsu dan akal tersebut terjadi di mana adanya sesuatu yang tidak sejalan dengan hawa nafsunya. Contohnya pandemi virus ini yang tak kunjung berhenti. Maka dengan memananamkan makrifat akan sifat sabar terhadap pandemi ini, maka kita akan lebih lapang dada dalam menghadapinya.

Baca Juga:   Kontribusi Ummahatul Mu’minin dalam Periwayatan Hadis (2) Ummu Salamah ra

Unsur Kedua : Hal (Keadaan)

Setelah memahami dan menanamkan terkait makrifat dalam bersabar, maka kita akan naik ke jenjang selanjutnya, yaitu hal (kedaaan). Maksud keadaan di sini adalah bagaimana cara kita menyikapi hawa nafsu yang ada pada diri kita. Hawa nafsu akan selalu terlampiaskan dalam bentuk kesyahwatan yang sesuai oleh apa yang dikehendaki dirinya. Maka dari itu, barang siapa yang dapat mematahkan ini dan tetap untuk tidak berbuat yang akan membawa kepada kerugian maka ia telah memahami keadaan untuk bersabar.

Kembali ke masalah pandemi ini, walaupun pada faktanya memang kita sudah mulai merasa jenuh karena isolasi di rumah selama hampir satu tahun akan tetapi jika kita memahami keadaan bahwasanya jika kita berpergian, mudik ataupun keluar rumah  untuk sesuatu yang tidak perlu akan membawa kerugian bagi diri sendiri maupun orang lain. Maka keadaan diri kita akan membantah hawa nafsu kita agar menghilangkan rasa jenuh itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda : “ Janganlah kalian membahayakan diri kalian sendiri dan membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah No. 2332)

Unsur Ketiga : Amal

Setelah unsur makrifat dan hal sudah tertanam dalam diri kita, maka perbuatan sabar adalah puncaknya. Dalam amal (perbuatan) ini, akan mengandung unsur perjuangan, pergulatan dalam menghadapi hawa nafsu. Terlebih sabar yang sedang kita alami yaitu sabar dalam menghadapi musibah.

Maka sabar dalam hal ini ialah teguh hati ketika mendapat cobaan, baik yang berbentuk kemiskinan maupun berbentuk kematian. Jika musibah ini (baca : pandemi corona) tidak dihadapi dengan kesabaran, maka akan terasa tekanan terhadap jasmaniah maupun rohaniah seperti badan semakin lemah dan hati semakin sempit. Oleh karena itu, timbulah rasa kegelisahan kecemasan bahkan bisa sampai putus asa.

Baca Juga:   Kesabaran Berbuah Keberkahan

Maka sebagaimana layaknya kita umat muslim, mari merenungkan ujian ini. Bisa jadi musibah yang sedang menimpa kita semua sebagai hasil dari kedurhakaan manusia yang telah melanggar hukum-hukum Allah.  Atau bisa jadi sudah menjadi takdir Allah sendiri untuk menguji hamba-Nya agar kelak Allah ganti dengan rahmat dan keridhaan-Nya di akhirat. Meskipun semua ini diluar kendali manusia, kewajiban kita adalah terus bersabar agar tidak keluar rumah untuk hal yang tidak penting, ataupun sabar agar tidak terus menggurutu terhadap musibah ini. Akan tetapi, menjadikan ajang musibah ini sebagai tangga kita untuk naik menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah subhaanahu wa ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.