Oleh: M. Syarofuddin Firdaus*

Al-Asyhurul hurum berarti “bulan-bulan yang dimuliakan” Allah Swt. Pada bulan-bulan itu terdapat beberapa peristiwa penting semasa Nabi Muhammad Saw menyampaikan risalah kenabiannya. Karena momen itulah kemudian Allah Swt mengabadikan bulan suci itu di dalam al-Qur’an dengan sebutan arba’atun hurum, sebagaimana di dalam surat at-Taubah ayat 36.

Bulan-bulan tersebut adalah Muharram, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, dan Rajab. Masing-masing bulan itu memiliki keistimewaan dan kelebihan masing-masing. Namun secara umum, pada keempat bulan ini Allah Swt melarang Nabi dan umatnya untuk memerangi orang kafir. Tujuannya agar bulan ini umat Islam menyibukkan dirinya dengan ibadah sunnah, seperti memperbanyak salat dan puasa., karena pahala pada bulan-bulan ini akan berbeda nilainya dengan bulan-bulan lainnya.

Dari keempat bulan di atas, kita akan fokus pada satu bulan saja, yaitu bulan Rajab. Pada bulan ini ada satu peristiwa besar yang tidak akan dilupakan oleh umat Islam. Sebagaimana terekam dalam sejarah Islam, pada bulan Rajab Nabi Muhammad Saw melakukan suatu hal yang secara akal tidak logis. Adalah peristiwa Isra’ Mi’raj yang terjadi, yaitu peristiwa di mana Nabi Muhammad Saw mendapatkan perintah ibadah salat.

Penyebutan peristiwa besar ini sejatinya bukan terletak pada perintah kewajiban melaksanakan salat. Akan tetapi kepada peristiwa Isra’ Mi’rajnya. Nabi melaksanakan Isra’ Mi’raj hanya membutuhkan waktu semalam. Padahal, lumrahnya perjalanan yang dilakukan Nabi ini membutuhkan waktu yang sangat lama.

Tentu cenderung mustahil Nabi Muhammad Saw mampu melaksanakan perjalanan semacam itu. Waktu itu, kendaraan yang lumrah dipakai adalah hewan unta. Maka secara logika, tidak mungkin Nabi mampu melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsho (isra’), kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (mi’raj) dalam waktu satu malam. Oleh karenanya, banyak para sahabat yang ragu ketika Nabi menyampaikan kejadian tersebut –sekalipun ia seorang muslim. Hanya seorang sahabat yang langsung mempercayai cerita yang dikisahkan Nabi, yaitu Abu Bakar. Demikianlah kemudian dia mendapatkan gelar ‘ash-Shiddiq’.

Peristiwa itu kemudian diabadikan oleh Allah Swt di dalam kitab-Nya pada surat al-Isra’ ayat 1, sebagai bukti kejujuran Nabi Muhammad Saw dan bentuk kekuasaan Allah Swt jika kadung berkehendak. Para sejarawan muslim pun merekamnya di dalam literatur sejarah, atau dikenal dengan tarikh tasyri’. Di mana setelah peristiwa tersebut kemudian diperintahkan ibadah salat lima waktu bagi seluruh umat Islam.

Jangan Terjebak dengan Rutinitas
Sebagai bentuk syukur dan rasa kesadaran kita sebagai manusia terhadap peristiwa-peristiwa yang berada di luar akal, umat Islam kebanyakan mengadakan acara untuk memperingati peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut. Acara ini dilakukan agar umat Islam mengenal peristiwa tersebut, dan menyadari bahwa ada kekuatan ghaib yang tidak bisa dinalar namun memang terjadi dan dialami oleh manusia sendiri. Kekuatan itu sekaligus menguji kepercayaan umat manusia, khususnya terhadap umat Islam sendiri: percaya atau tidak akan adanya sebuah kekuatan ghaib.

Melihat fenomena yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan sebuah peristiwa yang patut dikenang. Sehingga banyak umat Islam di dunia yang mengadakan acara untuk memperingati peristiwa tersebut. Indonesia pun sebagai negara dengan muslim sebagai mayoritas ikut meramaikan acara peringatan Isra’ Mi’raj itu. Hal ini terbukti ketika memasuki bulan Rajab banyak pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan masjid yang mengadakan berbagai kegiatan.
Coba perhatikan ketika bulan Rajab tiba, banyak masjid yang ramai-ramai mengadakan acara peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Apalagi pesantren, sebagai tempat khusus yang mengkaji khazanah keislaman, termasuk sejarah Islam itu sendiri, pasti mengadakan acara itu. Dan biasanya, penceramahnya bukan dari pimpinan pesantren tersebut, namun mengundang kiai atau habib dari pesantren lain.

Ada hal menarik yang perlu kita cermati, meskipun acara peringatan Isra’ Mi’raj itu dilakukan di pelbagai tempat, bahkan hampir antar desa mengadakannya, uniknya nama acara itu tidak berbeda antara satu masjid dengan yang lain. Secara umum, acara itu kerap dinamai dengan “Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad Saw.”

Demikian konten acaranya, acara yang diadakan masjid-masjid dan pesantren tidak jauh berbeda. Para penceramah sama mengisahkan peristiwa ajaib; Isra’ Mi’raj. Pun para hadirin sangat antusias menyimak apa yang disampaikan oleh penceramah. Padahal, jika diteliti dengan seksama, materi yang disampaikan oleh para penceramah itu-itu saja, tidak jauh berbeda antara satu penceramah dengan lainnya. Mungkin beberapa tambahan yang menjadi bahan canda tawa sehingga bikin ngakak para hadirin yang hadir. Oleh karena itu, maklum kiranya apabila bapak-bapak dan/atau ibu-ibu tidak pernah jemu menghadiri acara peringatan Isra’ Mi’raj tersebut. Meskipun diulang-diulang untuk sekian kalinya, mereka selalu antusias mengikuti acara itu.

Di satu sisi, fenomena di atas merupakan suatu kebanggaan bagi kita sebagai umat Islam. Karena, bukti kecintaan kita terhadap Nabi kita, Baginda Muhammad Saw. Peringatan itu dikemas dalam bentuk acara seperti halnya di atas. Tentu tujuan utamanya adalah untuk mengambil pelajaran (‘ibrah) dan hikmah di balik peristiwa itu. Di balik kosmologi dunia yang sarat dengan materi terdapat suatu kekuatan yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra, namun bisa dirasakan oleh raga. Ada semacam suatu Dzat yang hidup yang mampu mengatur gerak-gerik para makhluk di muka bumi: Dzat yang Maha besar dan lebih berkuasa dari apapun di alam.

Bahkan lebih dari itu, Dzat tersebut lah yang mengonsep hal-hal yang sedang dan akan terjadi di atas pentas bumi ini. Maka tidak heran jika sering terjadi hal-hal aneh yang berada di luar jangkauan nalar manusia. Maklum kiranya jika ditemui suatu peristiwa yang di luar dugaan, bahkan cenderung tidak masuk akal. Contoh riilnya adalah peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Sehingga bukan hanya non-muslim yang tidak mempercayai kejadian tersebut, para sahabat pun pada awalnya masih ragu untuk membenarkan cerita yang disampaikan Nabi Muhammad Saw itu. Karena peristiwa itu memang sangat tidak logis sehingga sulit untuk dibenarkan secara akal.

Di sisi lain, kita rupanya sering lupa akan esensi kegiatan rutinitas yang dilakukan. Ketika suatu kegiatan dilaksanakan dengan intens dan rutin, di situlah makna dan tujuan utama diadakan kegiatan terkadang tidak terlalu diperhitungkan. Pikir kita, asal kegiatan itu berjalan dan terus berkelanjutan, serta dimodif sedikit agar tidak sama dengan sebelum-sebelumnya, maka itu sudah cukup. Sekedar menjaga kontinuitas yang diwarisi oleh para leluhur agar tidak berhenti di masa kita sebagai penanggung jawab akan kegiatan tersebut.

Demikian pula kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj yang diadakan di masjid-masjid atau pesantren secara umum. Kegiatan itu menjadi acara tahunan yang diselenggarakan tiap generasinya. Dilestarikan secara silih berganti seiring pergantian masa. Akhirnya pun menjadi rutinitas setiap tahun yang apabila tidak diadakan akan menjadi perbincangan masyarakat. Ringkasnya, keberpindahan orientasi dari tujuan awal kegiatan semacam peringatan Isra’ Mi’raj, telah beralih pada hal-hal yang sangat remeh, yaitu sekadar melanjutkan rutinitas belaka, merupakan fakta yang telah mewabah pada saat ini.

Mengadakan acara peringatan Isra’ Mi’raj tidak lagi menjadi ajang intropeksi diri bahwa dengan adanya peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi bukti akan kemahahebatan Allah Swt. Tidak lagi dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Bukan momen untuk dijadikan pelajaran bahwa hanya Nabi Muhammad Saw yang mampu bercakap-cakap dan berani bernegoisasi dengan Allah Swt.

Peringatan Isra’ Mi’raj pun hanya dijadikan sebagai acara rutin tahunan saja. Diadakan untuk mengingat peristiwa Isra’ Mi’raj yang diulang-ulag tiap acara itu dilaksanakan. Sedangkan esensi dan substansi diadakannya acara tersebut mulai kabur. Berhati-hatilah! Wallahu a’lam

*Penulis adalah mahasantri Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences dan mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum UIN Jakarta asal Madura