Biografi Singkat Ummu Hani

Nama legkapnya ialah Fakhitah binti Abi Thalib bin Abdul Muthalib, ibu nya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim, merupakan seorang yang mempunyai jiwa sastra yang sangat tinggi. Ummu Hani juga tak lain merupakan sepupunya Rasulullah SAW., anak dari pamannya Rasulullah SAW. yang amat mencintai dan dicinta oleh Rasulullah SAW., Abu Thalib bin Abdul Muthalib.

Sebagai seorang perempuan, Ummu Hani mempunyai hati yang sangat lembut dan mempunyai perhatian besar terhadap anak-anak, selain kelembutan hatinya terhadap anak-anaknya, ia juga merupakan sosok perempuan yang sangat tangguh, dan berani.

Diceritakan dalam sebuah riwayat, Ummu Hani berkata “Pada suatu hari ketika Rasulullah SAW, turun dari suatu daerah dataran tinggi Mekah, tiba-tiba ada dua laki-laki yang masih kerabatku dari Bani Makhzum berlari ke arah rumahku, kemudian Ali datang dan hendak masuk ke rumahku, ia berkata “Demi Allah! Sungguh aku akan membunuh keduanya”, mendengar hal itu, aku langsung menutup pintu rumahku, demi melindungi kedua kerabatku itu. Kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW. melihat kedatanganku, Rasulullah SAW, berkata “selamat datang wahai Ummu Hani, ada apa gerangan? akupun menceritakan kejadian tersebut. Beliau berkata “sungguh, kami melindungi siapa saja yang engku lindungi, dan memberikan keamanan kepada siapa saja yang engkau beri rasa aman, maka jangan bunuh dua laki-laki itu”.

Rasulullah Melamar Ummu Hani

Rasulullah SAW. pernah melamar Ummu Hani sebelum beliau diangkat menjadi Nabi. Sebagai seorang gadis, ia pun menyerahkan semua keputusan kepada ayahnya, akan tetapi ayahnya, Abu Thalib menolak lamaran Rasulullah SAW ini. Ayahnya menolak lamaran Rasulullah SAW, dengan alasan Ummu Hani sudah terlebih dahulu dilamar oleh laki-laki yang bernama Hubairoh bin Abi Wahab.

Baja Juga  Hukum Seorang Tuan Membunuh Budaknya

Ketika dakwah Islam telah muncul, Ummu Hani pun masuk islam, namun tidak dengan suaminya. Ia memilih untuk tetap berada dalam kekafirannya. Atas dasar cinta Ummu Hani yang sangat tinggi kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW, ia lebih memilih melepaskan suaminya. Cinta merekapun harus kandas diatas syariat Islam, hal ini menyebabkan cinta keduanya harus kandas ditengah perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga.

Setelah masuk Islam, walaupun dalam keadaan janda dengan anak-anak yang harus ia rawat, Ummu Hani tetap memilih hidup seorang diri, dengan mengurus keempat buah hatinya.

Rasulullah Melamar Ummu Hani Lagi

Melihat kesendiriannya, dan atas dasar cintanya yang masih bersemayam dalam diri Rasulullah SAW, beliau mempunyai azam untuk melamar perempuan yang dicintainya ini untuk kedua kalinya, namun untuk kedua kalinya cinta Rasulullah SAW pun ditolak oleh Ummu Hani.

Ummu Hani berkata: “wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari pendengaranku dan penglihatanku, dan hak suami atas istrinya sangatlah besar, dan aku takut, aku ini seorang ibu.  Jika aku menerima lamaranmu, aku (harus) menunaikan kewajibanku terhadap suami, aku takut lalai terhadap kewajibanku sebagai seorang ibu. Dan jika aku berusaha menunaikan kewajibanku sebagai seorang ibu terhadap anak-anakku, aku takut akan lalai terhadap kewajibanku sebagai seorang istri”.

Dengan mendengar jawaban yang sangat agung dari Ummu Hani, Rasulullah SAW tidak merasa kecewa sediktpun, bahkan beliau memujinya dengan berkata “sesungguhnya, sebaik-baik perempuan ialah yang menunggangi unta, yaitu perempuan suku Quraisy: Ia yang sangat lemah lembut terhadap anak-anak dimasa kecilnya dan ia yang pandai menjaga harta suaminya”.

Wallahu A’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here